Menuju konten utama

Arsenal vs Tottenham: Merayakan Gengsi di Musim Paceklik

Sudahlah Pochettino, jangan naif. Mainkan Christian Eriksen sejak mesin skor dinyalakan. Tetapi bernyalikah Emery tampilkan arsitektur trisula penakluknya?

Arsenal vs Tottenham: Merayakan Gengsi di Musim Paceklik
Son Heung-min dari Tottenham, tengah, bereaksi setelah kehilangan kesempatan untuk mencetak gol pada pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Tottenham Hotspur vs Arsenal di stadion Wembley di London, Sabtu, 2 Maret 2019. AP / Tim Irlandia

tirto.id - Ini musim paceklik bagi Arsenal dan Tottenham Hotspur. Mereka akan melakoni persabungan derbi London Utara, Minggu (1/9/2019) petang waktu Indonesia. Ini derbi Edisi ke-186, pekan empat EPL 2019/2020 di Stadion Emirates, keduanya memikul warisan kekalahan pekan sebelumnya.

Ini masalah rumitnya merayakan gengsi masing-masing. Tentu bagi penyuluh kedua tim, Unai Emery dan Mauricio Pochettino, kekalahan akan menjadi skandal yang suram. Maka dari itu, agar licin mencopet keunggulan, strategi harus diracik rapi. Ya supaya anjloknya harapan di tiga laga sebelumnya menjadi masa lalu yang tak terulang.

“Mereka [Spurs] akan mencoba bermain dengan identitasnya dan kami perlu menentukan rencana untuk mengatasinya. Kami harus cermat menempatkan diri saat menyerang dan bertahan, serta di atas semuanya, kami perlu memanfaatkan setiap bola, setiap meter lapangan, setiap menit waktu,” kata pelatih Arsenal, Unai Emery sebelum pertandingan.

Namun bagi pelatih Tottenham, Mauricio Pochettino, Arsenal era Emery bagai kotak pandora yang sukar diterawang. Wajar saja sih, di dua pesta kecil EPL musim lalu, Pochettino gagal menumbangkan Emery (sekali kalah dan sekali imbang).

“Musim baru dimulai, sulit menilai mereka. Mungkin setelah beberapa bulan kami baru bisa memahaminya, jadi ini akan sulit apalagi pertandingan derbi adalah sesuatu yang punya makna lebih,” imbuhnya, seperti dilansir laman resmi Tottenham.

Sonder Eriksen: Rawan Lumpuh

Pekan lalu Pochettino direndam penyesalan. Timnya kalah 0-1 di kandang sendiri dari klub yang tenggelam di dasar klasemen, Newcastle United. Meski Spurs tampil dominan, 81 persen penguasaan bola dan 763 umpan, tak mampu disulap menjadi kemenangan konkrit.

Pemain yang terpasung di belantara hujan kritik atas kecerobohan laga tersebut, tak lain dan tak bukan, Harry Kane. Sempat digadang-gadang membuktikan ketajamannya, Kane tak mampu menikam kebuntuan tuan rumah.

Kendati demikian, jika dipantau lebih rinci, donatur kemandulan bomber Timnas Inggris itu, pada dasarnya adalah keputusan Pochettino. Dia mengurung gelandang Christian Eriksen di bangku cadangan.

Sonder Eriksen, berbuntut kreativitas lini tengah Spurs padam. Sissoko, Tanguy Ndombele, dan Harry Winks adalah gelandang pekerja yang hebat. Tapi tetap sia-sia. Daya inovasi ketiganya tertinggal jauh dari Christian Eriksen.

Akibat langkanya suplai umpan kreatif Eriksen, Kane terpaksa hiperaktif. Dia lebih lama merambah lapangan tengah. Berdasarkan data Whoscored, sepanjang 60 menit pertama laga kontra Newcastle (saat Eriksen belum tampil), Kane 17 kali menjamah bola di luar kotak penalti. Selain itu ia hanya lima kali bertukar sentuhan dengan bola di dalam kotak penalti.

Skenario yang sama—Kane terlalu sering turun—juga sempat terjadi di pergelutan pembuka Spurs musim ini, saat mereka menjamu Aston Villa. Saat itu pun, suratan Spurs terselamatkan (dari kalah 0-1 menjadi menang 3-1) gara-gara Pochettino memainkan Eriksen pada pertengahan babak kedua.

Saat melawan Newcastle, situasi yang sama memang tak berulang. Tetapi mengandalkan Eriksen sejak menit awal—ketimbang cuma membekukannya di bangku cadangan—jelas merupakan opsi yang lebih menjanjikan untuk melawan Arsenal. Statistik yang membuktikannya. Menurut penghitungan Squawka, terlepas dari menit bermain yang minim, di tiga laga awal musim ini tak ada pemain Spurs yang bisa menciptakan peluang lebih banyak ketimbang Eriksen (enam kali).

Arsitektur Trisula Penakluk

Emery dan Arsenal barangkali berharap Pochettino tetap memasung Eriksen di bangku cadangan. Tapi bagi para fans Meriam London, ada hal lain yang lebih mereka hajatkan ketimbang kenaifan Pochettino.

Dalam dua laga awal, Arsenal bertumpu pada kaukus formasi 4-2-3-1, lalu bertolak menjadi 4-4-2 berlian pada pekan ketiga. Keberanian Emery meramu skemanya—seperti yang dilakukannya sepanjang musim lalu—pantas diapresiasi. Tetapi patut disayangkan sepanjang tiga persabungan awal, Emery belum bernyali memancang trisula: Pierre-Emerick Aubameyang, Alexandre Lacazette, dan Nicolas Pepe sebagai starter bersamaan.

Kini, menjelang laga penting melawan Tottenham, berseliweran bisikan agar Emery mempertimbangkan ketiganya sebagai starter. Tak terkecuali dari legenda Arsenal, Ian Wright yang menyampaikannya lewat unggahan video di kanal YouTubenya.

Saran Wright patut diserap. Sebab di laga sebelumnya—saat Arsenal kalah 3-1 dari Liverpool—dua peluang paling berbahaya Arsenal (di luar gol Torreira) tercipta di lima menit terakhir. Itu adalah momen ketika Lacazette, Aubameyang, dan Pepe kompak memadukan orkestra di lapangan.

Krisis fullback yang dialami Tottenham, bisa menjadi alasan lain mengapa sebaiknya Emery mengaktifkan trisula Auba-Lacazette-Pepe sejak menit awal. Dengan ketiganya di lini depan, Arsenal akan punya modal cukup di kedua sisi sayap. Pola ini bisa dijadikan senjata untuk celah akibat absennya fullback kanan Spurs, Kyle Walker-Peters.

Saat konferensi pers, Emery sempat memancarkan sinyal ‘menuruti’ saran Wright. Dia berkata, “aku rasa mereka mungkin dimainkan bersamaan [saat melawan Tottenham], tergantung bagaimana situasi kami.”

Namun sinyal itu masih terlalu samar. Apalagi Arsenal baru kehilangan fullback kiri Nacho Monreal (ke Sociedad). Ditambah cederanya Kieran Tierney, bikin Emery bergantung kepada Sead Kolasinac seorang. Dan merujuk hitung-hitungan catatan sebelumnya, jika menyematkan Kolasinac di sisi kiri, Arsenal cenderung girang dolanan skema tiga bek (3-4-1-2 atau 3-4-2-1).

Di sinilah polemik bangkit dari tidur siangnya. Jika akhirnya menggunakan formasi tiga bek, Emery cenderung mengurangi komposisi winger-nya untuk menyeimbangkan lini tengah. Dan apabila skenarionya demikian, harapan fans Arsenal untuk menyaksikan trisula Auba-Laca-Pepe menjadi starter di pertandingan yang sama, mungkin pupus.

Pada akhirnya, meminjam kalimat Emery Arsenal adalah tim yang “sejak musim lalu terbiasa mengganti-ganti skema dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya.” Tidak ada yang lebih bisa menebus rasa penasaran para fans Meriam London selain waktu.

Baca juga artikel terkait LIGA INGGRIS atau tulisan lainnya dari Herdanang Ahmad Fauzan

tirto.id - Olahraga
Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Dieqy Hasbi Widhana