Periksa Data

Jet Pribadi: Segelintir Orang, Banyak Polusi

Penulis: Irma Garnesia, tirto.id - 16 Des 2022 13:01 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Orang-orang kaya menggunakan jet pribadi untuk penerbangan jarak pendek. Bagaimana dampaknya bagi lingkungan?
tirto.id - Sepanjang perhelatan pernikahan putra bungsu Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep dengan Erina Gudono, pada 8 hingga 11 Desember 2022 di Yogyakarta dan Solo, dilaporkan lalu-lintas atau trafik pesawat jet pribadi (private jet) yang mendarat dan terbang di Bandara Adi Soemarmo Solo mencapai 40 unit lebih.

Hal ini disampaikan General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Adi Soemarmo Solo Yani Ajat Hermawan.

“Kalau dari Rabu (7 Desember) sampai Jumat (9 Desember) ini sudah ada sekitar 40-an traffic private penerbangan di Bandara Adi Soemarmo,” ujar Yani pada 9 Desember, menukil Tempo.


Menurut Yani, jumlah itu akan terus bertambah hingga rangkaian acara berakhir pada 12 Desember 2022. Totalnya diperkirakan hingga 48 trafik jet pribadi.

Pesawat pribadi ini tidak ada yang menginap di Bandara Adi Soemarmo. Sebab waktu mereka berada di bandara tersebut dibatasi dari 5 hingga 7 jam saja. Salah satu tamu yang datang menggunakan jet pribadi itu adalah pasangan selebritas Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Pasangan ini juga memboyong artis lainnya seperti Desta dan Irfan Hakim dengan jet pribadi.

Raffi dan Nagita datang dengan jet pribadi beregistrasi PK-ELJ. Mengutip Detik Oto, pesawat tersebut merupakan Hawker Beechcraft 400 XP yang bisa menampung 2 kru dan 8 penumpang. Hawker 400XP merupakan pesawat jet dengan kabin kecil yang diproduksi oleh Textron Beechcraft di Wichita, Kansas, Amerika Serikat.

Penggunaan jet pribadi di perhelatan Kaesang-Erina kembali memunculkan diskusi terkait jejak karbon yang signifikan dari jet pribadi. Salah satu komentar yang menjadi viral di platform Twitter adalah sebuah cuitan dari @ZakkiAmali terkait isu ini pada 11 Desember 2022.

Ia menyatakan bahwa dengan pendeknya salah satu perjalanan jet pribadi ini, yakni dari Yogya ke Solo, tempat pesta pernikahan diadakan, mengonfirmasi bahwa "orang kaya sebagai penyumbang emisi tertinggi."

Lantas, bagaimana sebetulnya jejak karbon dari penggunaan jet pribadi?

Jet Pribadi Yang Menuai Kritik


Penggunaan jet pribadi telah banyak menuai kritik secara global. Tidak hanya pada perhelatan pernikahan putra bungsu Presiden, tapi juga pada gelaran konferensi terkait iklim yang diselenggarakan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) atau COP26 di Glasgow, Skotlandia yang diadakan pada 31 Oktober hingga 13 November, serta KTT G20 di Denpasar, Bali pada 9-15 November ini. Kritik semakin banyak ditujukan pada gelaran-gelaran tersebut mengingat fokus dari kegiatannya adalah diskusi terkait krisis iklim dan promosi energi hijau.

Menukil dari laporan BBC, pada COP26 misalnya, para pemimpin dunia terbang ke Bandara Prestwick di Skotlandia menggunakan jet pribadi. Lalu, bukan hanya pesawat jet yang mengangkut para pemimpin itu, tapi juga pesawat kargo yang membawa helikopter dan kendaraan untuk iring-iringan mobil. Presiden Biden misalnya, membawa salah satu kendaraan lapis baja yang dikenal sebagai The Beast.

Flightradar, seperti dilaporkan BBC, yang menelusuri lalu lintas udara sejak 27 Oktober, menemukan sekitar 182 penerbangan non-komersial ke ke bandara Glasgow, Prestwick, dan Edinburgh selama gelaran COP26. Jumlah itu tidak termasuk perjalanan kargo, regular, atau perjalanan lokal. Jumlah ini juga disebut dua kali lipat dari total penerbangan nonkomersial enam hari sebelumnya.

Perusahaan analis di bidang aviasi, Cirium, menyatakan juga pada BBC, bahwa ada 76 penerbangan yang menggunakan jet pribadi atau penerbangan VIP, yang tiba di Glasgow maupun area sekitar Glasgow, pada empat hari sebelum tanggal 1 November.

Jet pribadi juga diketahui terbang dari Bandara Glasgow di Paisley ke Bandara Glasgow Prestwick di Prestwick dengan jarak tempuh cukup rendah, yakni 41 kilometer.

Serupa, lalu lintas jet pribadi di KTT G20 melalui pantauan dari situs Flight Aware, diketahui sebanyak 110 unit yang lalu lalang dan mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, menukil dari DataIndonesia.id.

Lantas, mengapa penggunaan jet pribadi yang cukup banyak di perhelatan-perhelatan besar dianggap bermasalah?

Menurut laporan dari The European Federation for Transport and Environment atau biasa dikenal dengan Transport & Environment berjudul “Private Jets: Can The Super Rich Supercharge Zero-Emission Aviation?” pada 2021, penerbangan udara saja sudah menjadi moda transportasi yang paling intensif karbon, karena CO2 dan efek non-CO2 yang dihasilkannya.

Laporan ini menyatakan bahwa jet pribadi memiliki efek tidak proporsional terhadap lingkungan. Dalam satu jam saja, satu jet pribadi dapat mengeluarkan dua ton CO2. Sementara rata-rata orang di Uni Eropa misalnya hanya mengeluarkan 8,2 ton ekuivalen CO2 (tCO2eq) dalam satu tahun penuh.

Perlu diketahui juga bahwa laporan ini menekankan bahwa pemakai jet pribadi ini adalah sekelompok kecil orang super kaya, 1 persen dari populasi dunia. Menurut laporan, 1 persen proporsi orang ini, dengan berbagai jenis moda transportasi udara, telah menghasilkan 50 persen emisi global. Penekanan juga diberikan pada orang-orang super kaya yang menggunakan jet pribadi untuk jarak yang sangat pendek, atau kurang dari 500 kilometer.

Industri ini pun terus berkembang. Menurut Transport & Environment, perusahaan riset pasar Research and Markets memprediksi pertumbuhan 50 persen dari pasar jet pribadi di antara tahun 2020 hingga 2030. Pertumbuhan ini didasari oleh kemewahan yang ditawarkan jet pribadi ini.

Namun, bagaimanapun juga, emisi yang dikeluarkan jet pribadi bervariasi, tergantung pada ukuran, jumlah penumpang yang dapat diangkut, dan efisiensi. Jet pribadi umumnya menghasilkan emisi yang jauh lebih banyak per penumpang dibanding penerbangan komersial.

Hal ini juga senada dengan penjelasan Zaki Amali, peneliti lingkungan dari Trend Asia, yang menulis cuitan yang viral soal jet pribadi di Twitter, kepada Tim Riset Tirto.

Zaki mengungkapkan bahwa emisi pesawat dihitung per penumpang, yakni dari jumlah bahan bakar yang dihabiskan dibagi dengan jumlah penumpang. Maka, semakin banyak penumpang, semakin sedikit emisi yang ditanggung tiap penumpang.

Begitu sebaliknya, semakin sedikit penumpang, maka emisi yang ditanggung akan semakin banyak. Inilah mengapa emisi jet pribadi lebih besar dari pesawat komersial.

Zaki juga mengestimasikan emisi yang dihasilkan dari jet pribadi yang disewa Raffi dan Nagita.

“Dalam kasus Raffi Ahmad, mereka melakukan perjalanan pulang pergi jet pribadi dengan pesawat teregister PK-ELJ, jenis pesawat Hawker Beechcraft 400XP kapasitas 6 orang dari Pondok Cabe (Tangerang Selatan)-Jogla-Solo dan kembali lagi Jogja-Solo-Halim. Itu setidaknya emisinya sangat besar yang ditanggung masing-masing penumpang,” jelas Zaki melalui teks pada Rabu, 14 Desember.

Menurut hitungan Zaki, waktu tempuh jet pribadi Raffi dari Pondok Cabe ke Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta pada 10 Desember sekitar pukul 10.10 hingga 10.59 WIB (49 menit), kemudian pada 11 Desember dari Yogyakarta ke Surakarta pada pukul 08.46-09.04 WIB (18 menit), lalu pada 11 Desember dari Surakarta ke Yogyakarta pada pukul 12.19-12.41 WIB (22 menit), dan 11 Desember dari Yogyakarta ke Halim Perdanakusuma dari pukul 13.55-14.40 WIB (45 menit).

Zaki menyimpulkan total perjalanan 134 menit atau sekitar 2 jam 14 menit. Maka jumlah emisi berupa karbon dioksida perjalanan Raffi Ahmad dan rombongan sekitar 4 metrik ton atau 4.000 kg CO2.

“Ini tentu jauh lebih besar dari emisi yang dihasilkan dari penumpang pesawat komersial, sebab emisi yang ditanggung lebih sedikit dengan jumlah penumpang yang banyak,” pungkasnya.

Menukil dari laporan Transport & Environment juga, jet pribadi menghasilkan polusi per penumpang yang jumlahnya 5 hingga 14 kali lipat pesawat komersial. Meski data industri menunjukkan pesawat yang relatif efisien seperti Pilatus PC-12 bisa jadi pengecualian, namun pesawat jet pada umumnya tetap berpolusi tinggi.

Laporan Transport & Environment juga menyebut perbandingan emisi CO2 yang dihasilkan jet pribadi dengan pesawat komersial. Pesawat Cessna Citation Excel misalnya, memiliki tingkat polusi 12 kali lebih tinggi dari pesawat komersial Boeing 737-700, diikuti dengan Dassault Falcon 2000 yang 11 kali lebih tinggi dari Boeing 737-700.

Sementara itu, laporan Transport & Environment juga menunjukkan perbandingan bagaimana emisi yang dihasilkan jet pribadi jika dibandingkan dengan moda transportasi lainnya. Berdasarkan visual, terlihat bahwa jet pribadi menghasilkan CO2 sebanyak 1.300 gr per penumpang per kilometer. Sementara moda transportasi lainnya hanya menghasilkan 128, 60, hingga kereta biasa di Uni Eropa yang menghabiskan hanya 25 gr CO2 per penumpang per kilometer.

Secara umum, jumlah polusi per penumpang yang dihasilkan oleh jet pribadi jumlahnya 50 kali lipat polusi kereta.

Sayangnya sejauh ini tidak ada aturan untuk transportasi menggunakan jet pribadi. Misalnya, Pengamat Penerbangan Alvin Lie melalui Kompas mengatakan bahwa tidak ada batasan rute terpendek yang mengatur soal penerbangan pesawat jet pribadi.

“Tidak ada batasan (rute penerbangan). Bahkan untuk terbang putar-putar kota kemudian mendarat lagi juga boleh. Suka-suka pemilik/penyewa. Yang pasti segala biaya ditanggung sendiri," katanya pada Kompas (13/12/2022).

Usaha Penekanan Penggunaan Jet Pribadi

Sejauh ini, belum ada indikasi adanya inisiatif untuk menerapkan pajak yang lebih tinggi bagi pengguna jet pribadi. Laporan Transport & Environment menyebut bahwa kebanyakan jet pribadi tak dikenai pajak di banyak negara Eropa. Jet pribadi dikecualikan dari Sistem Perdagangan Emisi Uni Eropa (EU ETS). Tak ada pajak juga untuk kerosin, bahkan untuk penerbangan domestik. Hanya Swiss yang baru-baru ini menerapkan pajak pada penerbangan semacam itu.

Karena itu, lembaga Transport & Environment merekomendasikan perlunya pajak lebih bagi orang-orang yang menggunakan jet pribadi untuk penerbangan jarak pendek di bawah 500 km. Kalkulasi pajak bisa disesuaikan dengan jarak penerbangan, bahan bakar fosil yang digunakan, dan berat pesawat.

Lembaga ini juga merekomendasikan bahwa pada tahun 2030, regulator harusnya mewajibkan penggunaan jet pribadi dengan bahan bakar hidrogen atau listrik untuk penerbangan di bawah 1.000 km di dalam area Eropa.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty

DarkLight