28 Desember 1956

Jejak Haji Samanhudi dalam Sejarah Pergerakan & Kemerdekaan RI

H. Samanhudi. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Iswara N Raditya - 28 Desember 2019
Dibaca Normal 3 menit
Haji Samanhudi turut berperan dalam sejarah pergerakan nasional dan masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI.
Kongres Sarekat Islam (SI) di Yogyakarta pada 18-20 April 1914 itu seolah menjadi ajang penghakiman bagi Haji Samanhudi. Banyak pihak berupaya menggulingkan Samanhudi dari kursi Ketua Umum SI yang dijabatnya sejak kongres pertama di Surakarta setahun lalu.

Sebenarnya, Samanhudi masih berhasrat terus memimpin SI dan berharap terpilih kembali di kongres kedua. Juragan batik asal Solo ini menganggap bahwa dirinyalah yang melahirkan dan membesarkan SI.

“Harus diingat juga, apa sebabnya anggota SI senantiasa bertambah. Saya terlalu mencintai SI, sebab sayalah yang membuat SI,” kata Samanhudi, dikutip dari Cahaya di Kegelapan: Capita Selecta Kedua Boedi Oetomo dan Sarekat Islam Pertumbuhannya dalam Dokumen Asli (1981) yang disusun Pitut Soeharto dan Zainoel Ihsan.

Namun, sebagian besar peserta kongres menganggap Samanhudi tidak cukup layak melanjutkan kendali kepemimpinan SI lantaran kurang cakap. Di sisi lain, ada sosok muda yang dinilai lebih cerdas dan visioner. Orang itu adalah Ketua SI cabang Surabaya, Tjokroaminoto.

“Apakah sebabnya kalau tuan Samanhudi memang sungguh cinta kepada SI, mengapa tiada suka menyerahkan kepada orang-orang yang pandai-pandai supaya SI itu dapat hidup patut?” tukas Dwijosewojo, salah seorang peserta kongres.


Penilaian lebih lugas disampaikan oleh D.A. Rinkes, Penasihat Urusan Bumiputera Pemerintah Hindia Belanda kala itu. “Samanhudi tidak memenuhi semua persyaratan menjadi pemimpin yang baik karena ia praktis tidak terdidik, baik menurut Islam maupun ukuran modern.”

“Berpikiran sempit tentang segala hal di luar lingkungan sehari-harinya, sama sekali tidak memiliki kemampuan berbicara di depan umum, tanpa sopan santun, keras kepala, dan bertindak semaunya sendiri,” beber Rinkes tentang sosok Samanhudi.

Samanhudi pada akhirnya benar-benar turun panggung dari kancah politik dan memilih fokus berjualan batik. Kendati begitu, ia diberkahi umur panjang dan turut menikmati alam kemerdekaan hingga wafat tanggal 28 Desember 1956 dalam usia 88 tahun.

Samanhudi & Pergerakan Nasional

Nama lahir Samanhudi adalah Wirjowikoro, nantinya juga sempat dikenal dengan nama Sudarno Hadi. Ia memakai nama Samanhudi setelah menunaikan ibadah haji. Dikutip dari buku berjudul Haji Samanhudi (1983) karangan Mulyono, Wirjowikoro dilahirkan di Laweyan, Solo, tanggal 8 Oktober 1868.

Ayah Samanhudi adalah seorang pengusaha kain batik. Dalam buku Bangkitnya Kelas Menengah Santri Modernisasi Pesantren di Indonesia (2018) karya Savran Billahi dan Idris Thaha diungkapkan bahwa Samanhudi pernah memperdalam ajaran agama Islam di beberapa pondok pesantren yang ada di Jawa bagian barat dan tengah.

Setelah pulang ke Surakarta, Samanhudi melanjutkan bisnis keluarganya dan cukup sukses. Ia kemudian dikenal sebagai saudagar berpengaruh di Laweyan yang memang merupakan salah satu daerah sentra batik di Solo.

Pada 1911, Samanhudi mendirikan perkumpulan pedagang batik sekaligus laskar keamanan bernama Rekso Rumekso untuk menghadapi persaingan dengan kaum Tionghoa. Namun, perkumpulan ini terancam dibubarkan pemerintah kolonial karena belum mengantongi izin dan beberapa kali terlibat bentrokan.

Demi memperoleh status hukum, sebut Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (2005), Rekso Rumekso beralih rupa menjadi Sarekat Dagang Islam (SDI) cabang Surakarta, menginduk kepada SDI pusat pimpinan Tirto Adhi Soerjo yang telah berdiri sejak 1909 di Bogor.


SDI cabang Surakarta pada akhirnya berganti nama menjadi Sarekat Islam (SI) pada 1912 atas saran Tjokroaminoto, seorang pemuda asal Surabaya yang direkrut Samanhudi setelah putus kontak dengan Tirto Adhi Soerjo yang terjerat perkara pers delik yang membuatnya diasingkan ke Maluku.

Kepada Samanhudi, Tjokroaminoto menjelaskan bahwa kata “dagang” sangat membatasi ruang gerak organisasi. Dengan nama SI, lanjutnya, perhimpunan ini dapat mengembangkan sayapnya ke seluruh wilayah Hindia (Indonesia) dan tidak hanya bergerak di bidang ekonomi, melainkan juga di sektor politik.

SI pun resmi berdiri dan segera punya banyak cabang di seantero Jawa sepanjang perjalanan tahun 1912. Tanggal 23 Maret 1913, SI menggelar kongres pertamanya di Solo. Samanhudi terpilih sebagai ketua umum, sedangkan Tjokroaminoto selaku wakil ketua.

Namun, di Kongres SI berikutnya setahun berselang, Samanhudi justru disingkirkan oleh Tjokroaminoto.

Kongres Kedua SI yang dihelat di Yogyakarta pada 18-20 April 1914 menetapkan Tjokroaminoto sebagai Ketua Umum SI yang baru. Sedangkan Samanhudi didudukkan sebagai ketua kehormatan, jabatan “terhormat” tapi sama sekali tidak memiliki kewenangan apapun.

Hal ini menyebabkan pengaruh Samanhudi di SI semakin meluruh. Kantor Centraal Sarekat Islam (CSI) yang semula bertempat di Surakarta pun langsung dipindahkan ke Surabaya oleh rezim Tjokroaminoto.



Bangkitnya Sang Pejuang Tua

Ketika SI sedang jaya-jayanya di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto bahkan sempat menjadi perhimpunan rakyat terbesar di Hindia (Indonesia), Samanhudi menyepi dari hingar-bingar politik tanah air. Ia memilih kembali menjalani usaha dagangnya, kendati masih tercatat sebagai anggota SI.

Dalam Ensiklopedia Pahlawan Nasional (2007) disebutkan, Samanhudi memutuskan benar-benar berhenti dari kancah politik sejak tahun 1920 dengan alasan kesehatan. Sejak itu, pamor Haji Samanhudi seolah lenyap ditelan bumi.

Nama Haji Samanhudi tiba-tiba muncul lagi setelah Indonesia merdeka. Dikutip dari Jejak-jejak Pahlawan: Perekat Kesatuan Bangsa Indonesia (2007) yang ditulis J.B. Sudarmanto, pada masa perang mempertahankan kemerdekaan (1945-1949), Samanhudi membentuk Barisan Pemberontak Indonesia cabang Solo dan Gerakan Persatuan Pancasila.

Sang saudagar batik kaya-raya ini juga menyediakan cadangan logistik dan menggelar dapur umum bagi para pejuang yang tengah berjuang mengawal kemerdekaan dari ambisi Belanda yang ingin kembali menguasai Indonesia.

Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948 di Yogyakarta, kota RI kala itu, dan berdampak sampai ke kota-kota lain di sekitarnya, termasuk Surakarta, Haji Samanhudi turut tampil dengan membentuk Gerakan Kesatuan Alap-alap.


Daya juang Samanhudi di usia senjanya ini membuat Presiden Sukarno terkesan sehingga memberikan penghargaan berupa sebuah rumah di Laweyan. Rumah pemberian Bung Karno itu kemudian ditinggali oleh keturunan Samanhudi dan kini dijadikan sebagai museum.

Haji Samanhudi terbilang lama melewati masa demi masa dengan segala dinamika kehidupannya, termasuk pasang-surut kiprahnya di ranah politik pergerakan hingga pasca-kemerdekaan RI. Pada 28 Desember 1956, tepat hari ini 63 tahun lalu, ia mengembuskan napas penghabisan dalam usia 88.

Tahun 1961, Presiden Sukarno atas nama pemerintah RI menetapkan Haji Samanhudi sebagai pahlawan nasional.

Haji Samanhudi dianggap sebagai tokoh yang mengawali hadirnya SI dari Surakarta sebelum menjadi perhimpunan besar yang berpengaruh di era pergerakan nasional, juga atas perannya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight