Hikayat Al-An'am, Surat Panjang yang Diturunkan Sekaligus

Oleh: M. Quraish Shihab - 28 Mei 2018
Dibaca Normal 2 menit
Pakar hadis ath-Thabarani meriwayatkan ayatnya turun oleh tujuh puluh ribu malaikat dengan alunan tasbih.
Surat al-An’am adalah surat Makkiyah. Secara redaksional, penamaan itu tampaknya disebabkan kata "al-An’am" ditemukan dalam surat ini sebanyak enam kali. Nama ini adalah satu-satunya nama untuknya yang dikenal sejak masa Rasul SAW. Menurut sejumlah riwayat, keseluruhan ayatnya turun sekaligus. Pakar hadis ath-Thabarani meriwayatkan ayatnya turun oleh tujuh puluh ribu malaikat dengan alunan tasbih.

Sementara ulama mengecualikan beberapa ayat (sekitar enam) yaitu ayat 90 s/d 93 dan 150 s/d 153, kendati ada riwayat yang hanya menyebut dua ayat, yaitu ayat 90 dan 91. Riwayat lain bahkan menyatakan hanya satu ayat, yaitu ayat 90.

Kendati riwayat-riwayat itu mengandung kelemahan-kelemahan, namun -- seperti ditulis pakar tafsir dan hadis -- Sayyid Muhammad Rasyid Ridha: “Banyak riwayat yang menyatakan bahwa seluruh ayat surat ini turun sekaligus, padahal persoalan yang diinformasikan riwayat itu bukan persoalan ijtihad atau nalar tetapi sejarah, bukan juga persoalan yang berhubungan dengan hawa nafsu yang dapat mengantar pada penolakannya, atau persoalan redaksi yang bias menjadikannya memiliki kelemahan, karena itu riwayat-riwayat tentang turunnya seluruh ayat surat ini sekaligus pastilah mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.”

Di sisi lain, riwayat pengecualian beberapa ayat yang dikemukakan dinilai oleh sekian banyak ulama memiliki kelemahan-kelemahan sehingga tidak wajar riwayat-riwayat itu dijadikan dasar untuk menolak riwayat yang demikian banyak tentang turunnya surat ini sekaligus karena riwayat yang banyak, kendati lemah, dapat saling memperkuat.

Tidak ada surat panjang lain yang turun sekaligus kecuali surat al-An’am ini. Thahir Ibn ‘Asyur menduga bahwa hal itu untuk menanggapi sementara kaum musyrikin yang menghendaki agar Alquran turun sekaligus (baca QS. al-Furqan ayat 32). Ini untuk membuktikan bahwa Allah mampu menurunkannya sekaligus tanpa berbeda mutu. Tetapi, Dia tidak menurunkan semua ayatnya demikian karena kemaslahatan menuntut diturunkannya sedikit demi sedikit.

Bahwa keseluruhan ayat surat ini turun sekaligus, tidak menjadikan riwayat sebab nuzul beberapa ayatnya harus ditolak. Karena, seperti diketahui, apa yang terjadi menjelang turunnya ayat, tetapi juga dipahami dalam arti peristiwa-peristiwa yang petunjuk atau hukumnya dikandung oleh ayat yang bersangkutan selama peristiwa yang dinyatakan sebagai sebab nuzul itu terjadi pada periode turunnya Alquran, baik terjadi sebelum maupun sesudah turunnya ayat dimaksud.



Imam as-Suyuthi menyebut riwayat yang menginformasikan bahwa surat ini turun di waktu malam, dan bahwa bumi berguncang menyambut kehadirannya. Riwayat-riwayat yang disinggung di atas, oleh sementara ulama, dinilai sebagai riwayat-riwayat yang daif (lemah). Kendati demikian, tidak ada halangan untuk mengakui turunnya surat ini sekaligus. Apalagi, seperti tulis al-Biqa’i, tujuan utama surat ini adalah memantapkan tauhid dan ushuluddin prinsip-prinsip ajaran agama.

Ajaran tauhid menggambarkan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya. Allah SWT yang mewujudkan dan mematikan, dan Dia juga yang membangkitkan dari kematian. Di samping persoalan keesaan Allah dan keniscayaan hari kiamat, ayat-ayat surat ini mengandung penegasan tentang hal-hal yang diharamkan-Nya sambal membatalkan apa yang diharamkan manusia atas dirinya karena hanya Dia sendiri yang berwenang menetapkan hukum dan membatalkannya. Termasuk membatalkan apa yang ditetapkan manusia, seperti yang dilakukan kaum musyrikin menyangkut binatang dan sebagainya. Inilah yang diisyaratkan oleh namanya, yakni al-An’am.

Sayyid Quthub memulai tafsirnya tentang surat ini dengan menguraikan ciri-ciri surat Makkiyah, dan surat al-An’am merupakan salah satu di antaranya. Pakar ini menulis bahwa surat-surat Makkiyah berkisar pada uraian tentang wujud manusia di alam raya dan kesudahannya, tentang hubungannya dengan alam dan makhluk hidup lainnya, serta hubungannya dengan Pencipta alam dan kehidupan. Uraian surat ini – tulisnya – tidak berbeda dengan tema tersebut. Di sini, ayat-ayatnya berbicara tentang soal keutuhan dan penghambatan diri makhluk kepada-Nya, baik di langit maupun di bumi.

Sebagaimana halnya al-Biqa’i, Sayyid Quthub menggarisbawahi penamaan surat ini, yakni al-An’am. Oleh pakar ini, penamaannya dikembalikan kepada kenyataan yang hidup di tengah masyarakat ketika itu dalam kaitannya dengan hakikat hubungan manusia dengan Allah SWT. Masyarakat Jahiliah ketika itu memberi hak kepada diri mereka untuk menghalalkan dan mengharamkan sembelihan, makanan, serta aneka ibadah yang berkaitan dengan binatang, buah-buahan, bahkan anak-anak.

Nah, ayat-ayat al-An’am bermaksud membatalkan pandangan jahiliah itu agar di dalam hati setiap manusia tertanam hakikat yang diajarkan oleh agama ini; yaitu bahwa hak menghalalkan dan mengharamkan hanyalah wewenang Allah, dan bahwa setiap bagian yang terkecil dalam kehidupan manusia harus sepenuhnya tunduk kepada ketentuan hukum-hukum Allah SWT dalam segala persoalan. Dari sini pula maka wajar jika ia turun sekaligus, tidak bertahap.

Memang, prinsip-prinsip ajaran agama tidak ditetapkan Allah SWT secara bertahap, berbeda dengan tuntunan yang berkaitan dengan hukum. Hukum, pada dasarnya, menuntut pelaksanaan dengan melakukan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang. Jika hukum-hukum yang beraneka ragam dan mencakup banyak hal turun sekaligus, tentulah yang dituntut melaksanakannya akan mengalami banyak kesulitan, lebih-lebih jika ketetapan yang dituntut itu tidak sejalan dengan kebiasaan selama ini. Itulah sebabnya, dalam bidang hukum, Alquran sering kali menempuh cara bertahap, seperti yang terlihat dalam tuntunan meninggalkan minuman keras.

Riwayat yang menyatakan bahwa ayat-ayat surat ini turun di waktu malam menjadi indikator tentang keberkahannya karena Allah “turun” dengan rahmat serta pengampunan-Nya setiap malam, sebagaimana keterangan Nabi SAW. Di samping itu, ia juga mengisyaratkan bahwa kandungan surat ini tidak dapat dijangkau kecuali oleh mereka yang bashirah/mata hatinya tajam, siaga jiwanya dari kelengahan kalbu, yakni mereka yang panggilan ruhaninya mengatasi panggilan jasmaninya.

Demikian lebih kurang penjelasan al-Biqa’i.

====

*) Naskah diambil dari buku "Tafsir al-Mishbah Vol. 3" yang diterbitkan penerbit Lentera Hati. Pembaca bisa mendapatkan karya-karya Prof. Quraish Shihab melalui website penerbit.

Kultum Quraish Shihab

Baca juga artikel terkait RAMADAN atau tulisan menarik lainnya M. Quraish Shihab
(tirto.id - Pendidikan)

Penulis: M. Quraish Shihab
Editor: Zen RS
DarkLight