Harimau-harimau NEFIS Gagal Menyusup ke Jawa dan Dieksekusi Jepang

Melbourne, Victoria. 14 Juni 1943. Dengan disaksikan bocah laki-laki kecil yang membawa bendera Australia, personil tentara Kerajaan Hindia-Belanda berbaris melintasi kota di sepanjang Swanston Street saat parade Hari Bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa. AWM Collections Database/Herald Newspaper/wikipedia
Oleh: Petrik Matanasi - 25 September 2020
Dibaca Normal 2 menit
Saat pendudukan Jepang, badan intelijen Belanda yang bernama NEFIS mengerahkan orang-orang bumiputra untuk menyusup ke Jawa dan semuanya gagal.
Setelah dikalahkan dengan mudah oleh Jepang dan sebagian mengungsi ke Australia, Belanda lewat Netherlands East Indies Forces Intelligence Service (NEFIS), melakukan penggalian informasi mengenai Indonesia, bekas jajahannya. Untuk melancarkan aksinya, NEFIS mengandalkan orang-orang Indonesia yang bekerja sebagai tentara dan pelaut Kerajaan Belanda, yang juga ikut mengungsi ke Australia. Mereka kemudian menyiapkan kapal selam K-12.

Atas masukan dari Charles van der Plas, mantan Gubernur Jawa Timur, orang yang akan disusupkan ke Indonesia adalah Sersan Penerbang Raden Iswahjoedi Wirjomihardjo--pilot magang jawatan penerbangan pasukan darat Koninklijk Nederlandsch Indische Lager (KNIL).

Kepada Iswahjoedi, van der Plas memberi nama serta alamat pejabat di daerah Besuki. Menurut Louis de Jong dalam Het Koninkrijk de Nederlanden in de Tweede Wareldoorlog Deel III C Nederlands-Indie III (1986:56), para pejabat Belanda termasuk van der Plas, punya pemikiran bahwa sebuah misi intelijen sebaiknya dipimpin orang Belanda. Namun, di Jawa yang padat penduduk, seorang Belanda kulit putih yang berkeliaran di luar kamp tawanan bisa memancing kecurigaan. Misi semacam itu pernah dicoba di Sulawesi dan terbukti gagal.

Kapal Selam K-12 akhirnya muncul pada 27 November 1942 di Teluk Serang, selatan Blitar, secara diam-diam. Menurut JJ Noritier dalam Acties in de Archipel: de intelligence-operaties van NEFIS-III in de Pacific-oorlog (1985:78). tim yang disebut Tiger II itu terdiri dari Letnan Laut Kelas Tiga B. Brocx (24 tahun), Sersan Penerbang Iswahjoedi (24 tahun), dan Kelasi Juru Masak Sadimoen (36 tahun). Sementara tim Tiger I mendarat di Teluk Prigi, selatan Madiun. Mereka terdiri dari Letnan Laut Kelas Dua W. Bergsma (36 tahun), Kelasi Telegrafis Soetarno, dan Kelasi J. Tapilatu (39 tahun).


Misi berikutnya adalah pengiriman Tiger III yang mendarat pada 9 Februari 1943 di Teluk Tapen, sebelah timur Teluk Serang. Tiger III hanya terdiri dari seorang Manado dengan pangkat Sersan Milisi Angkatan Laut bernama Daniel Lapod. Menurut Louis de Jong (1986:184-185), tugas Daniel Lapod adalah membangun jaringan mata-mata di Malang, mencari informasi ke Surabaya, membangun kelompok rahasia yang terdiri dari wanita Belanda, dan berhubungan dengan bekas KNIL di Bandung.

Pada 2 Mei 1943, Tiger V mendarat di sekitar Teluk Pangpang dekat Banyuwangi. Dan esoknya Tiger IV mendarat di daerah yang sama. Awak Tiger V adalah Kopral Masinis Raden Mas Soejitno, seorang Madura yang kala itu berusia sekitar 33 tahun, dan istrinya tinggal di Surabaya. Sedangkan Tiger IV adalah Kelasi Telegrafis Oentoeng, yang sebelumnya telah ikut mendukung misi-misi Tiger yang lain.

Nortier dan De Jong menyebuat misi Tiger IV sebagai suatu misi yang lebih masuk akal dibanding misi-misi sebelumnya. Tiger IV direncanakan hanya tiga hari di daerah operasi intelijennya. Tugasnya mengumpulkan data tentang uang yang beredar, dokumen identitas personal, dan dokumen perjalanan. Harapannya, jika semua itu terkumpul oleh Tiger IV, maka misi penyusupan selanjutnya bisa maju lagi.

Kecuali Tiger IV, sejumlah Tiger lainnya masuk ke wilayah musuh dalam keadaan buta dan kurang bahan untuk mengelabui Jepang. Dan Tiger VI dibebankan kepada seorang kopral KNIL bernama Srinojo Papilaja. Dia pernah bergerilya di Timor Portugal melawan Jepang. Misi Tiger VI dilakukan pada Agustus 1943. Namun, tim penjemputnya tidak menemukan Tiger VI di Teluk Pangpang. NEFIS memastikan Srinojo ditangkap Kempetai pada tanggal 6 Agustus.




NEFIS juga akhirnya kehilangan kontak dengan Oentoeng (Tiger IV) dan Raden Mas Soejitno (Tiger V). Keduanya seperti disebut dalam Gedenkrol van de Koninklijke Marine 1939-1962 (hlm.157&173), dianggap hilang sejak 3 Mei 1943.

De Jong menyebut bahwa pada 26 September 1943 sebuah telegram sampai ke NEFIS atas nama Bergsma. NEFIS tidak memercayainya karena mereka yakin telegram itu dikirimkan oleh tentara Jepang yang telah menangkap semua “harimau” yang dikirim NEFIS ke Jawa.

Seperti yang lainnya, Tiger I dan Tiger II juga terendus tentara Jepang. Semua anggota misi ditangkap. Kecuali Iswahjoedi--yang sempat jadi orang sipil di Surabaya pada zaman pendudukan Jepang--semua anggota misi NEFIS itu pada 1944 dibawa ke Jakarta. Menurut catatan Gedenkrol van de Koninklijke Marine 1939-1962 (hlm. 91), mereka yang dibawa ke Jakarta semuanya dieksekusi mati pada 1 Desember 1944.

Sementara itu, Daniel Lapod sebagai Tiger III juga tertangkap setelah dua bulan berkeliaran dan dieksekusi di Surabaya pada 4 Mei 1943. Kuburannya berada di Ereveld Ancol, Jakarta. Dia dan anggota misi-misi Tiger lainnya yang berdarah Indonesia hanya segelintir dari 490 lebih orang Indonesia yang meninggal sepanjang Perang Dunia II, yang nama-namanya tercantum dalam Gedenkrol van de Koninklijke Marine 1939-1962.

Setelah Perang Pasifik selesai, Iswahjoedi yang menajdi bagian dari Tiger II harus mengalami hal tidak menyenangkan. Ia yang menikahi adik Raden Iskak di Surabaya, bersama kakak iparnya pernah ditahan Polisi Tentara Keamanan Rakjat (PTKR) yang dipimpin Mayor Sabarudin Nasution karena dituduh sebagai mata-mata. Kebetulan istri Raden Iskak adalah orang Belanda.

Setelah bebas, Iswahjoedi bergabung dengan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) sebagai Letnan Penerbang. Iswahjoedi gugur pada 1947 di Tanjung Hantu, Malaysia, bersama bekas personel Angkatan Laut Belanda berdarah Madura yang juga orang penting di AURI, Abdul Halim Perdanakusuma. Belakangan Iswahjoedi diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

Baca juga artikel terkait INTELIJEN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight