Industri Film Hancur, Waktunya Pintu Bioskop Dibuka Lebar?

Oleh: Mohammad Bernie, Riyan Setiawan - 27 Februari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Pelaku film menilai sudah waktunya bioskop dibuka lagi. Selain karena penting bagi industri, toh mereka juga telah menyiapkan protokol kesehatan.
tirto.id - Pelaku perfilman Indonesia menuntut agar bioskop diberikan kesempatan membuktikan diri jadi sarana hiburan yang aman di kala pandemi COVID-19. Suara itu misalnya muncul dari sutradara Joko Anwar.

"Jangan dianaktirikan, didemonisasi. Belum ada klaster dari bioskop hingga saat ini," kata Joko kepada reporter Tirto, Senin (22/2/2021).

Ia menjelaskan betapa vitalnya pemasukan dari bioskop bagi produsen film. Terdapat 51 juta tiket terjual sepanjang 2019. Dengan asumsi harga tiket Rp40 ribu, maka pendapatan dari sana mencapai Rp2,04 triliun. Jumlah itu anjlok hingga 76 persen selama 2020. Sebagai gambaran, biaya produksi film low budget saja membutuhkan Rp3 miliar-Rp6 miliar, film middle budget menelan Rp6 miliar-10 miliar, dan film big budget mencapai lebih dari Rp10 miliar.

Di sisi lain pemasukan dari aplikasi streaming tidak cukup bahkan untuk sekadar menutup biaya produksi. Menurutnya film yang sudah pernah tayang di bioskop hanya bisa dijual Rp500 juta kepada pengelola aplikasi, sementara yang belum pernah tayang di bioskop bisa dilego hingga Rp8 miliar--tergantung negosiasi.

Karena situasi ini, produser ogah memproduksi film. Pada 2019 ada 140-150 judul yang dilepas ke pasaran, sementara pada 2020 hanya kurang dari 40 dan sebagian pun diproduksi pada 2019.

Sutradara Pengabdi Setan itu menilai selain potensi ekonominya menjanjikan, film penting karena ia merupakan sarana bagi penyebaran kebudayaan. Ia mencontohkan Korea Selatan yang salah satu filmnya, Parasite, berhasil memborong Oscar pada Academy Awards ke-92 pada 2020 lalu. "Kita bisa memasukkan elemen budaya lewat film," kata Joko.


Sejumlah bioskop sebetulnya sudah bisa beroperasi pada November 2020 lalu. Cinema XXI sudah membuka 77 bioskop di seluruh Indonesia. Namun Ketua Umum Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin menilai itu belum cukup. Pendapatan bioskop masih terseok-seok, hanya 15 persen dari zaman normal. Djonny bilang bioskop independen yang pada hari normal bisa meraup paling sedikit Rp15 juta per hari saat ini hanya bisa memperoleh Rp1 juta per.

Ancaman gulung tikar ada di depan mata, katanya, dan jika itu terjadi butuh 5-7 tahun untuk bisa memulihkannya kembali.

"Kita kan selama ini bantu pemerintah terus lewat pajak, ketika terdampak masak tidak dibantu?" kata dia kepada reporter Tirto, Senin.


Jika tidak memberikan bantuan, setidaknya pemerintah berhenti melakukan apa yang ia sebut sebagai black campaign, yaitu melebih-lebihkan bioskop sebagai tempat yang berbahaya dan potensial jadi lokasi penyebaran virus. Menurutnya selama ini bioskop telah menerapkan protokol kesehatan sebaik mungkin, mulai dari mengurangi kapasitas penonton, mewajibkan masker, meminimalisasi kontak fisik dengan pegawai, dan cek suhu tubuh sebelum masuk.

Martin Kriegel, pakar ventilasi dan Kepala Hermann Rierschel Institute di Technical University di Berlin Jerman, pernah melakukan studi tentang risiko penularan COVID-19 di ruang tertutup. Kesimpulannya, dengan kondisi jaga jarak, ventilasi yang baik, dan bersih, risiko penularan di bioskop lebih rendah daripada di kantor atau sekolah.

Dia menjelaskan, dengan ventilasi yang baik dan ruangan yang besar, maka perbandingan antara udara bersih dan virus relatif jauh lebih timpang dibanding dengan bangunan lain.

Memang ada risiko penularan jika berada di dekat orang yang terinfeksi. Karenanya seluruh pengunjung wajib mengenakan masker.


Data dari Pemprov DKI Jakarta sebagai daerah dengan jumlah bioskop paling banyak di Indonesia menunjukkan tak ada klaster bioskop. Namun, pada Jumat 19 Februari lalu, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat menemukan 14 pengunjung dan enam petugas bioskop terkonfirmasi positif COVID-19 dalam tes acak yang melibatkan 33 orang. Dengan demikian mereka terkena COVID-19 sebelum menonton bioskop.

Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono menilai seluruh tempat yang tertutup dan berkerumun berisiko jadi tempat penularan COVID-19, entah itu bioskop, kantor, atau pusat perbelanjaan. Namun risiko itu "bisa dikendalikan dengan jaga jarak, hepa filter, dan exhaust fan."

"Kalau bioskop, kan, udaranya sudah dingin, sudah cukup baik, artinya tinggal ditambah hepa filter saja," kata Miko kepada reporter Tirto, Senin.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI FILM atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie & Riyan Setiawan
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Mohammad Bernie & Riyan Setiawan
Penulis: Mohammad Bernie & Riyan Setiawan
Editor: Rio Apinino
DarkLight