28 Juni 1846

Hidup Nelangsa Adolphe Sax, si Penemu Saksofon

Penulis: Aulia Adam, tirto.id - 28 Jun 2018 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Alunan manja.
Nada berdegup pada
sax yang pertama.
tirto.id - “Jangan pakai jari-jemarimu,” kata guru les saksofon Adam. “Tempelkan agak lebih masuk ke mulutmu, tutup gigimu pakai bibir, dan tiup keras! Ya, gitu! Ya!”

Kemudian, nada sumbang mencelat dari ujung saksofon yang dipegang Adam. Nada yang dideskripsikannya sebagai ratapan melengking perusak ketenangan pagi hari.

Selain lari pagi dan bersepeda motor, Adam memang punya hobi baru: ia suka main saksofon, dan memutuskan serius mempelajari alat musik pencipta nada sensual itu.

Tiga hobinya membawa relaksasi yang beda-beda bagi Adam. Lari membuat tubuh dan jiwanya jadi lebih ringan, membawa waktu yang lebih luang untuk berpikir. Sementara bersepeda motor sangat menyerap perhatian, yang akhirnya menciptakan distraksi dari berpikir berlebihan dan khawatir sepanjang waktu.

Saksofon memang pelepas stres. Memainkannya bikin Adam tenang dan senang.

Omong-omong, Adam ini bukan saya. Ia seorang duda yang baru ditinggal mati istrinya, dan menuliskan pengalaman-pengalaman hidup setelah kejadian itu di The Guardian. Dalam kolom tetap Widower of the Parish, ia sempat berbagi tentang bagaimana kesenangan bermain saksofon membantunya teralihkan dari kesedihan dan perasaan was-was.

Memainkan musik memang terbukti secara ilmiah bisa mereduksi stres manusia. Penulis kesehatan senior Fred Cicetti pernah menulis hal itu di situs kesehatan Live Science. “Memainkan alat musik tampaknya bisa meningkatkan kesehatan kita dalam berbagai cara. Saya sendiri memainkan saksofon hampir setiap hari, dan dapat memastikan bahwa bermain musik pasti mengurangi stres,” tulis Cicetti.

Cerita Adam dan Cicetti sebenarnya akan terdengar ironis kalau Anda tahu kisah hidup Adolphe Sax, si pencipta saksofon.

“Dia adalah anak yang dikutuk kesialan.” Perkataan itu terkenal karena keluar dari ibunya sendiri. “Dia tak akan hidup lama,” kata sang ibu pula. Para tetangganya bahkan menjuluki “Sax Cilik, Si Hantu”.

Sebelum menciptakan saksofon, hidup Sax memang unik, kalau tak bisa dikatakan tragis.

Nyaris Mati Berkali-Kali

Ia, yang lahir sebagai anak pertama dari sebelas bersaudara, pernah 7 kali hampir mati waktu kecil. Adik-adiknya bahkan nyaris tak ada yang berumur panjang sampai tua. Tujuh orang dari mereka mati sebelum berumur 25. Kalimat depresi sang ibu akhirnya terbukti salah: Sax malah jadi salah satu dari empat anak mereka yang hidup panjang.

Namun, sang ibu tak sepenuhnya salah juga. Sebab Sax memang tak bisa dibilang punya hidup beruntung.

Ia pernah jatuh dari lantai tiga saat masih kecil, dan membenturkan kepalanya ke batu. Orang-orang sempat yakin kalau dia sudah mati. Saat umur tiga, Sax pernah menenggak asam sulfat encer, yang dipikirnya semangkuk susu. Pada umur yang sama, ia juga pernah tersedak pin metal. Berikutnya, ia nyaris mati gosong karena ledakan bubuk mesiu.

Dia juga pernah jatuh ke dalam wajan berisi besi cor merah panas, yang bikin separuh wajahnya punya luka bakar. Pada tiga kesempatan terpisah, ia tidur di kamar dengan perabotan yang baru dipernis. Asap berabun-rabun bikin Sax sesak napas dan nyaris tidak bangun keesokan paginya.

Lain waktu, sebongkah batu jatuh dari atap dan mendarat di kepalanya. Seolah-olah ia adalah manusia favorit Ezekiel, Sax kecil juga pernah nyaris mati tenggelam di sungai.

Kisah-kisah pengalaman nyaris mati si bocah asal Dinant, Belgia ini direkam dalam situs kota kelahirannya. Anak tukang pembuat klarinet ini lahir pada 1814. Jadi bayangkan saja betapa ajaibnya kisah-kisah itu, dengan konteks dunia medis yang belum secanggih sekarang.

Mungkin, kalau pengalaman hampir mati itu cuma terjadi sekali atau dua kali, Sax akan dijuluki "bocah beruntung". Tapi, melangkahi maut sampai tujuh kali akhirnya justru bikin label "anak sial" lengket di kening Sax.

Padahal, Sax remaja yang berbakat. Ia sudah mulai mendesain alat musik sejak kecil. Dapat bakat itu dari kedua orang tuanya yang memang perancang alat musik. Charles Joseph Sax dan Marie Joseph-Mason memang dikenal sebagai salah perancang yang mengembangkan terompet Perancis, selain karena toko alat musik mereka.

Sax yang lahir dengan nama asli Antoine-Joseph Sax, sudah sering ikut kompetisi main musik dengan serunai dan klarinet sejak umur 15. Ia bahkan kursus alat musik dan vokal di Royal Conservatory of Brussels. Pada usia 24, ia bahkan sudah mematenkan alat musik pertama yang didesainnya, klarinet bass.

Dalam artikel "Meet the ‘Dangerous Belgian’ Who Invented the Sax", Clark Boyd mencatat instrumen-instrumen baru rancangan Sax lumayan terkenal dari rivalnya yang lain. Salah satunya Saxhorn, yang di masa ini sering dipakai orkestra dan band konser. Saxhorn pula yang kelak jadi purwarupa dalam pengembangan eufonium, alat musik tiup kuningan yang punya tiga sampai lima buah katup.

Namun, dari semua alat musik tiup yang dikembangkan Sax, temuannya yang paling populer adalah saksofon. Ia telah mengembangkan alat musik yang terkenal menciptakan nada sensual itu sejak 1840, sampai akhirnya mematenkannya pada 28 Juni 1846, tepat hari ini 172 tahun lalu.

infografik mozaik saksofon


Awalnya Tak Populer

Alat tiup ini istimewa karena suara yang dikeluarkan dan nada yang bisa dicapainya. Sebuah saksofon punya tabung logam kerucut—yang dalam desain awal dibikin juga dari kuningan—dengan sekitar 24 bukaan yang dikendalikan tutsnya; sementara corong tiupnya mirip dengan desain corong klarinet. Namun, tak seperti klarinet yang lurus, ujung bawah saksofon melengkung terbalik dan bisa dilepas.

Fred L. Hemke dalam disertasinya, The Early History of Saxophone (1975), menulis bahwa pada 1846 Sax setidaknya di atas kertas sudah merancang berbagai jenis saksofon, mulai dari sopranino sampai subcontrabass. Tujuannya, agar alat musik itu bisa bikin harmoni yang canggih dalam sebuah orkestra.

Musisi Hector Berlioz suka dengan intrumen buatan Sax itu, dan mendukung penggunaannya sebagai alat musik standar dalam pertunjukan orkestra. Sayang, mimpi itu tak terwujud semasa Sax masih hidup.

Alat musik itu tak terlalu populer dan tidak disukai di masa-masa awal ia eksis. Malah akhirnya lebih sering dipakai band-band militer. Namun kelak, pada masa Perang Dunia II, saksofon populer sebagai alat musik tunggal.

Saksofon akhirnya jadi pencapaian tertinggi Sax. Reputasi intsrumen itu lebih populer dari rancangan Sax yang lain. Meski cuma dipakai di militer, saksofon akhirnya membantu Sax dapat pekerjaan sebagai pengajar di Paris Conservatory pada 1857.

Namun, saksofon pula yang membuat Sax bangkrut. Rival pembuat instrumen lain sempat menyerang legitimasi paten saksofon, bikin Sax harus berurusan hukum bolak-balik kurang lebih selama 20 tahun. Hidupnya makin malang saat bibirnya terserang kanker pada 1853 sampai 1858. Ia berhasil sembuh, tapi urusan hukum itu terus bikin keuangan Sax melorot, terutama pada 1873 dan 1877.

Ia memang akhirnya membuktikan bisa berumur panjang, meski tetap kepayahan menghapus label sial dari keningnya. Sax wafat dalam kemiskinan dan cuma hidup dari uang pensiun yang tidak seberapa dari pemerintah Perancis, sampai tutup usia di umur 80.

Namun, jauh setelah kematiannya, kini saksofon menjadi salah satu alat musik yang populer. Bahkan dipakai orang-orang seperti Adam dan Cicetti sebagai alat untuk menjauhkan mereka dari depresi.

Meski kesialan susah jauh dari kehidupan Sax, setidaknya kini nama bocah sial itu dibikin abadi oleh saksofon, ciptaannya.

Baca juga artikel terkait INSTRUMEN MUSIK atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Musik)

Penulis: Aulia Adam
Editor: Ivan Aulia Ahsan

DarkLight