Harlan Bekti, Pengusaha yang Disebut dalam Arsip Rahasia AS

Oleh: Petrik Matanasi - 9 November 2020
Dibaca Normal 2 menit
Harlan Bekti merupakan pengusaha penting di Indonesia pasca 1965. Dia memulai bisnisnya sejak era revolusi kemerdekaan.
tirto.id - Bagi Harlan Bekti yang seorang pengusaha, zaman Sukarno tak bagus bagi bisnis. Alasannya, terdapat Undang-undang nomor 12/1964--yang menurutnya bikinan PKI--yang intinya "pengusaha tidak boleh melepas (memberhentikan) buruh, walaupun si buruh meludahi dan segala macam.” Dalam buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia (1984:122), Harlan mengaku pernah berkonflik dengan buruh, terutama soal upah.

Namun, Harlan justru pernah dituduh dekat dengan komunis. Elliot Haynes dalam Indonesian Diary (1967:18)--arsip kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta--mencatat bahwa Basaruddin Rachman Motik, dalam pertemuannya pada 27 November 1967 pukul 17.10, menyebut “Bekti membantu orang-orang Tionghoa.”

Bagi Motik, semua orang Tionghoa adalah komunis. Kepada Heynes, Motik bercerita tentang perselisihannya dengan Harlan Bekti dan Kosasih. Dia merasa pernah dilengserkan dari asosiasi industri dan perdagangan oleh kedua orang tersebut. Motik merasa asosiasi telah dirasuki anasir komunis.

Di sisi lain, Harlan Bekti juga bertemu dengan Hayness pada 5 Desember 1967 pukul 8.50 sampai 9.55. Kepada Hayness dia mengaku bahwa dirinya punya kawan yang menjadi penasihat politik Jenderal Abdul Haris Nasution, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) yang menolak pidato Nawaksara (Pertanggungjawaban Sukarno).

Kawan yang dimaksud tampaknya Oejeng Soewargana, yang juga aktif di penerbitan dan membantu Nasution dalam membangun partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI). Oejeng juga rupanya menemui Hayness. Menurutnya, Harlan Bekti mulanya ragu dengan ajakan Hayness untuk bergabung dalam sebuah konferensi meja bundar antara tokoh-tokoh Indonesia pasca 1965, tetapi akhirnya “dia mengerti, dia menjadi sangat tertarik dan membantu."

Saat itu, Harlan Bekti adalah salah satu pemimpin PT Tehnik Umum dan tinggal di Jalan Wahid Hasjim 86 Jakarta. Dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia (1984:122), dia 16 tahun di perusahaan tersebut. Bersama Edi Kowara yang kemudian menjadi besan daripada Soeharto, Harlan Bekti lewat PT Tehnik Umum menjadi pelaksana proyek Hotel Indonesia, Air Mancur Monas, dan Hotel Ambarukmo di Yogyakarta. PT Tehnik Umum juga membangun Istana Tampaksiring, Bali, pada 1953.


Setelah tidak lagi di PT Tehnik Utama, menurut Richard Robison dalam Indonesia: The Rise Capital (2009:335), Harlan Bekti mendirikan sejumlah perusahaan yang meliputi pabrik tekstil, pabrik pembuatan pipa besi, dan bidang teknik lainnya. Tahun 1980-an, salah satu perusahaannya adalah PT Elegant Texstile Industry di Jatiluhur, yang berpatungan dengan orang India. Bekti hanya menguasai saham 20 persen.

Sementara di bidang perdagangan umum dan konstruksi, dia punya PT Harlan Bekti Corporation. Selain itu, dia pun menjadi komisaris di PT Asli dan PT Andika Bayu Motor dan pernah aktif di PT BAT (British American Tobacco). Di masa mudanya, Bekti pernah berjualan rokok Mascot produksi BAT.

Harlan Bekti juga pernah aktif di Pacific Indonesian Business Association (PIBA), Permusyawaratan Urusan Sosial Ekonomi Pengusaha Seluruh Indonesia (PUSPI), dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN). Menurut Awaloedin Djamin dalam Awaloedin Djamin: Pengalaman Seorang Perwira Polri (1995:103), Harlan Bekti adalah pemimpin PUSPI. Dan ketika KADIN Lahir, PUSPI menjadi bagian dari KADIN. PUSPI belakangan menjadi Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).

Infografik Harian Bekti
Infografik Harian Bekti. tirto.id/Sabit

Dari Revolusi ke Orde Baru

“Harlan Bekti datang dari keluarga pegawai rendahan dan mulai berbisnis sejak era revolusisebagai importir,” tulis Richard Robison.

Dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984, Bekti bercerita bahwa sejak kecil dia ingin menjadi insinyur. Harlan Bekti pernah kuliah di ‎Technische Hoogeschool Bandung yang belakangan jadi ITB. Waktu masih di bangku kuliah, dia pernah dapat tugas menggambar dari dosennya. Dia tak hanya membuat satu, tapi 10 gambar. Satu untuk dikumpulkan kepada dosen, dan yang lainnya dia jual ke kawan-kawannya. Kuliahnya kemudian terganggu di masa Perang Dunia II.

Di zaman pendudukan Jepang, Bekti berjualan sejumlah buku tentang belajar bahasa Jepang. Barang dagangannya itu dia tawarkan kepada orang-orang Belanda yang sebagian belum ditangkap Jepang.

“Supaya kamu jangan diusir Jepang, belajarlah bahasa Jepang,” ujar Bekti. Maka buku-buku dagangannya pun terjual. Di masa itulah, dia juga berjualan rokok merek Mascot.


Dalam 70 Tahun Achmad Tirtosudiro: Profil Prajurit Pengabdi (1992:153), Harlan Bekti disebut sebagai salah satu mahasiswa yang memimpin barisan pemuda di Bandung. Di masa revolusi, dia juga pernah menjadi penyalur kebutuhan tentara di Divisi Siliwangi. Harlan Bekti juga pernah terlibat dalam barter candu dengan pakaian seragam untuk keperluan tentara Republik. Hal lain yang dia lakukan adalah mendirikan perusahaan bangunan bernama Harmas di Madiun bersama Sarbini.

Harlan Bekti bergabung dengan Edi Kowara dalam PT Tehnik Umum setelah revolusi kemerdekaan berakhir. Menurut catatan Richard Robison, pada 1950 perusahaan ini mendapat pinjaman modal sebesar 10 ribu rupiah atas persetujuan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Di era Sukarno memang pernah ada Program Benteng bagi pengusaha bumiputra berupa pinjaman dan kemudahan izin impor. Namun, tak semua pengusaha sukses dengan program tersebut. Harlan Bekti ditempa dalam masa-masa sulit itu. Setelah itu, Orde Baru lahir dan menjadi babak baru bagi bisnis Bekti yang meraih banyak kejayaan. Dia memang bukan yang terbesar, tapi namanya sering disebut dalam perhimpunan di dunia bisnis Indonesia.

Baca juga artikel terkait PENGUSAHA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight