tirto.id -
Menurut Hasan, aksi unjuk rasa merupakan hak masyarakat. Akan tetapi, unjuk rasa disebut tidak bisa dilakukan dengan cara kekerasan.
"Kalau masyarakat mau berunjuk rasa dan menyampaikan pendapat, silakan, tapi jangan sampai melakukan kekerasan," kata Hasan di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin.
Di satu sisi, dia mempersilakan masyarakat yang menolak menerima MBG. Akan tetapi, Hasan meminta tidak ada pihak yang melarang masyarakat lain untuk menerima MBG.
Hasan pun menilai aksi unjuk rasa itu termasuk dalam menghalangi masyarakat sebagai penerima program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut.
"Kalau ada orang yang bilang mereka enggak perlu mereka bisa sampaikan hal itu. Bisa bilang, 'kami enggak usah dikasih', enggak apa-apa," tuturnya.
"Tapi kalau sampai berunjuk rasa untuk membatalkan dan menolak itu halangi hak-hak saudara-saudara yang lain, teman-teman yang lain, saudara-saudara dia juga untuk mendapatkan layanan makan bergizi gratis," lanjut Hasan.
Diberitakan sebelumnya, Polres Jayawijaya mengonfirmasi adanya demo terkait program MBG, Senin pagi. Demo tersebut dilakukan oleh para pelajar yang diduga disusupi sejumlah provokator.
“Benar, ada penolakan MBG, dan sempat ada sedikit keributan, karena kami pihak Kepolisian berusaha memisahkan kelompok pelajar mahasiswa yang murni mau menyampaikan aspirasi, dengan kelompok orang yang diduga menunggangi kepentingan kelompok pelajar,” kata Wakapolres Jayawijaya, Kompol I Wayan Laba saat dikonfirmasi reporter Tirto, Senin.
Dia menjelaskan, polisi dilempari dengan benda-benda sepetti keras, batu, maupun katapel. Sehingga, dilakukan penembakan gas air mata untuk menghentikan aksi anarkis itu.
“Ya benar, kita sempat menembakkan gas air mata karena ada perlawanan dari masa dengan melempari aparat keamanan dengan batu, maupun Katapel,” ungkap Wayan.
Saat ini, kata Wayan, situasi sudah kondusif. Kelompok pelajar yang pulang bahkan diawasi anggota kepolisian untuk mencegah tidak melakukan kegiatan lain yang mengganggu kamtibmas.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama