Hari Pertama Puasa, Penjual Takjil di Yogya Ramai Pembeli

Oleh: Irwan Syambudi - 7 Mei 2019
Pedagang takjil di Yogya mengaku dibanjiri pembeli pada hari pertama Ramadan 1440 Hijriah tahun ini.
tirto.id - Penjual Takjil atau makanan untuk berbuka puasa di Yogyakarta menjamur pada saat bulan Ramadan 1440 Hijriah. Mereka yang berjualan mendapatkan rejeki berlimpah karena pembeli selalu ramai.

Salah satu penjual takjil di Desa Maguwoharjo, Kecamatan Depok Sleman, Istianah mengatakan pada hari puasa, Senin (6/5/2019) ini pembeli takjil mulai ramai sejak siang.

"Tadi buka jam setengah 2, sudah mulai ada yang beli. Ini mulai ramai, terus paling ramai saat jam-jam akan berbuka," katanya kepada Tirto.

Istianah menjual berbagai makanan ringan mulai dari gorengan, kue manis, kue asih seperti klepon, bolu, tahu bakso, hingga kucur. Kue-kue itu harganya bervariasi paling murah dari mulai Rp1.000 hingga yang paling mahal Rp2.500.

Sementara itu untuk minuman ia juga menyediakan berbagai jenis minuman manis yang cocok untuk berbuka puasa. Di antaranya adalah sup buah, es buah, dan kolak. "Harganya bervariasi ada yang Rp3.000 ada yang Rp4.00," kata dia.

Istianah mengatakan setiap bulan Ramadan ia memang sering menjajakan takjil. Ia mendapatkan pasokan dari berbagai distributor makanan rumah untuk dijajakan.

Saat disinggung mengenai harga makanan dari distributor dan omset yang ia dapatkan, Istianah tak mau menjawab. "Rahasia," katanya.

Berbeda dengan Istianah pedagang takjil lainnya di Desa Maguwoharjo, Dian mengaku baru tahun ini mencoba peruntungan berjualan takjil. Berbekal ruang emperan toko kelontong miliknya ia menjajakan berbagai minuman untuk berbuka puasa.

"Ini baru pertama kali jualan. Hitung-hitung dari pada tidak ada kesibukan," kata Dian.

Dian menjual kolak dingin atau hangat, dan es buah yang dia wadahinya di cup plastik. "Harganya Rp3.000 sampai Rp4.000," kata Dian.


Baca juga artikel terkait RAMADAN 2019 atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Agung DH
DarkLight