tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat pada perdagangan Jumat (23/10/2026) pagi. Berdasarkan data RTI Business per pukul 09.25 WIB, IHSG naik 26,338 poin atau menguat 0,49 persen ke level 5.414,243.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG berada di posisi 5.397,337. Indeks sempat berfluktuasi hingga menyentuh level terendah 5.366,294 sebelum melonjak ke level tertinggi 5.442,973.
Hingga pukul 09.25 WIB, volume perdagangan tercatat mencapai 6,440 miliar saham dengan nilai transaksi Rp2,639 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 346.841 kali. Adapun kapitalisasi pasar berada di angka Rp9.560,755 triliun.
Penguatan IHSG ditopang oleh mayoritas saham yang bergerak di zona hijau. Sebanyak 448 saham menguat, sedangkan 145 saham melemah dan 170 saham stagnan.
Meski demikian, penguatan pasar saham domestik berlangsung di tengah tekanan sentimen eksternal. Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia dalam laporan Kiwoom Morning Equity edisi 23 Oktober 2026 menyoroti pelemahan bursa Amerika Serikat yang terutama dipicu tekanan pada saham teknologi dan semikonduktor.
“Pelemahan ini menunjukkan bahwa investor mulai lebih selektif dalam menilai prospek pertumbuhan perusahaan teknologi, terutama di tengah besarnya kebutuhan investasi AI,” tulis Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Pada perdagangan Kamis (22/10/2026), indeks S&P 500 terkoreksi 1,2 persen, sedangkan Nasdaq Composite anjlok 2,6 persen. Tekanan tersebut muncul ketika investor mulai mempertanyakan apakah potensi keuntungan dari investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebanding dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan perusahaan.
Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia juga menilai ketidakpastian tersebut mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada saham berisiko tinggi dan beralih ke instrumen yang lebih defensif.
Tekanan turut terlihat di bursa Asia. Nikkei 225 Jepang turun 2,65 persen, Hang Seng Hong Kong merosot 3 persen, dan KOSPI Korea Selatan melemah 3,52 persen pada perdagangan sebelumnya.
Dari dalam negeri, investor asing masih membukukan aksi jual bersih di pasar saham. Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia mencatat net sell asing sebesar Rp1,47 triliun di pasar reguler pada Kamis. Jika memperhitungkan seluruh pasar, nilai jual bersih asing mencapai Rp1,49 triliun.
Tekanan eksternal juga membayangi pasar valuta asing. Dalam riset yang sama, rupiah disebut melemah mendekati Rp18.040 per dolar AS, seiring penguatan dolar AS menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed. Kenaikan harga minyak dan kekhawatiran terhadap arus keluar modal asing turut menjadi risiko bagi pasar keuangan domestik.
Di tengah kondisi tersebut, Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati dalam menyikapi pergerakan pasar.
“Investor disarankan tetap berhati-hati, menerapkan strategi buy on weakness secara selektif, serta menunggu konfirmasi lanjutan untuk melakukan akumulasi lebih agresif,” tulis Tim Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





































