Kyle Knight, Peneliti HRW:

"Interseks Bukti Saintifik bahwa Gender Tak Cuma Pria atau Wanita"

Oleh: Aulia Adam - 28 Februari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Orang-orang interseks tidaklah langka; mereka cuma dibikin tak terlihat oleh tekanan sosial.
tirto.id - Sekitar 1,7 persen populasi manusia lahir sebagai interseks. Perbandingannya: 1 per 2.000 bayi.

Jika penduduk dunia digenapkan 7 miliar jiwa, artinya ada sebanyak 140 juta orang dengan interseks. Jumlah ini lebih besar dari 25 kali jumlah penduduk Singapura. Karena itu interseks bukanlah kondisi yang langka.

Dalam sejarah awal medis modern, interseks dianggap keabnormalan dan harus disembuhkan dengan cara dioperasi. Genitalia seorang interseks akan dirombak sesuai kelamin pria atau wanita. Namun, operasi ini punya risiko besar, termasuk kemandulan dan gangguan fungsi seksual, bahkan luka fisik permanen, hingga trauma emosional dan psikologis.

Kyle Knight, peneliti divisi LGBT dari Human Rights Watch, melakukan riset terbaru tentang kondisi orang-orang interseks pada tahun lalu. Berjudul "I Want to Be Like Nature Made Me", salah satu poin utama yang disorotinya adalah keputusan operasi kelamin terlalu dini pada bayi interseks merupakan keputusan buruk.

Dalam laporan 160 halaman itu, ia mewawancarai 30 interseks dewasa, 2 anak interseks, 17 orang tua dari anak interseks, serta 21 praktisi termasuk ginekolog, endokrinolog, urolog, psikolog, dan provider kesehatan mental yang bekerja dengan orang interseks. Laporan ini menggambarkan bahwa para ahli memang punya kecenderungan menawarkan operasi kelamin seolah-olah sebagai jalan keluar terhadap kondisi interseks.

“Contohnya dokter-dokter (ini) memberitahu para orangtua, 'Jika mereka tak memilih operasi, anak-anak mereka akan di-bully di sekolah.' Tentu saja keterangan macam begini tak pernah disokong dalam literatur medis mana pun,” katanya.

Dunia medis sudah membuat kemajuan dalam perawatan interseks pada dekade terakhir, tetapi operasi-operasi yang tak bisa diubah lagi pada anak-anak dan bayi masih umum terjadi, tambah Kyle.

Terkadang keterbatasan pengetahuan orangtua tentang topik ini membuat mereka mempercayai dokter belaka. Menurutnya, yang sering kali menyelamatkan anak-anak atau bayi interseks dari operasi kelamin dini adalah ketika orangtua mereka bertemu dengan orangtua anak interseks lain, yang membuka diskusi untuk pertimbangan memikirkan hal ini lebih panjang.

Kyle menjelaskan hal penting lain yang perlu diketahui tentang interseks kepada Aulia Adam dari Tirto. Simak petikan wawancaranya.

Apa yang dimaksud interseks?

Interseks adalah istilah umum yang merujuk pada ragam ciri fisik dan kondisi kesehatan yang menyebabkan seseorang terlahir dengan kromosom, kelenjar kelamin, dan/atau alat kelamin yang lebih bervariasi dari apa yang biasa disebut perempuan atau laki-laki.

Istilah medis ini telah diklaim ulang oleh beberapa orang sebagai identitas pribadi dan politik untuk orang-orang dengan ciri-ciri ini. Interseks tidak sama dengan transgender—istilah lain untuk menggambarkan individu yang jenis kelaminnya berbeda dari apa yang ditetapkan pada mereka saat lahir.

Sejak kapan istilah ini digunakan dalam dunia medis?

Istilah ini telah digunakan dalam perawatan medis di berbagai periode sepanjang sejarah. Saat ini, dalam bidang kedokteran, lebih umum merujuk orang-orang interseks sebagai orang dengan "Perbedaan Perkembangan Seksual" atau "DSD—Differences of Sex Development". Tapi kelompok masyarakat intersex sering menganggap terminologi itu ofensif dan tidak akurat. Saat ini, bagaimanapun, istilah inilah yang digunakan kebanyakan dokter.

Dalam penelitian Anda, Anda menyebut para dokter sering kali menyarankan para orangtua dengan anak interseks untuk melakukan operasi, padahal itu berbahaya. Kenapa?

Beberapa kondisi interseks dapat menyebabkan anatomi yang berbeda dari apa yang biasanya dianggap "laki-laki" atau "perempuan". Misalnya, Congenital Adrenal Hyperplasia, kondisi interseks yang paling umum, atau DSD. Kondisi ini dapat menyebabkan anak terlahir dengan klitoris yang lebih besar daripada “umumnya”.

Penting untuk dicatat bahwa tidak ada definisi klinis tentang seberapa besar "klitoris pada umumnya”. Maka, untuk anak-anak dan orangtua mereka, tekadnya (untuk operasi) sering kali diarahkan oleh pendapat para dokter yang mereka datangi. Sejak tahun 1950-an—dan kemudian dipopulerkan pada tahun 1960-an—banyak dokter yang merekomendasikan operasi kosmetik untuk membuat anak-anak ini terlihat lebih "normal" atau "pada umumnya".

Apa pun bentuknya, operasi selalu memiliki risiko (atau efek samping). Pada operasi anak, ada risiko ekstra bahwa anestesia pada bayi di bawah usia 3 tahun dapat menyebabkan kekurangan neuro-kognitif permanen. Karena prosedur ini adalah untuk menyesuaikan estetika tubuh, dan bukan kebutuhan medis apa pun, sangat tidak masuk akal untuk membuat anak-anak ditempatkan pada posisi berisiko itu.

Bahaya lain? Dampak lainnya?

Operasi ini dapat menyebabkan jaringan parut—luka permanen; kehilangan gairah seksual, kehilangan kesuburan, rasa nyeri kronis, dan salah diagnosis gender—maksudnya, keadaan akan jadi lebih rumit ketika seorang dokter melakukan operasi pada bayi supaya membuatnya lebih mirip dengan "anak perempuan" pada umumnya. Namun, ternyata ketika tumbuh dewasa, sang anak mengidentifikasi dirinya sebagai anak laki-laki. (Artinya) si dokter telah menetapkan jenis kelaminnya sebagai perempuan, yang mana secara biologis membuat keadaan jadi lebih buruk (daripada tidak menyarankan atau melakukan operasi).

Mengapa penting untuk menunggu persetujuan pasien interseks sendiri sebelum memutuskan melakukan operasi? Kenapa orangtua mesti menunggu?

Operasi-operasi ini, khususnya operasi untuk mengurangi ukuran klitoris, operasi untuk memperbesar ukuran vagina, dan operasi untuk mengangkat kelenjar kelamin, adalah operasi-operasi besar. Keputusan untuk menjalani prosedur seperti itu—seperti operasi besar lain—harus berada di tangan pasien itu sendiri, tentu saja setelah mereka mengindikasikan bahwa mereka memahami semua risiko dan manfaatnya.

Mereka adalah anak-anak yang sehat (sebelum operasi). Mereka berbeda, dan itu mungkin menakutkan bagi orangtua. Namun, solusinya adalah memberikan dukungan dan informasi yang akurat, bukan justru menyebarkan rasa takut atas perbedaan dan mengusulkan operasi kosmetik sebagai sesuatu yang disebut solusi.

Operasi kosmetik ini dimulai oleh John Money yang menyarankan pasien. Anda menulis hal ini dalam laporan tersebut. Bisa ceritakan sedikit tentang dia?

Pada 1966, sepasang orangtua bayi kembar laki-laki datang ke rumah sakit untuk menyunat anaknya. Salah satunya gagal, dan merusak habis-habisan penis bayi itu. Memikirkan masa depan fungsi dan identitas seksual anak mereka, orangtua tersebut datang ke John Hopkins untuk konsultasi dengan Money, seorang ahli seksologi terkemuka waktu itu. Money meyakinkan si orangtua untuk menyetujui operasi perombakan kelamin dan membesarkan anak mereka—yang kemudian dinamai ulang jadi Brenda Reimer—sebagai anak perempuan.

Money menerbitkan sejumlah makalah yang menyebut perombakan itu sukses; dia terus memantau Reimer selama satu dekade sebagai check-up reguler. Bertahun-tahun kasus ini dikenal dalam literatur medis sebagai “John/Joan Case”, dan publikasi produktif Money pada kasus itu jadi pengaruh terbesar menyebarnya operasi kelamin kepada anak-anak interseks. Tapi perombakan itu bukan kesuksesan.

Saat berumur 15 tahun, Reimer melakukan transisi untuk hidup sebagai laki-laki. Saat berumur 38 tahun, pada 2004, Reimer bunuh diri.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (wawancara dengan Eni Gustina, Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan) masih menyarankan operasi kelamin, dan keputusan tetap diberikan kepada orangtua/pendamping. Di beberapa negara lain, diskusi juga berhenti di sana. Bagaimana menurut Anda hal ini akan berdampak kepada orangtua dan anak-anak interseks?

Sangat tidak adil bagi orangtua dan anak-anak ketika pemerintah dan asosiasi kesehatan merekomendasikan operasi-operasi ini. Itu pseudo-sains, karena tak pernah ada uji klinis untuk prosedur tersebut, dan ada lusinan dan puluhan artikel jurnal medis yang secara jelas mendokumentasikan bagaimana operasi tak diperlukan secara medis, malah sering kali menyebabkan hasil lebih buruk.

Bisa dimengerti bahwa orangtua, bila diberi pilihan untuk “memperbaiki” anaknya, akan memilih itu. Adalah tanggung jawab pemerintah untuk memperjelas bahwa operasi ini tak menyelesaikan [masalah]—dan anak-anak ini sehat belaka, tak perlu operasi.

Dalam masyarakat yang sangat gender binary (mereka yang meyakini gender cuma terbagi dua), kondisi biologis yang dialami orang-orang interseks sering kali masih sulit diterima. Bagaimana kira-kira hal itu bisa mereka pahami?

Masyarakat boleh saja memang bersifat gender binary, tapi fakta bahwa orang-orang interseks ada adalah bukti saintifik bahwa jenis kelamin bukan biner. Masyarakat bisa—dan harus—berubah untuk mengakomodasi hak-hak dasar setiap orang terhadap otonomi, martabat, dan terbebas dari penganiayaan.

Saya sendiri kesulitan untuk bertemu dengan orang-orang interseks. Beberapa sumber saya bilang mereka ingin menjaga privasi untuk menghindari stigma dan diskriminasi. Ada yang ingin Anda bilang untuk mereka?

Orang-orang interseks tidak langka, mereka cuma dibikin tak terlihat oleh sosial. Kondisi mereka yang mencoba mengidentifikasi diri sebagai interseks memang sering kali mengundang pertanyaan publik tentang bagian-bagian tubuh mereka yang sangat pribadi.

Jadi, sangat bisa dipahami kalau mereka lebih memilih diam. Tapi elemen paling penting dari ini semua adalah mereka—sebagaimana orang lain—punya hak untuk mengontrol apa yang akan terjadi pada tubuh mereka.

Baca juga artikel terkait INTERSEKS atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan