STOP PRESS! Indonesia Berniat Beli Pesawat Amfibi dan Helikopter Rusia

Wiro Sableng:

"Jangan Kaitkan Saya dengan Demo 212"

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
01 Desember, 2016 dibaca normal 5:30 menit
"Jangan Kaitkan Saya dengan Demo 212"
Pemeran sinetron laga Wiro Sableng, Ken ken. FOTO/Andrey Gromico
212. Ken Ken, pemeran serial Wiro Sableng di televisi, bicara tentang penistaan agama, sikapnya sebagai muslim dan cerita-cerita tentang Wiro Sableng.
tirto.id - Pelbagai pemberitaan aksi demonstrasi 212 membuat Wiro Sableng dengan sendirinya mencuat. Karakter pendekar rekaan Bastian Tito itu memang terkenal dengan angka 212. Julukannya: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.

Bastian Tito sudah wafat. Pemeran Wiro Sableng versi sinetron, Ken Ken, masi ada. Tapi Ken Ken tidak lagi beredar di layar kaca. Seakan menapaktilasi cerita Wiro Sableng yang memang digembleng di Gunung Gede, ia kini menetap di kaki Gunung Gede, di Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi, Cianjur.

Untuk mencapai rumahnya, kami harus melewati jalanan berbatu dan menanjak. Akibat hujan di pagi hari, tanah merah menjadi licin dan becek dan mobil yang kami tumpangi kepayahan. Mobil pun kami parkir di bawah.

Setelah berjalan 100 meter lebih, terlihat sebuah rumah panggung yang di sana sini terlihat lapuk kayunya. Dari dalam rumah, seorang pria tinggi besar memanggil. Meski pintu depan terbuka, ia meminta kami memutar lewat pintu belakang. Teras depan rumah itu memang terlihat keropos. 

“Selamat datang di padepokan saya,” kata si empunya rumah.

Rumah Ken Ken bukanlah padepokan silat atau padepokan supranatural. Sejak delapan bulan lalu, ia mengambil alih bangunan lapuk ini beserta lahan tidur seluas hampir 6 hektar di sekitarnya. Ken Ken kembali ke Gunung Gede bukan sebagai pendekar, namun sebagai petani yang bercocok-tanam aneka sayuran.

Berikut wawancara Tirto.id dengan Ken Ken alias Herning Sukendro.

Kenapa setelah pensiun larinya ke pertanian? Gak kerja atau bisnis di bidang lain?

Dulunya mau lari ke perikanan dan tinggal di sisi laut. Tapi setelah kupikir-pikir, karena dari dulu aku tinggal dan beli rumah di pegunungan, aku jadi terbiasa di alam, gitu. Waktu syuting Wiro Sableng pun banyak di hutan. Gak tertarik untuk aktivitas di kota, lebih enak di desa. Karena di desa, aku coba menggeluti pertanian. Gak muluk-muluk, coba nanam jagung dulu, setelah itu merambah ke yang lain.

Jokowi akhir-akhir ini sering undang orang ke Istana. Gak diundang ke Istana, nih, sama Jokowi?

Ya enggaklah. Jangan kaitkan aku sama demo 212, dong. Hahaha.

Memang ramai sekarang yang mengaitkan demo 212 sama aku. Tapi, ya, mungkin kebetulan saja tanggal 2 bulan 12. Gak ada hubungannya sama Wiro Sableng. Mana mungkin aku diundang ke Istana. 

Soal aksi 212 besok, tanggapan Anda?

Masalah Ahok, ya, sudah tersangka. Proses secara hukum, kalau dia bersalah, ya, hukum. Umat Islam merasa dihina-hina, saya juga tersinggung. Kita sekarang lihat prosesnya saja, Ahok sampai di mana. Kita, kan, negara hukum, tangkap Ahok misalkan dia salah, kalau dia benar yang dilepaskan. Sebagai umat Islam kita mesti tahan, legowo, dan sabar. Nabi juga dulu dikejar-kejar kok, dan dianiaya.

Di dunia politik nasional yang lagi panas sekarang, kira-kira ada gak politikus yang sifatnya kayak Wiro Sableng atau Sinto Gendeng?

Kalau dikaitakan sama politisi, siapa ya? Gak ada, ah. Waras semua. Alhamdulillah, Indonesia pada asyik. Kalau perbedaan pendapat itu, kan, wajar-wajar saja.

Siapa politikus favorit Anda? Gak tertarik masuk politik?

Aku gak pernah di politik. Kalau mengamati ya lewat TV saja. Aku gak lari ke politik. Studi saya gak ke sana. Saya orangnya netral.

Kesukaanku sebenarnya Anas Urbaningrum, tapi itu dulu sebelum dia kena KPK. Kalau sekarang, sih, cenderung Jokowi. Dia merakyat, kalem, dan terlihat asyik juga, sih. Tapi secara pemerintahan, aku suka Prabowo karena dia meledak-ledak. Kalau ngomong, "Wa! Wa!" (menirukan Prabowo berpidato), itu idamanku, tuh. Aku suka gayanya. Tapi Jokowi dan Prabowo sama hebatnya kok.

Apa sih perbedaan Wiro Sableng sama orang gila sungguhan?

Sebetulnya beda-beda tipis. Karena hal yang gak mungkin dilakukan orang normal malah dilakukan Si Wiro. Kentut, merayap-rayap, dan banyak kegilaan lain. Peran ini memang luar biasa. Untuk total jadi Wiro Sableng, saya gak pernah aneh-aneh, perilaku sehari-hari biasa saja, gak pernah cekikikan juga. Saat berakting, imajinasi saya yang ambil kendali.

Mungkinkah orang sableng jadi pahlawan di dunia nyata?

Mungkin. Karena begini, satu hal utama di Wiro Sableng adalah sifat kejujurannya. Apa yang di dalam hatinya selalu diucapkan di mulutnya. Dia gak pernah bohong. Kejujuran itulah kunci. Selemah apa pun orang, selama dia jujur, dia akan selalu bermanfaat, dan jadi pahlawan. Ada kok di era sekarang pun, aku yakin. Banyak yang slengekan dan gendeng, tapi karena jujur dia bisa bermanfaat untuk orang banyak.

Wiro Sableng punya puluhan jurus. Pusing, gak, menghafalkan gerakan-gerakannya?

Enggak kok. Tiap jurus memang selalu beda. Tapi saya akui memang gak mudah menghafalkan jurus. Semua jurus itu dibuat oleh Edi Sodikin. Dia bagus, menurut saya.

Gerakan silatnya kenapa kok cenderung lamban?

Zaman itu memang banyak mengadopsi teknik kungfu, tapi gerakannya memang sengaja diperlambat. Tren model grip fighting di era 95-an memang begitu. Sebetulnya soal speed bisa ditambah kok. Sengaja diperlambat supaya mudah diikuti dan ditiru anak-anak. Soalnya waktu itu target audiens Wiro Sableng memang anak kecil, bukan orang dewasa. Adegan perkelahian Wiro pun masih bisa ditolerir, gak ada kekerasan di sana. Termasuk adegan cinta. Kalau kita baca bukunya langsung, masih banyak adegan-adegan percintaan. Kalau di film, memang sengaja di-pres agar jangan ada.

Ini jadi alasan Wiro Sableng di serial TV selalu kelihatan Jomblo? Padahal Wiro Sableng punya banyak penggemar macam Puti Angsa Putih, Luhjelita, Luhcinta, Wulan Srindi, Nyi Roro Manggut, Ning Intan, Purnama, Anggini, Puti Andini, dll?

Ya skripnya gitu, mau bagaimana lagi?

Benar, Wiro dikelilingi perempuan-perempuan cantik, tapi dia terlalu cuek. Gak aneh sih, Wiro ini didikan Sinto Gendeng. Dia tidur di hutan. Dia juga pemuda sableng. Dia turun gunung saat ada kekacauan saja, bukan untuk cari jodoh.

Sebagai pemeran Wiro Sableng, lebih pilih Bidadari Angin Timur atau Dewi Bunga Mayat?

Hmmm, bingung saya. Memang edan itu. Hal yang paling aku takutkan ya adegan cinta seperti itu. Hmmm... Bidadari Angin Timur, konflik cintanya luar biasa, dan lebih dominan. Tapi Dewi Bunga Mayat juga gak bisa dianggap enteng, itu konflik romantisnya edan juga. Konflik itu memang sengaja dibuat Bastian Tito, luar biasa banget, saya salut ke beliau.

Kalau lihat di TV, kan, kayak sakti banget. Bisa jalan di air, bisa terbang. Ada yang percaya Anda bisa begitu?

Kalau kanuragan, mereka percaya. Karena mereka lihat kanuragan saya saat bertarung dan memperagakan silat di TV. Saya memang memperdalam ilmu itu. Tapi kalau yang terbang, jalan di air ya enggak mungkinlah. Itu, kan, cuma film.

Sebagai fan Wiro Sableng, saya kadang kesal. Kenapa Wiro Sableng itu cenderung bertahan dan counter attack. Pengen kayak Jackie Chan atau Steven Seagal? Atau memang tipikal jagoan harus begitu?

Betul banget. Wiro Sableng itu bukan tipikal penyerang. Dia penunggu. Dia lebih banyak lihat serangan lawan, baru dia ambil kesimpulan, anggap ini pertarungan serius atau tidak. Ini khasnya Wiro.

Kalau ilmu lawannya di bawah dia, selalu timbul lelucon ke musuhnya. Meledek, gitulah

Kenapa sih harus pakai kapak? Kalau Anda Bastian Tito, enaknya Wiro Sableng itu pakai senjata apa?

Itu yang repot. Karena permainan kapak tidak bisa berkembang. Toya bisa berkembang. Pedang apalagi. Patmayoni juga. Kapak yang susah. Sangat susah soalnya benda kecil. Kalau patmayoni, bisa diputer ke mana-mana. Toya bisa main kayak Jet Lee. Kapak gak bisa berkembang kayak begini-begini (memperagakan gaya pedang).

Kalau saya jadi Bastian Tito, kapak itu pilihan tepat. Karena yang pakai kapak cuma Wiro Sableng. Kalau Wiro Sableng dikasih pedang, wah, bisa hancur semuanya, karena dia sableng. Wiro Sableng juga gak bisa main pedang. Mana pernah dia menggunakan pedang setelah merebut pedang lawan? Dia percaya diri, mendingan pakai tangan kosong.

Kok senjata di Wiro Sableng itu kelihatan banget palsunya? Kadang gabusnya kelihatan vulgar. Kalau nonton Wiro Sableng sekarang, jadi ilfeel.

Di era itu sudah bagus. Waktunya juga sempit, dan adanya begitu. Ya, namanya juga 1995.

Merasa ganteng saat perankan Wiro Sableng?

Enggak. Pas-pasan sajalah.

Saat perankan Wiro sering pakai bedak, ya? Tebal banget.

Iya, betul sekali. Wajarlah, saya banyak tahi lalat hitam-hitam, pengin kelihatan rapi. Lagi pula kulit mukaku gak bagus. Kadang di luar syuting orang liat aku, "ya ampun, kok begini". Tapi kadang ada pula yang bilang aku manis. Ya, dulu, bukan sekarang.

Hal yang selalu diingat penggemar serial TV Wiro Sableng itu bloopers-nya, di akhir selalu ditampilkan adegan-adegan gagal. Nah, di situ kan ada adegan dokar nyungsep, dan Anda masih bisa loncat. Masih ingat kejadian itu?

Itu dokar beneran nyungsep, lhoh. Itu kejadian yang paling membuat saya kecewa saat main di Wiro Sableng. Waktu itu, saya gak bisa menyelamatkan pemeran Putri Laramurni, namanya Yanti. Gara-gara kecelakaan itu dia gegar otak. Cukup parah juga.

Saya gak sempat tarik dia, karena waktunya yang mepet, posisi dokar juga udah miring, makanya saya keburu loncat. Lumayan itu dokar jatuh ke jurang yang tingginya dua meteran, bawahnya bebatuan. Lokasi syuting kejadian ini di daerah Wonogiri.

Dulu sekolah di STM, suka berantem?

Gak suka. Gak hobi. Aku banyak kesibukan di luar, hobi mancing, berenang, dan jalan-jalan. Gak banyak nongkrong sama berantem.

Masih senang pakai kemeja panjang?

Waktu masih jadi artis. Sekarang udah jadi petani mah enggak, biasa saja. Alasan saya pakai kemeja panjang karena memang suka rapi. Ditambah, kemeja panjang bisa menutupi tangan saya yang gak ada urat. Saya kadang gak pede. Meski olahraga keras, tetap saja gak ada urat dan ototnya.

Kalau merujuk aktor-aktor yang pernah perankan Wiro Sableng, Anda gak takut seperti Toni Hidayat yang mengidap gila benaran?

Enggaklah. Aku normal, jangan terlalu dihayati deh. Kalau di luar akting, ya sudah. Kalau dihayati ya memang bisa [gila]. Sangat bisa dominan.

Tulisan 212 di dada itu pakai spidol, ya?

Cuma spidol. Tapi, ya, meski gak ada tanda 212, walaupun usia sudah 48 tahun, saya masih bisa jadi pendekar kok. Ibaratnya saya saat in lagi naik gunung. Saya sebenarnya pengin juga turun gunung, mau bikin tutorial jurus-jurus gitu di Youtube, tapi nanti saja deh.

(tirto.id : wam/zen)

Keyword