Arsenal vs Tottenham Hotspur

Guendouzi Menyelamatkan Wajah Arsenal di Derbi London Utara

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 2 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Matteo Guendouzi, bocah 20 tahun, juru selamat Arsenal dari kekalahan di kandang sendiri saat menjamu Tottenham Hotspur dalam derbi London Utara yang berakhir imbang 2-2.
tirto.id - Derbi London Utara dalam pekan keempat EPL 2019/2020 yang mempertemukan Arsenal vs Tottenham Hotspur di Stadion Emirates, Minggu (1/9/2019) malam waktu Indonesia berakhir imbang 2-2.

Christian Eriksen dan Harry Kane menjadi pencetak gol untuk tim tamu, sementara dwigol Meriam London masing-masing tercatat atas nama Alex Lacazete dan Pierre-Emerick Aubameyang.

Momentum sebenarnya memihak pada Arsenal. Faktor absennya bek kanan Spurs, Kyle Walker-Peters serta gelandang Tanguy Ndombele karena cedera bikin tim tamu punya beberapa celah.

Pengganti Walker-Peters, Davinson Sanchez tak terlihat menawarkan pertahanana tangguh. Menurut hitung-hitungan Whoscored, pada pertandingan malam tadi Sanchez merupakan pemain Spurs yang paling banyak kehilangan bola dari kakinya (tiga kali). Maklum, posisi asli Sanchez adalah bek tengah, bukan bek kanan.

"Eksperimen ini, menempatkan Sanzhez sebagai bek kanan tampaknya tidak akan diulangi lagi oleh Pochettino," tulis analis Squawka, Muhammad Butt.

Tottenham sedikit beruntung karena memiliki gelandang macam Moussa Sissoko. Diduetkan bersama Harry Winks sebagai pivot, berkali-kali dia menambal titik lemah di sisi kanan pertahanan Spurs yang ditempati Sanchez.

Terlalu seringnya Sissoko turun ke area kanan pertahanan sebenarnya berujung terciptanya bolong di lini tengah Tottenham. Sayang, celah ini tidak dimaksimalkan para pemain Arsenal.



Blunder Emery Mengatur Lini Tengah



Ketidakmampuan Arsenal membombardir celah yang ditinggalkan Sissoko disumbang dari line-up yang diturunkan Unai Emery.

Memulai pertandingan dengan skema 4-3-3, di lini tengah Emery tidak memasang satu pun gelandang serang.

Mesut Ozil dan Dani Ceballos, pemain yang memiliki kreativitas dari segi umpan dan dribel, justru dibekukan di bangku cadangan. Mantan juru taktik PSG itu justru meracik tiga gelandang bertahan: Granit Xhaka, Lucas Torreira, dan Matteo Guendouzi bersamaan.

Hasilnya bisa ditebak, menurut hitung-hitungan Whoscored, Arsenal cuma 28 persen menyerang dari sisi tengah. Sebagian besar serangan mereka terpusat di tepi lapangan (42 persen di kiri dan 30 persen di kanan).

Blunder formasi lini tengah Emery kemudian diperparah oleh penampilan mengecewakan gelandang paling senior mereka, Granit Xhaka. Dua gol yang diciptakan Spurs ke gawang Arsenal, semua tidak lepas dari performa angin-anginan pemain asal Swiss tersebut.

Pada gol pertama, siklus serangan Spurs dimulai ketika Xhaka kalah dalam duel udara melawan Harry Kane. Keduanya berduel memperebutkan bola hasil tendangan gawang Hugo Lloris dan keberhasilan Kane mempecundangi Xhaka dalam pertarungan udara ini bikin dua pemain Spurs lain, Son Heung Min dan Erik Lamela leluasa mengobrak-abrik pertahanan Arsenal.

Serangan yang dipungkasi sepakan menyusur tanah Lamela ini sempat ditepis kiper Bernd Leno. Namun, pemain kreatif Spurs lain, Christian Eriksen menyambar rebound dengan mudah. Eriksen tak terkawal lantaran bek tengah Arsenal, Sokratis maju terlalu jauh untuk bergerak di area belakang Xhaka saat melakukan duel dengan Kane.


Buruknya pengambilan keputusan Xhaka terlihat lebih jelas pada gol kedua Spurs. Keterlambatannya melakukan tekel di dalam kotak penalti Arsenal bikin kakinya menghantam langsung kaki Son. Wasit menilai kejadian ini sebagai pelanggaran dan sisanya bisa ditebak: Harry Kane mengubah tendangan penalti Spurs menjadi gol.

"Penampilan yang buruk dari Xhaka. Aku tidak pernah melihat dia tampil tanpa melakukan banyak pelanggaran. Dia adalah pemain senior yang tak pernah benar-benar berpengalaman," serang pandit BT Sport, Garry Neville setelah pertandingan.

Neville pantas geram dengan performa Xhaka. Kapten Timnas Swiss tersebut tercatat sebagai pemain dengan pelanggaran terbanyak di laga semalam (tujuh pelanggaran). Tekelnya terhadap Son yang berujung penalti, bahkan terkesan cuma pengulangan dari derbi London musim lalu.



Guendouzi Si Penyelamat



Emery menyadari ada yang salah dari lini tengahnya, terutama menyoal kreativitas. Ia lantas memasukkan Dani Ceballos untuk menggantikan Lucas Torreira.

Sayangnya rotasi ini terlambat. Dilakukan pada menit 63, dengan durasi bermain 27 menit, kehadiran Ceballos berdampak tapi tak signifikan. Selain waktu, insignifikasi ini juga disebabkan pergantian lain Emery dengan memasukkan Henrikh Mkhitaryan sebagai pengganti pencetak gol pertama Arsenal, Alexandre Lacazette.

Ditempatkan sebagai winger di sisi kiri—sisi yang jadi pusat serangan Arsenal—Mkhitaryan gagal mamaksimalkan bola-bola yang disuplai Ceballos dan lini tengah Meriam London. Kelemahannya dalam melakukan first-touch (sentuhan pertama), jadi faktor utama yang bikin Mkhitaryan kerap gagap. Bahkan, meski cuma tampil 23 menit, Miki tercatat tiga kali kehilangan bola dari kakinya (terbanyak kedua, di bawah Lacazette yang tampil 67 menit).

Beruntung bagi Arsenal, karena mereka masih punya sosok Matteo Guendouzi. Umpan ajaibnya menolong Arsenal.

Ketika pemain yang seharusnya jadi panutannya di lini tengah, Granit Xhaka tampil mengecewakan, bocah 20 tahun ini justru menjadi pemikul beban sekaligus penyelamat Meriam London.

Tepatnya di menit 71, umpan lambungnya ke kotak penalti disambut Aubameyang dengan sepakan sekali sentuh yang berujung gol penyama. Kedudukan 2-2 bertahan hingga akhir laga.

"Itu adalah umpan yang hebat. Dia cuma melihatku sesaat dan langsung tahu kalau aku akan berlari. Bolanya sempurna. Aku harus mengakui kalau gol ini bisa tercipta karena umpan Guendouzi," tutur Aubameyang setelah pertandingan.

Gabungan antara ketangkasan dan kecermatan di atas lapangan adalah modal utama Guendouzi.

Di saat lini tengah timnya minim sosok gelandang serang, dia berupaya mati-matian menjadi pembeda. Penggawa Timnas Perancis U-21 ini tercatat melepaskan 22 umpan akurat di area pertahanan lawan, lebih banyak dibanding seluruh pemain Arsenal lain.

Dalam tugas utamanya, performa Guendouzi juga tak kalah bagus. Jumlah tekel suksesnya di tim (3) cuma kalah banyak dari David Luiz (4), dan angka intersepnya hanya lebih sedikit dari satu nama, Ainsley Maitland-Niles.

"Dia bekerja dan menghadirkan keseimbangan saat bertahan juga menggunakan kemampuannya untuk duel-duel keras di EPL," kata Emery setelah pertandingan.

Emery, tentu pantas berterima kasih pada gelandang mudanya itu. Sebab pada akhirnya Guendouzi lah si penyelamat itu wajah Arsenal dari kekalahan akibat kekurangcermatan memadupadankan lini tengah.

Baca juga artikel terkait LIGA INGGRIS atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Zakki Amali
DarkLight