Jatuh Bangun Ponsel Microsoft dari Nokia Hingga Surface Duo

Microsoft Surface Duo ditampilkan di New York, 12 Agustus 2020, AP / Mark Lennihan
Oleh: Ahmad Zaenudin - 4 September 2020
Dibaca Normal 7 menit
Windows dipakai di mana-mana, namun Microsoft selalu gagal menciptakan produk "keren".
Lahir pada 1828 dalam keluarga yang sangat peduli pendidikan, Knut Fredrik Idestam pergi menimba ilmu di Universitas Helsinki University. Selama berkuliah, tulis Dan Steinbock dalam The Nokia Revolution: The Story of an Extraordinary Company That Transformed an Industry (2001) Idestam berteman dengan Leon Mechelin, aktivis kampus yang teguh memperjuangkan kemerdekaan Finlandia hingga peristiwa Pemogokan Agung (The Great Strike of 1905) datang ke negerinya.

Pemogokan Agung adalah dampak Revolusi Rusia di tahun yang sama. Aktivitas politik Mechelin kelak menuntunnya menjadi seorang senator.

Namun, meskipun berteman dengan aktivis kampus, Idestam punya minat berbeda. Seperti ayahnya, Idestam lebih tertarik pada dunia teknik alih-alih politik. Bahkan, pada 1863, tatkala perkuliahan sedang rehat, Idestam melancong ke Jerman, tepatnya ke Magdesprung. Ia datang ke sana bukan untuk bersantai-santai melainkan mengunjungi sebuah pabrik, melihat proses transformasi pulp (bubur kertas) menjadi kertas utuh--sebuah mekanisme produksi karya teknisi Jerman bernama Friedrich G. Keller dan Heinrich Volter.

Di pabrik itu, tulis Steinbock, “Idestam yakin dapat menciptakan proses serupa di Finlandia".

Keyakinan Idestam terbukti. Dua tahun semenjak kunjungannya ke Jerman, Idestam mendirikan Nokia, perusahaan pengolah hasil hutan. Nokia memproduksi bubur kayu, kertas, korek api, selulosa, hingga kayu lapis. Karena Finlandia pada akhir 1860-an sangat membutuhkan produk olahan hutan, Nokia kebanjiran order. Namun, sebagai perusahaan baru, Idestam kekurangan modal. Maka, agar dapat mengejar permintaan yang tinggi, Idestam berusaha meminjam modal. Di titik inilah Mechelin datang membantu.

Kejelian Idestam, sekaligus modal kapital yang disediakan Mechelin, berbuah kesuksesan. Antara 1895 hingga 1913, Nokia mengolah hasil hutan sebanyak 2,9 ton hingga 7,3 ton. Pendapatannya, meningkat dari 1,2 juta FIM (Finnish markka--mata uang Finlandia kala itu) hingga 3,6 juta FIM. Nokia, singkat kata, bukan hanya sukses mengamankan pasar produk-produk olah hutan di Finlandia, tetapi juga mancanegara. Pada awal 1900-an itu pula, Nokia tak hanya berbisnis produk hutan, tetapi juga merambah ke bidang teknologi: kabel telekomunikasi.

Tahun berganti, Nokia merambah ke sektor elektronik dan pada 1910-anbersinergi dengan Finnish Ropery Works, sebuah startup khusus produksi kabel yang didirikan oleh Arvid Konstantin Wikström.

Nokia, yang awalnya bermarkas di pinggiran kota, hijrah ke Helsinki, ibukota Finlandia dan semakin berkembang. Akhirnya, di awal dekade 1990-an, Nokia masuk ke bisnis yang membuat namanya terkenal: ponsel.

Jorma Ollila, mantan CEO sekaligus chairman Nokia, dalam memoarnya berjudul Against All Odds: Leading Nokia from Near Catastrophe to Global Success (2016) menyebut kisah sukses Nokia--sebagai perusahaan yang “menghubungkan orang” di seluruh dunia dengan ponsel--bermula di akhir tahun 1991. Kala itu, Nokia memperkenalkan 101 sebagai perlawanan terhadap perusahaan-perusahaan Jepang dan Amerika Serikat khususnya Motorola yang sudah jauh melangkah di dunia ponsel.

Nokia 101 merupakan ponsel analog, menggunakan protokol komunikasi terbaru bernama GSM, Global System for Mobile Communications. GSM memungkinkan Nokia memanfaatkan jaringan telekomunikasi dari provider seluler (hampir) di mana pun di penjuru dunia. Karena mengusung GSM, menurut Ollila, “Nokia memiliki akses cepat masuk ke pasar AS, Eropa, hingga Asia”. Tak heran, 101 laris.

Dari 101, Nokia merilis seri-seri berikutnya, dengan yang paling terkenal adalah Nokia 3310--ponsel yang “dipercaya” dapat menghasilkan ledakan lebih dahsyat dibandingkan nuklir jika dijatuhkan. Dari 101, alias feature phone alias ponsel bodoh itu, Nokia merilis ponsel “sedikit lebih pintar” dengan sistem operasi Symbian hingga MeeGo.

Sial, ketika Nokia sedang jaya-jayanya, seorang pria penggemar kaos turtleneck hitam, celana jeans biru, dan sneaker putih, mengguncang dunia ponsel dengan iPhone pada 2007. Pria itu kemudian diketahui bernama Steve Jobs. Tak sampai setahun sejak diluncurkan, terlebih setelah Apple menghadirkan App Store, iPhone naik daun. Tak lama kemudian, dunia ponsel kembali terguncang setelah pria lain di AS bernama Andy Rubin memperkenalkan Android.


Nokia dalam masalah. Maka, pada 2010, eksekutif bernama Stephen Elop ditunjuk menjadi CEO baru Nokia menggantikan Ollila. Risto Siilasmaa, dalam buku berjudul Transforming Nokia: The Power of Paranoid Optimism to Lead Through Colossal Change (2018) menyatakan bahwa Elop meminta Nokia berbenah dan segera memproduksi ponsel yang dapat menjawab tantangan yang iPhone dan Android. Sialnya, Nokia tidak tahu cara menjawab tantangan iPhone dan Android itu. Feature phone tidak bisa diharapkan melawan smartphone, Symbian telah uzur, dan MeeGo, sistem operasi yang dikembangkan bersama Intel, belum sempurna.

Elop, sebut Siilasmaa, akhirnya diam-diam meluncurkan “Plan B" yang hanya memiliki dua ujung: bergabung bersama Google untuk ikut mengembangkan ponsel Android atau mengadopsi sistem operasi non-Nokia yang tersisa: Windows Phone. Klaim Elop sendiri, Nokia terus-terusan menghubungi Google, meminta raksasa mesin pencari itu mau memberikan “keistimewaan” untuk Nokia, si raja ponsel, untuk turut mengembangkan Android.

Nahas, karena Android telah sukses--terutama setelah disokong Samsung-- Google ogah memberikan keistimewaan yang diminta. Tanpa keistimewaan, pikir Elop, Nokia akan jauh tertinggal, terutama karena Samsung telah lebih dulu mengembangkan Android. Jika ngotot mengadopsi Android, ponsel terbaru Nokia kemungkinan baru ada di tahun 2012 atau 2013. Maka, tentu saja, Nokia akhirnya berlabuh pada Microsoft. Keputusan ini ditentang seorang konsultan dari McKinsey yang disewa Nokia untuk melihat prospek mereka di masa depan. Menurut konsultan McKinsey itu, keputusan Nokia mengadopsi Windows Phone hanya menghasilkan dua skenario: jika sukses memperoleh setidaknya 30 persen pangsa pasar ponsel, Nokia selamat dan akan terus menjadi raja ponsel. Jika gagal, Nokia tamat.

Pada 2011, ponsel kerjasama Nokia-Microsoft bernama Nokia Lumia 800 lahir. Seperti yang diprediksi konsultan McKinsey, riwayat Nokia sebagai raja ponsel pun berakhir. Tahun berganti, Nokia menjual unit bisnis ponselnya kepada Microsoft. Prestasi kedua Elop saat menjadi CEO Macromedia: menjual perusahaan pencipta Flash kepada Adobe.

Menurut Siilasmaa, Nokia gagal mengalahkan iPhone dan Android karena ponsel-ponsel berbasis Windows dibanderol dengan harga yang terlalu tinggi. Padahal, basis utama kekuatan Nokia adalah India, Pakistan, China, Brasil, Indonesia, Nigeria, Mesir, dan Rusia, negara-negara yang penduduknya sangat sensitif terhadap harga. Di sisi lain, banyak perusahaan Cina memproduksi Android murah.

Tak ketinggalan, kegagalan utama Nokia lainnya adalah Microsoft.

Gali Lubang Tutup Lubang: Usaha Microsoft Menciptakan Ponsel

Jika dilihat dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya, ada perbedaan mendasar antara Microsoft-Google-Facebook dengan Apple. Microsoft-Google-Facebook merupakan perusahaan pencipta software, aplikasi, yang diterjemahkan melalui produk-produk seperti Windows, Office, Gmail, Android, dan Instagram. Di sisi lain, Apple merupakan perusahaan yang menciptakan produk utuh, software dan hardware. Ingat, Steve Wozniak, co-founder Apple, seorang diri menyolder dan hampir menulis keseluruhan kode firmware Apple 1, produk pertama Apple.

Dengan perbedaan yang mendasar itu, mudah bagi Apple melahirkan iPhone, ponsel utuh gabungan hardware dan iOS ciptaan Apple sendiri. Di sisi lain, Microsoft-Google-Facebook, dalam sejarahnya, selalu kesulitan ketika hendak menciptakan produk utuh, khususnya soal menciptakan ponsel. Meskipun berstatus sebagai pemilik Android, Google tak dapat menancapkan Pixel sebagai raja ponsel dan kalah bersaing dari ponsel-ponsel ciptaan Samsung, Huawei, bahkan Xiaomi. Nasih serupa menimpa Facebook yang bekerjasama dengan HTC. Ponsel Facebook Phone alias HTC One gagal total di pasaran.

Microsoft sebetulnya memiliki akhir kisah serupa dengan Google dan Facebook dalam hal ponsel. Namun, yang menarik, Microsoft terlihat tak pernah putus asa.

Usaha Microsoft menguasai dunia ponsel sebetulnya berlangsung dengan cara yang sama mereka menguasai dunia komputer: lisensi. Dengan sistem lisensi, Microsoft berdiri di atas kekuatan utamanya, menciptakan software, dan mendelegasikan penciptaan hardware kepada rekan-rekannya. Pada 2002, misalnya, jauh sebelum iPhone dan Android, Dell merilis Dell Axim, sebuah personal digital assistant (PDA) yang menggunakan Windows Mobile, forked version dari Windows, sistem operasi komputer Microsoft.

Brian X. Chen, jurnalis teknologi The New York Times, menyatakan bahwa strategi Microsoft menguasai dunia ponsel dengan cara melisensikan Windows Mobile di awal-awal kemunculannya sebenarnya berhasil. Di dunia PDA, Windows Mobile menguasai pangsa pasar yang cukup signifikan. Di AS pada 2007, tahun ketika iPhone diperkenalkan kepada dunia, Windows Mobile menguasai 60 persen pangsa pasar.

Sayangnya, PDA, bukan Windows Mobile-nya, mengusung konsep yang "aneh". PDA memang pas disebut sebagai smartphone, tetapi gagal membawa semangat smartphone ala iPhone atau Android. Sebagai ponsel PDA tidak ringkas. Jika disebut sebagai komputer pun PDA tidak bertenaga. Plus, PDA dinilai terlalu “serius”. Perangkat ini banyak digunakan eksekutif perusahaan menopang kerja, tidak ada unsur fun seperti yang dapat ditemukan dalam aplikasi-aplikasi hiburan ala iPhone dan Android. Ketika iPhone dan Android lahir, PDA dan Windows Mobile akhirnya ditinggalkan.

Gagal dengan Windows Mobile, Microsoft menciptakan Windows Phone. Di awal kemunculannya, Windows Phone tidak diperlakukan seperti Windows Mobile. Alih-alih melisensikan software-nya, Microsoft membuat hardware-nya sendiri, dan membenamkan Windows Phone pada Kin, ponsel yang mereka buat pada 2010 usai mengakuisisi Danger, Inc--perusahaan yang punya sejarah membuat ponsel, danger Hiptop.

Nahas, Kin gagal. Miguel Helft dari The New York Times melaporkan, Microsoft menghentikan penjualan Kin hanya 48 hari usai diluncurkan. Sebab, Kin, yang dibuat dan ditujukan untuk kalangan remaja, gagal menarik perhatian anak muda. Akhirnya, Kin dan Windows Phone dipetikemaskan, diganti dengan produk lain bernama Windows Phone 7.

Gagal menciptakan produk utuh, Microsoft akhirnya kembali kepada pakem awal mereka, lisensi. Windows Phone 7 hadir berbarengan dengan keputusasaan Nokia menghadapi iPhone dan Android. Sebagaimana ditulis di awal, usaha Microsoft untuk kembali menguasai dunia ponsel yang dibarengi dengan kebingungan Nokia ini pada akhirnya menghasilkan produk bernama Nokia Lumia 800 pada 2011.

Sayangnya, kembali ke buku yang ditulis Siilasmaa, Nokia Lumia versi awal berharga cukup mahal sehingga gagal menangkap kembali kekuatan utama Nokia di negara-negara berkembang. Selain itu, Windows Phone 7, tutur Siilasmaa, gagal “melokalkan” diri. Tatkala Android dan iPhone langsung menyajikan pilihan bahasa yang beragam, Windows Phone 7 hanya menyajikan bahasa Inggris. Kenyataan sederhana ini membuat Nokia Lumia tak dapat tempat di negara-negara yang penduduknya tidak berbahasa Inggris.

Yang paling menggelitik adalah fakta bahwa para pengembang (developer) aplikasi enggan menciptakan versi Windows Phone 7, meski akhirnya beberapa pengembang mau menghadirkan versi Windows Phone. WhatsApp, misalnya, baru muncul di Windows Phone di versi 7.5. Instagram baru muncul di tahun 2013, dua tahun setel Nokia Lumia 800 hadir. Sementara itu, dalam paparan Jean-Louis Gassée untuk Quartz, kegagalan Windows Phone 7 tak bisa dilepaskan dari strategi tradisional Microsoft sendiri, lisensi. Karena harus membayar, perusahaan-perusahaan pencipta ponsel tak tertarik dengan Windows Phone 7. Padahal, Android hadir secara cuma-cuma. Praktis, selain Nokia, hanya HTC, Samsung, Dell, LG, dan ZTE saja yang menggunakan Windows Phone 7.


Akibat kegagalan Microsoft mengelola Windows Phone, Nokia pun jadi korban. Nokia menjual unit bisnis ponsel (beserta paten-patennya) pada Microsoft senilai USD7,6 miliar. Sebagai pemilik, Microsoft lantas melanjutkan perjuangan Windows Phone seorang diri, membuang merek “Nokia” dan merilis Lumia 535 pada 2014.

Dunia perlahan meninggalkan feature phone, Microsoft pun menjual bisnis feature phone Nokia miliknya kepada HMD Global senilai USD350 juta. HMD Global melisensi merek “Nokia” pada pemilik aslinya, Nokia Oyj--Oyj merupakan istilah Finlandia untuk perusahaan publik, seperti Inc. di AS, Berhad di Malaysia, atau PT di Indonesia.

Meskipun akhirnya Microsoft memiliki Nokia, karena kelemahan-kelemahan Windows Phone gagal diperbaiki, Lumia gagal di pasaran. Pada 2017, Microsoft menutup kisah perjalanan Lumia. Sejak Microsoft tidak pernah melahirkan ponsel. Namun, pada 2020 ini, di tengah pandemi Corona, Microsoft justru menggebrak dengan merilis kembali ponsel.

Yang unik, ponsel baru itu tidak ditenagai Windows Phone atau sistem operasi buatan Microsoft, tetapi menggunakan Android. Hal unik lainnya, proses penciptaan ponsel tidak dilanjutkan oleh divisi yang mewarisi Nokia, tetapi oleh Surface, unit usaha Microsoft menciptakan laptop (atau tablet) “keren” pesaing Macbook. Maka, lahirlah Surface Duo.


Surface: Kala Program Menciptakan Pesaing Macbook Bergeser Menjadi Program Menciptakan Pesaing Galaxy

Dalam wawancaranya dengan Wired, Panos Panay, si bapak Surface, menyebut bahwa komputer ciptaannya itu sebagai “proyek mencipta-ulang laptop”. Proyek ini dijalankan dengan alasan, Microsoft gagal memperoleh kesan “keren” soal laptop. “Keren” bagi laptop, sebelum Surface hadir, jatuh pada tangan Macbook.

Mengapa Microsoft ingin menciptakan laptop “keren”? Tak lain, ini merupakan bagian dari perubahan yang dijanjikan Satya Nadella, CEO Microsoft setelah Steve Ballmer sejak 2014.

Kala itu, ketika hendak merilis Windows 10 pada 2015, Nadella berjanji hendak melakukan perubahan, tak hanya di lingkar dalam perusahaan, tetapi juga mengenai cara pandang masyarakat terhadap perusahaan yang didirikan Bill Gates dan Paul Allen itu. “Kami ingin beralih, mengubah pandangan orang-orang yang menggunakan Windows bukan hanya karena membutuhkannya, tetapi karena memilihnya. Nantinya, orang-orang menggunakan Windows karena ia mencintainya,” tegas Nadella ketika itu.

Niat Nadella mengubah Microsoft diimplementasikan melalui reorganisasi perusahaan. Misalnya, mengubah nama divisi “Windows and Device Group” menjadi “Experience & Device”, divisi yang membawahi Windows, Office, dan bintang baru dalam keluarga Microsoft: Surface.

Surface sebetulnya produk “lama” Microsoft. Ia tak lahir di zaman Nadella, melainkan ketika Steve Ballmer masih berkuasa. Kala itu, pada 2012, Surface lahir untuk memastikan Microsoft turut ambil bagian dalam bisnis tablet. Presiden Windows and Windows Live Division Steven Sinofsky melihat Google, Amazon, dan Apple sudah punya tablet duluan. Menurutnya, Google memanfaatkan tablet untuk mengumpulkan data, sementara Amazon merilis tablet untuk menggiring orang berbelanja, dan Apple membuat tablet sebagai kepanjangan dari iPhone. Microsoft harus sesegera mungkin menjawab tantangan pesaing-pesaingnya. Lalu lahirlah Surface.

Awalnya, Surface hadir dalam bentuk “ringan”. Surface RT, tablet pertama berlabel Surface, tidak memiliki tenaga layaknya laptop dan menggunakan Windows untuk versi prosesor ARM. Menurut Peter Bright yang mengulas tablet Surface RT untuk Ars Technica, tablet ini bahkan "tidak bisa menjalankan hampir semua aplikasi Windows yang pernah dibuat".

Panay kemudian berbenah. Microsoft akhirnya merilis Surface yang lebih bertenaga, lebih mendekati makna “keren”. Mereka meluncurkan Surface Book, Surface Pro, Surface Laptop, dan Surface Go. Belakangan, mereka kembali mengusung prosesor ARM, meluncurkan Surface Pro X. Dan akhirnya, Surface Duo pun lahir. Ponsel Android yang memiliki bentuk mirip Samsung Galaxy Fold.

Mengapa Duo tidak menggunakan Windows Phone? Well, “sistem operasi bukanlah sesuatu yang penting lagi bagi kami,” klaim Nadella. Panay sendiri, sebagaimana dikatakannya kepada The Verge, menyebut Android dipilih karena ekosistem sistem operasi ini telah sukses di dunia ponsel.

“Karena di Android ada ratusan ribu aplikasi dan orang-orang menginginkannya,” ucap Panay. “Di ponsel, segalanya tentang aplikasi (bukan sistem operasi),” tambahnya kemudian. Pengerjaan Surface Duo, sebut Panay, turut dibantu oleh Google. Maka ia pun mengklaim pengguna akan merasakan keunggulan Microsoft dan Google dari perangkat ini. Tapi, meskipun mengusung Android, Panay menegaskan bahwa Windows masih sangat penting bagi Microsoft. Hanya saja dunia ponsel memang jauh lebih cocok untuk Android, bukan Windows.

Sementara itu, menurut Nilay Patel, Pemimpin Redaksi The Verge, Microsoft bertujuan menghadirkan ponsel berbasis Android untuk menambal lubang kekalahan di dunia ponsel. Dengan Android, Microsoft dapat memaksa pengguna untuk tetap menggunakan produk Microsoft lainnya.

Microsoft memang gagal memenangkan Windows Phone, tetapi jangan lupa mereka memiliki Office (untuk mengalahkan Google Docs), Teams (untuk mengalahkan Slack), Edge (untuk mengalahkan Chrome), dan Bing (untuk mengalahkan Google). Produk-produk inilah yang dapat dimenangkan dengan bergabung bersama keluarga besar Android.

Baca juga artikel terkait MICROSOFT atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight