Menuju konten utama

Jangkauan Sastra Indonesia Diperluas Lewat Granada Book Fair

Partisipasi Jakarta City of Literature dalam festival ini merupakan bentuk dialog budaya lintas bangsa melalui sastra.

Jangkauan Sastra Indonesia Diperluas Lewat Granada Book Fair
Laura Prinsloo, perwakilan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya Bidang Sastra sekaligus Focal Point Jakarta City of Literature, saat menyampaikan pidato sambutan dalam pembukaan Granada Book Fair 2026. Foto/Dok. MTN Seni Budaya.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jakarta sebagai UNESCO City of Literature berpartisipasi sebagai Special Guest City dalam pembukaan Granada Book Fair yang berlangsung di halaman Balai Kota Granada pada Kamis (23/4/2026). Acara pembukaan ini dihadiri oleh Wali Kota Granada, Marifrán Carazo Villalonga, bersama para pemangku kepentingan budaya, komunitas literasi, serta tamu internasional.

Dalam pembukaan tersebut, Jakarta diwakili oleh Laura Prinsloo, perwakilan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya Bidang Sastra sekaligus Focal Point Jakarta City of Literature. Dalam sambutannya, Laura menyampaikan apresiasi atas undangan yang diberikan kepada Indonesia, khususnya Jakarta, sebagai kota tamu kehormatan dalam perhelatan literasi bergengsi ini.

“Dari sebuah kepulauan dengan lebih dari tujuh belas ribu pulau, di mana setiap bahasa menyimpan cerita dan setiap cerita adalah jembatan, kami membawa kata-kata yang berlayar, seperti laut yang menghubungkan kita,” ujar Laura membuka pidatonya, yang disampaikan dalam bahasa Spanyol dan Inggris.

Laura menekankan bahwa partisipasi Jakarta dalam festival ini merupakan bentuk nyata dari dialog budaya lintas bangsa melalui sastra. Ia juga menyampaikan bahwa Jakarta menghadirkan tiga penulis Indonesia sebagai bagian dari delegasi, yaitu Eka Kurniawan, Soe Tjen Marching, dan Feby Indirani. Karya Eka Kurniawan telah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Spanyol, sementara karya Soe Tjen Marching dan Feby Indirani saat ini tengah dalam proses penerjemahan.

“Penerjemahan bukan sekadar pemindahan kata, tetapi jembatan pengalaman, perluasan makna, dan undangan bagi interpretasi baru,” ungkap Laura.

Ia juga menyoroti bahwa hubungan sastra antara Indonesia dan dunia berbahasa Spanyol merupakan pertukaran yang bersifat timbal balik dan saling memperkaya perspektif serta imajinasi kedua belah pihak.

Lebih lanjut, Laura menjelaskan bahwa kehadiran para penulis ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya. Program prioritas nasional ini bertujuan memperkuat ekosistem budaya nasional sekaligus memperluas jejaring sastra Indonesia di tingkat global.

Pembukaan Granada Book Fair juga menegaskan pentingnya peran buku sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Dalam laporan yang dimuat media lokal, disebutkan bahwa hingga saat ini, Granada telah menyelenggarakan 44 edisi pameran buku, menegaskan posisinya sebagai salah satu agenda budaya paling penting di kota tersebut.

Dalam sambutan pembukaan, juga disampaikan refleksi mengenai peran buku sebagai “Komplices y compañeros en el viaje de mi vida” — sahabat dan pendamping dalam perjalanan hidup. Alvaro Salvador, salah satu penulis kebanggaan Granada turut memberikan pidato kebudayaan dalam acara pembukaan ini.

Partisipasi Jakarta sebagai Special Guest City diharapkan dapat memperkuat hubungan budaya antara Indonesia dan Spanyol, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dalam bidang literasi, penerjemahan, dan pertukaran penulis di masa mendatang. Selain Jakarta, kota-kota literasi Unesco seperti Heidelberg, Obidos, Manchester, Ljubljana, dan Nottingham pernah menjadi Special Guest City di Granada Book Fair sebelumnya.

Penulis: Tim Media Servis