Menuju konten utama
Mozaik

Jalan Panjang nan Terjal Pemugaran Kompleks Candi Prambanan

Dimulai pada 1918, Kompleks Candi Prambanan baru selesai dipugar sepenuhnya pada 1953. Prosesnya melalui banyak hambatan.

Jalan Panjang nan Terjal Pemugaran Kompleks Candi Prambanan
Header Mozaik Pemugaran Prambanan. tirto.id/Quita

tirto.id - Sepanjang abad ke-19, candi-candi yang ada di Prambanan telah beberapa kali disurvei. Mulanya oleh aparat kolonial Belanda, lalu Inggris, sampai kembali lagi dilakukan oleh orang Belanda. Pada 1885, Jan Willem Ijzerman dan anggota Archeologische Vereniging Yogyakarta membersihkan candi-candi itu dari pasir, tanah, dan bebatuan yang menimbunnya.

Meskipun usaha yang dilakukan Ijzerman pada 1885 kurang maksimal—bahkan sembrono, hasilnya tetap digunakan sebagai pijakan untuk upaya pemugaran pada abad selanjutnya.

Memasuki awal abad ke-20, Theodoor van Erp ikut ambil bagian meneliti candi-candi di Prambanan. Pada akhir 1901, Pemerintah Kolonial lantas menugaskan van Erp dalam Borobudur Comissie. Tak hanya meneliti Candi Borobudur, komisi ini sekaligus melakukan pengamatan terkait kondisi candi-candi yang ada di Prambanan.

“Letnan Zeni van Erp telah diinstruksikan setelah menyelidiki Borobudur untuk memeriksa kondisi relung luar dan candi induk Prambanan,” demikian diwartakan De Locomotief (14 November 1901).

Setahun kemudian, van Erp kembali ke Prambanan dan mulai melakukan pekerjaan lanjutan. Berbekal hasil pembersihan Ijzerman, van Erp mulai menyelamatkan beberapa bagian candi-candi yang ada di Prambanan, khususnya Candi Siwa.

“Van Erp pada 1902-1903 memanfaatkan hasil usaha Ijzerman untuk menyelamatkan bilik-bilik penampil Candi Siwa dengan cara mengembalikan reruntuhan batu-batu ke tempat aslinya,” jelas Sugeng Riyanto dalam “Candi Prambanan: Pengelolaan dan Potensi Persoalannya” yang terbit dalam Berkala Arkeologi (Vol 27, No. 2, November 2007, hlm. 68).

Beberapa tahun kemudian—tepatnya pada 1915, pekerjaan rintisan van Erp dilanjutkan oleh Pieter Vincent van Stein Callenfels. Van Stein Callenfels ditemani pula oleh Poerbatjaraka untuk memotret beberapa bagian candi sebagai bahan dokumentasi.

Proses Panjang Pemugaran

Pemugaran penuh terhadap kompleks percandian yang kini dikenal sebagai Candi Prambanan mulai dilakukan pada 1918. Pemugaran ini dilakukan oleh Oudheidkundige Dienst atau Dinas Purbakala di bawah kepemimpinan F.D.K Bosch.

Saat itu, OD berfokus memugar Candi Siwa yang merupakan candi utama di kompleks ini. Orang yang diserahi tugas menjadi penanggunjawab pekerjaan ini adalah P.J. Perquin. Ditunjuknya Perquin tidak terlepas dari pengalamannya dalam pemugaran Candi Panataran.

Perquin memulai pekerjaannya dengan memilah timbunan batu yang ada di sekitar Candi Prambanan. Namun, pekerjaan ini terhenti pada 1921 lantaran muncul kritik terkait metode kerja yang digunakan.

“Metode-metode kerja beserta prinsip pemugaran menjadi sasaran kritik tajam baik di Indonesia (Hindia Belanda) maupun Belanda,” terang A.J. Bernet Kempers dalam “Prambanan 1954” yang terbit dalam bunga rampai Memuji Prambanan: Bunga Rampai Cendekiawan Belanda tentang Kompleks Percandian Loro Jongrang (2009, hlm. 269).

Beberapa masukan terkait bagaimana proses pemugaran yang seharusnya dilakukan berdatangan dari berbagai pihak. Kajian dan penyelidikan ulang juga dilakukan, seperti halnya W.F. Sutterheim yang melakukan penyelidikan pada 1926.

Tak lama setelah itu, pekerjaan pemugaran Candi Siwa pun kembali dilanjutkan. Kali ini, B. de Haan ditunjuk sebagai penanggungjawab pemugaran. Prinsip dan metode yang digunakan pada pemugaran kali ini sudah disesuaikan dengan petunjuk tim penasihat yang dibentuk pada 1924.

Pada 1930, B. de Haan berhasil menyusun batu-batu yang ada di candi induk, khususnya Candi Siwa.

“Semua potongan candi induk berhasil disusun dan dikembalikan ke posisi sebenarnya,” tambah Bernet Kempers.

Namun, di tahun yang sama, B. de Haan meninggal dunia dan proses pemugaran terhenti sekali lagi. Posisinya lalu digantikan oleh Ir. V.R van Romondt setahun kemudian.

Memugar di Tengah Badai Depresi Besar

Jalan berat menyertai usaha van Romondt melanjutkan pemugaran. Dekade 1930-an dikenal sebagai salah satu masa yang berat lantaran gelombang Depresi Besar yang membuat perekonomian menjadi lesu. Kondisi itu juga berdampak pada proses pemugaran Candi Siwa.

“Langkah-langkah penghematan drastis di bidang ekonomi yang dikenakan pemerintah, yang memangkas hari kerja hingga separuh hari, berarti bahwa pada 1932 laju pekerjaan melambat,” ungkap van Romondt dalam “Pemugaran Candi Śiva di Prambanan” yang terbit dalam bunga rampai Memuji Prambanan (hlm. 237).

Durasi pengerjaan pun molor karena kebijakan penghematan itu. Proses pemugaran candi yang normal baru bisa dilaksanakan lagi pada 1937. Dalam pekerjaannya itu, van Romondt didampingi oleh tiga orang asisten yang dua di antaranya merupakan orang bumiputera.

“Van Romondt dalam kegiatan sehari-harinya dibantu oleh P.H. van Coolwijk dan dua orang, yaitu Soehamir dan Samingun,” tulis Ibrahim Maulana dalam Kompleks Candi Prambanan dari Masa ke Masa (1996, hlm. 41).

Masalah pendanaan yang sempat seret mulai teratasi berkat turunnya dana dukungan dari Welvaartsfonds atau Dana Kesejahteraan sebesar 25 juta gulden.

“Dari dana itu, proses pekerjaan akan berlangsung selama tujuh tahun, sehingga diharapkan bahwa pada tahun 1945 Jawa akan diperkaya oleh satu lagi monumen budaya yang tidak memiliki tandingannya di seantero Hindia Belanda,” tulis van Romondt.

Van Romondt tidak hanya berupaya untuk mengembalikan candi ke bentuk aslinya. Dia juga mencari cara agar bangunan Candi Siwa menjadi lebih kokoh. Pasalnya, candi itu pernah rusak berat karena gempa bumi yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada 1867.

“Terhadap bahaya gempa bumi ini didapatlah akal untuk memasang rangka besi dan beton di dalam tembok-tembok,” ungkap van Romondt dalam “Pekerjaan Membina Kembali Prambanan” yang terbit dalam jurnal Amerta (No. 1, 1985, hlm. 40).

Namun, harapan van Romondt bahwa pemugaran akan selesai pada 1945 tidak terkabul. Biangnya adalah pendudukan Jepang atas Indonesia pada 1942. Banyak pejabat-pejabat Belanda, termasuk pejabat dan arkeolog OD, yang ditawan oleh Jepang sehingga pekerjaan pun tersendat.

Infografik Mozaik Pemugaran Prambanan

Infografik Mozaik Pemugaran Prambanan. tirto.id/Quita

Berlanjut di Alam Merdeka

Meskipun dilanda perang, pengerjaan pemugaran Candi Prambanan tetap berjalan. Dengan ketiadaan ahli-ahli Belanda di OD, proses pemugaran dilanjutkan oleh Soehamir dan Samingun. Proses pemugaran tentunya tak berjalan selancar sebelumnya lantaran pengurangan jumlah pekerja.

“Pekerja-pekerja semakin berkurang, karena keadaan semakin hebat pengaruhnya akan penghidupan mereka sehari-hari. Tidak hanya sedikitnya pekerja, akan tetapi juga tidak ada ketetapan tentang masuknya, sebab mereka diharuskan untuk sementara waktu sekali sebagai romusha di lapangan terbang Baduk,” catat Samingun yang dikutip oleh Ni Luh Nyoman Rarianingsih dan Kayato Hardani dalam tulisannya “Bukan Karya Bandung Bondowoso” yang terbit dalam Membangun Kembali Prambanan (2009, hlm. 5).

Meski kondisi amat sulit, proses pemugaran toh tetap bisa berlanjut hingga Jepang menyatakan menyerah dalam Perang Pasifik. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, proses pemugaran terhadap kompleks Candi Prambanan makin meluas. Di tengah kondisi serba terbatas, kajian terhadap Candi Brahma dan Wisnu berserta candi-candi perwara mulai dilakukan.

Proses pemugaran dan kajian itu kembali menemui jalan terjal akibat Agresi Militer II pada akhir 1948. Di sekitar kawasan Prambanan, terjadi pertempuran antara tentara Republik dan Belanda. Selama itu, pekerjaan pemugaran tentu saja dihentikan.

Pertempuran yang terjadi juga berimbas pada rusaknya beberapa bangunan di sekitar kompleks Candi Prambanan.

“Kantor bagian arsitektur dihantam granat dan dijarah, Candi Siwa juga mengalami kerusakan akibat bom,” ungkap Bernet Kempers (2009, hlm. 271).

Setelah kondisi Prambanan mulai aman, pemugaran kembali dilanjutkan. Kali ini digawangi oleh lembaga baru, yakni Jawatan Kebudayaan di bawah Kementerian Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan. Meski begitu, proses pemugaran kembali dipimpin oleh van Romondt pada 1950.

Diresmikan Presiden Sukarno

Proses panjang pemugaran kompleks Candi Prambanan yang dilakukan sejak 1918 ini akhirnya mencapai tahap penyelesaian akhir pada awal 1952.

Hal itu ditandai dengan dimulainya pemugaran bagian puncak candi-candi. Sebuah upacara sederhana kemudian dilakukan pada 16 Januari 1952 yang dihadiri beberapa tokoh seperti Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan Mr. Wongsonegoro, Sri Paduka Paku Alam, dan undangan lainnya.

Pada kesempatan itu, Bernet Kempers dan van Romondt menyampaikan pidatonya. Setelah itu, Presiden Sukarno beserta rombongan diperkenankan melihat kondisi candi.

“Ibu Sukarno (Fatmawati) memasuki candi sebagai pengunjung pertama, dan memotong pita yang menutup pintu masuk candi. Selanjutnya dipasang dua plakat marmer untuk memperingati hari peresmian candi,” tulis Java Bode (21 Desember 1953).

Peresmian selesainya pemugaran Candi Siwa sendiri baru dilakukan setahun kemudian. Pada 20 Desember 1953, Presiden Sukarno kembali hadir dalam acara besar itu. Ikut pula hadir Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dan Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan M. Yamin.

“Pada tanggal 20 Desember 1953, saat upacara meriah dengan lebih dari seribu orang dan ratusan anak mengibarkan bendera merah putih, Presiden Sukarno meresmikan Candi Siwa,” ungkap Marieke Bloembergen dan Martijn Eickhoff dalam “Conserving the Past, Mobilizing the Indonesian Future: Archaeological Sites, Regime Change, and Heritage Politics in Indonesia in the 1950s” yang terbit pada Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (Vol. 167, No. 4, 2011, hlm. 405).

Menurut M. Yamin, selesainya pemugaran kompleks Candi Prambanan ini merupakan pencapaian nasional yang paling signifikan sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Baca juga artikel terkait CANDI atau tulisan lainnya dari Omar Mohtar

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Omar Mohtar
Penulis: Omar Mohtar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi