Jika Prabowo Presiden, Fahri Usulkan Kritikus Negara Dipelihara

Oleh: Riyan Setiawan - 13 Maret 2019
Jika Prabowo menjadi presiden saat Pilpres 2019, Fahri Hamzah menyarankan pemerintah dan negara untuk memelihara kritikus seperti Ratna Sarumpaet.
tirto.id - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Fahri Hamzah merasa prihatin jika aktivis Ratna Sarumpaet yang sudah berusia sepuh harus mendekam di dalam penjara. Bahkan, dirinya pun bersedia mengajukan diri sebagai penjamin Ratna.

Fahri menyarankan kepada pemerintah, seharusnya kritikus seperti Ratna dipelihara oleh negara.

Ia menuturkan, jika nanti calon presiden (capres) nomor urut 02, Prabowo Subianto terpilih menjadi presiden 2019-2024, dirinya akan mengusulkan agar kritikus negara dipelihara oleh pemerintah.

"Nanti kalau Pak Prabowo jadi presiden, saya usulkan kritikus pemerintah itu harus dipelihara. Biarin orang ngomong begitu, karena orang ngomong kritik pemerintah itu bagus. Ini orang tua ditahan, come on!" ujarnya saat di Kompleks DPR RI Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (13/3/2019).

Ia juga menganggap Presiden Joko Widodo (Jokowi) keterlaluan, lantaran membiarkan perempuan sepuh seperti Ratna harus mendekam di dalam penjara.

"Jadi tolonglah ini, bangsa ini peradabannya jangan jatuh bangun gini dong Ya Allah. Terlalu nih Pak Jokowi, keterlaluan ini, masa begini, peradaban kita sekarang udah jatuh banget nih, masa sikapnya kepada orang tua kayak Bu Ratna aja nggak bener, gitu loh," jelas dia.

Kemudian Fahri juga khawatir, jika Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) mengetahui ada wanita sepuh mendekam di dalam penjara, Indonesia akan diblacklist sebagai negara HAM.

"Masa 8 x 10 meter [Luas sel] ada orang 114, dan orang tua nggak pakai baju itu [Dalam sel]. Setiap detik ada orang kentut, ada orang batuk di situ, keterlaluan tuh," kata Fahri.

"Udah berhenti lah ya ini negara-negara beradab masa begini jadinya ya," pungkasnya.


Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Politik)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno