Insiden Bocah Tewas dalam Mobil, Salah Siapa?

Oleh: Yudistira Perdana Imandiar - 25 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Anak-anak yang tewas di dalam mobil mengalami kepanasan dan kehabisan oksigen.
tirto.id - Bocah berusia 3,5 tahun ditemukan tewas dalam mobil di parkiran apartemen Pluit Sea View Muara Baru, Jakarta Utara, Sabtu (20/10/2018). Berdasarkan hasil otopsi, polisi mengungkapkan korban meninggal akibat kehabisan oksigen karena terkurung di kabin mobil.

Mobil yang menjadi tempat kejadian perkara bukan milik orang tua korban. Diduga si bocah bermain di area parkiran, lalu masuk ke dalam mobil yang belum terkunci.

Kejadian bocah tewas terkungkung di kabin mobil bukan perkara baru. Pada Mei 2018 lalu, dua bocah di Purwakarta, Jibal Alif, 4 tahun dan Intan Nur Aini, 2,5 tahun, meninggal akibat kekurangan oksigen kala bermain di dalam mobil. Cerita serupa terjadi di banyak negara.

Di Kentucky, Amerika Serikat, seorang bayi berumur 3,5 bulan meninggal dunia di dalam mobil ibunya. Penyebabnya bukan karena bermain di dalam mobil, tapi sang ibu lupa menyerahkan bayi bernama Aiden Miller itu ke petugas day care. Sang ibu lantas berangkat ke kantor dan meninggalkan Aiden di mobil yang terparkir di areal terbuka.

Pada jam pulang kerja, si ibu mencium bau aneh di dalam mobil. Betapa nanap sang ibu manakala menyadari bau itu bersumber dari bayinya yang sudah tidak bernyawa.


“Dia bilang dia membuka pintu mobil dan mencium ‘bau apa ini?’ Kemudian dia melihat Aiden ada di kursi belakang,” ujar ayah Aiden meneruskan cerita dari istrinya dikutip Metro.

Organisasi pemerhati kasus heatstroke, No Heatstroke, mencatat sejak 1998 sampai September 2018, rata-rata 37 anak di Amerika Serikat meninggal karena terjebak di dalam mobil setiap tahun. Dari total 791 kasus, 54 persen atau 400 kasus kematian itu disebabkan anak luput dari pengawasan orangtua atau pengasuh sehingga tertinggal dalam mobil.

Sebanyak 201 kasus lain terjadi akibat kerusakan pada mobil. Jumlah anak yang tewas dalam mobil karena ditinggal dengan sengaja, seperti saat orang tua berbelanja, ada 137 kejadian.

Mengacu dari data tersebut, biang utama dari masalah-masalah bocah tewas di dalam mobil adalah kelalaian orangtua. Pengawasan yang renggang membuat orangtua luput membawa anaknya ikut turun dari mobil, atau membiarkan anak tertinggal di dalam mobil. Ketika sudah terjebak di dalam, anak kesulitan untuk membuka kunci pintu atau meminta pertolongan kepada orang di sekitar.

Statistik dari organisasi keselamatan anak-anak Kids and Car yang dirilis CNN memaparkan, anak batita (usia 1-3 tahun) paling rentan terjebak dan tewas di dalam mobil. Pada beberapa kasus, anak duduk di kursi belakang dan tertidur, sehingga orang tua lupa mengajak anaknya turun.


Risiko kematian anak-anak di dalam mobil semakin besar pada saat musim panas. Temperatur udara tinggi lebih cepat menyekap para bocah. Mereka akan mengalami kepanasan, kehabisan oksigen, dan berakhir pada kematian jika terlambat dievakuasi.

Temperatur kabin mobil, seperti dijelaskan National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA)—lembaga keselamatan lalu lintas di bawah Kementerian Transportasi Amerika Serikat, bisa naik signifikan hanya dalam waktu 10 menit.

Bahayanya, tubuh anak kecil bisa tiga sampai lima kali lebih cepat terkontaminasi udara panas dibandingkan orang dewasa. Anak-anak riskan mengalami heatstroke—kenaikan panas melebihi ambang batas toleransi tubuh manusia sehingga menyebabkan berbagai masalah, seperti demam, konsentrasi berkurang, aliran darah ke otak terhambat, hingga berdampak pada kematian.

Infografik Anak meninggal Dalam mobil


Pencegahan Bahaya di Dalam Mobil


NHTSA mengimbau orangtua atau pengasuh agar selalu mengawasi gerak-gerik anak. Jangan sampai anak dibiarkan bermain di sekitar mobil atau dalam mobil sendirian.

Ketika bepergian dengan anak yang duduk di kursi belakang, selalu tanamkan dalam pikiran untuk mengecek ke belakang. Hal itu bertujuan agar orangtua tidak lupa membawa anak turun setelah sampai di tempat tujuan. Supaya lebih aman, tempatkan anak di kursi depan supaya terawasi.

Kids and Car menegaskan, sekalipun jendela dibuka, eskalasi temperatur di kabin mobil tidak berkurang. Dengan kata lain, tak ada alasan membiarkan anak singgah di dalam mobil walaupun kaca jendela dibuka. Risiko bahaya masih tetap ada.

“Membuka kaca tidak membantu memperlambat pemanasan atau memangkas temperatur maksimal,” tulis Kids and Car.


Selain itu, kejadian anak terkunci di dalam mobil bisa juga terjadi karena mobil pintu mobil tertutup secara otomatis. Sistem autolock pada mobil-mobil modern atau mobil yang memasang perangkat remot dan alarm aftermarket bisa membuat pintu terkunci saat mesin mati.

Paula Waterson, wanita yang tinggal di Kanada punya pengalaman buruk soal fitur kunci otomatis pada mobilnya. Suatu hari saat ia hendak bepergian, seperti dilaporkan CBC, Waterson meninggalkan putri kecil berusia 13 bulan dalam mobil yang mesinnya sudah menyala. Tiba-tiba mobil terkunci otomatis, membuat Waterson sangat panik. Untungnya waktu itu AC sudah dinyalakan, sehingga si bayi tidak terpanggang dalam kabin.

Menanggapi kejadian Waterson, juru bicara Canadan Automobile Assocation, Angele Young menjelaskan, mekanisme kunci otomatis bergantung pada setelan dari pabrikan kendaraan. Setiap mobil punya cara kerja dan waktu pengaktifan kunci otomatis yang berbeda.

Untuk menghindari kejadian seperti yang dialami Waterson, ada baiknya pemilik mobil yang punya anak kecil menon-aktifkan fitur kunci otomatis. Dengan begitu buka-tutup kunci sepenuhnya dikendalikan oleh pengguna mobil.

“Kalau diatur mekanisme kunci otomatisnya, kapan dia aktif, itu tidak bisa diatur. Dinon-aktifkan bisa. Cara menon-aktifkannya ada prosedurnya di buku (petunjuk) alarm. Kalau di Daihatsu yang (alarm) include sama mobil (prosedur non-aktif) ada di buku manual,” kata Executive Coordinator Technical Service PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Anjar Rosjadi saat dihubungi Tirto.

Kewaspadaan dan kesadaran orangtua bahwa mobil bisa berbahaya bagi anak-anak perlu ditanamkan. Insiden-insiden yang konyol karena kealpaan orangtua sejatinya bisa dicegah sebelum penyesalan datang belakangan.

Baca juga artikel terkait MOBIL atau tulisan menarik lainnya Yudistira Perdana Imandiar
(tirto.id - Otomotif)

Penulis: Yudistira Perdana Imandiar
Editor: Suhendra
DarkLight