Jatuhnya Stasiun Luar Angkasa Cina Tiangong-1 Tak Bahayakan Bumi

Oleh: Maya Saputri - 13 Maret 2018
Dibaca Normal 1 menit
Stasiun luar angkasa milik Cina, Tiangong-1, yang diperkirakan jatuh ke bumi pada akhir Maret hingga pertengahan April ini, menurut ilmuwan, tidak akan membahayakan bumi.
tirto.id - Jatuhnya stasiun luar angkasa milik Cina, Tiangong-1, diperkirakan sejumlah ilmuwan tidak mengakibatkan kerusakan pada bumi dan tidak mengancam kelangsungan hidup penghuninya.

Saat ini stasiun luar angkasa pertama tanpa awak milik Cina itu dalam kondisi stabil di orbitnya dan diperkirakan saat menyentuh bumi nanti tidak akan mengakibatkan kerusakan, demikian pernyataan lembaga luar angkasa dan para ilmuwan setempat, seperti dilansir sejumlah media resmi setempat, Selasa (13/3/2018).

Pimpinan Teknis Lembaga Ilmu Pengetahuan Luar Angkasa dan Teknologi China (CASTC) Zhu Congpeng memperkirakan stasiun luar angkasa itu akan menyentuh atmosfer pada semester pertama tahun ini.

Menurut Zhu, dikutip dari Global Times, setelah sudah tidak lagi mengirimkan data kembali ke bumi pada Maret 2016, maka Tiangong-1 secara resmi telah berhenti menjalankan misinya.


Cina terus memantau kondisi Tiangong-1 yang diluncurkan pada 29 September 2011 itu. Stasiun luar angkasa itu akan terbakar habis saat memasuki lapisan udara yang menyelubungi bumi atau atmosfer.

"Serpihan benda antariksa nirawak tersebut akan jatuh ke area yang sudah ditentukan, yakni lautan, tanpa memberikan ancaman sedikit pun terhadap bumi," ujar Zhu.

Sejumlah lembaga luar angkasa dari seluruh dunia mengemukakan perkiraan mengenai waktu jatuhnya Tiangong-1 ini.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari teknisi Lembaga Nirawak Luar Angkasa setempat menyebutkan bahwa pada 4-11 Maret 2018, Tiangong-1 dalam kondisi stabil di orbitnya dengan ketinggian rata-rata 244,5 kilometer.

Dilansir dari The Guardian, rentang orbit stasiun luar angkasa itu berada pada kisaran 43 derajat lintang utara hingga 43 derajat lintang selatan.

Hal itu berarti orbitnya membentang luas di atas kawasan Amerika Utara, Amerika Selatan, Cina, Timur Tengah, Afrika, Australia, sebagian Eropa, Samudra Pasifik, dan Samudra Atlantik.

Menurut prediksi Aerospace Corporation, yang didanai AS, Tiangong-1 akan mulai menyentuh atmosfer pada minggu pertama April atau sekitar satu minggu. Sedangkan menurut Lembaga Luar Angkasa Eropa, stasiun luar angka yang juga dijuluki "Heavenly Palace 1" itu akan turun ke permukaan bumi antara 24 Maret hingga 19 April ini.


Pakar luar angkasa, Pang Zhihao, mengemukakan bahwa sesuai tradisi yang berlaku secara internasional biasanya bekas pesawat luar angkasa yang berada di orbit dekat bumi dibiarkan jatuh hingga dasar lautan di Samudra Pasifik yang jauh dari wilayah daratan.

Dasar lautan yang disebut sebagai kuburan pesawat luar angkasa itu juga sebelumnya menjadi "tempat peristirahatan terakhir" bagi stasiun luar angkasa MIR dan program luar angkasa Rusia serta Observatorium Compton Gamma Ray milik Amerika Serikat, menurut Pang sebagaimana dikutip Global Times.

Sedangkan menurut Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan bahwa Tiangong-1 akan mencapai bumi dalam beberapa minggu ke depan, sebagaimana dikutip dari Antara.

Namun Lapan tak bisa memastikan kapan waktu persis dan lokasi tepat serpihan stasiun luar angkasa berbobot 8,5 ton jatuh. Sehingga hingga sekarang Lapan belum bisa memberikan penjelasan kepada publik.


Kepala Lapan Thomas Djamaluddin meminta media dan pengamat agar tidak berandai-andai yang justru berpotensi meresahkan masyarakat, apalagi jatuhnya pesawat atau stasiun luar angkasa telah beberapa kali terjadi sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

Kalaupun nanti di wilayah Indonesia, dia memperkirakan lokasi jatuhnya Tiangong-1 di kawasan tidak berpenghuni karena wilayah permukiman Indonesia jauh lebih kecil daripada luas lautan, hutan, dan gurun.

Baca juga artikel terkait STASIUN LUAR ANGKASA atau tulisan menarik lainnya Maya Saputri
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Maya Saputri
Penulis: Maya Saputri
Editor: Maya Saputri