Gempa Tsunami di Donggala-Palu & Bagaimana Sesar Palu Koro Bekerja

Oleh: Lalu Rahadian - 29 September 2018
Dibaca Normal 2 menit
Gempa besar terakhir yang diakibatkan sesar Palu-Koro terjadi pada 1968. Gempa saat itu disebut hampir sama dengan peristiwa kali ini. Masyarakat lokal di Donggala menyebutnya "Gempa Mapaga."
tirto.id - Gempa dan tsunami berkekuatan 7,4 skala richter di kedalaman 11 kilo meter Pantai Barat Dongga dan merambat hingga Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat 28 September 2018 sore ternyata berasa dari pegerakan sesar Palu-Koro. Sesar ini merupakan salah satu sesar aktif yang berada di bawah dataran Sulawesi.

Palu-Koro merupakan sesar terbesar dibanding sejumlah sesar lain yang membentang di Sulawesi. Lajur sesar ini membentang di utara-selatan Sulawesi, mulai dari batas perairan Laut Sulawesi dengan Selat Makassar sampai Teluk Bone.

Menurut pegiat LSM Perkumpulan Skala Trinirmalaningrum, gempa besar yang bersumber dari sesar Palu-Koro sebenarnya sudah diprediksi sejak jauh hari. Sesar Palu-Koro diprediksi akan membawa gempa dalam waktu dekat berdasarkan siklus yang sudah diteliti para geologi dan ahli gempa.

"Jadi kalau siklusnya itu gempa terbesar tahun 1907, kemudian diikuti 1909, gempa besar lagi 1968. Walau tempatnya berbeda-beda, tapi sesar Palu-Koro bergeraknya kalau dilihat dari, istilah kami, ulang tahunnya kelihatannya memang ada yang 50 tahun, 100 tahun," kata Trinirmalaningrum kepada Tirto, Sabtu (29/9/2018).

Rini merupakan Ketua Ekspedisi Sesar Palu-Koro yang baru saja dilaksanakan pada Agustus 2018. Saat itu, ia dan rekan-rekannya menyusuri wilayah yang dilintasi sesar Palu-Koro.

Rini berkata, gempa besar terakhir yang diakibatkan sesar Palu-Koro terjadi pada 1968. Gempa saat itu disebut hampir sama dengan peristiwa kali ini. Masyarakat lokal di Donggala mengenal peristiwa kala itu dengan sebutan "Gempa Mapaga."


Pusat gempa kala itu, menurut Rini berada di sekitar sumber getaran saat ini. Ia yakin gempa yang terjadi kali ini memang merupakan siklus yang dimiliki Palu-Koro.


"Ini sebenarnya belum apa-apa. Pada tahun 1907 berdasarkan catatan geolog Abendanon dia menyebutnya 'terjadi guncangan yang bikin rebah rumah-rumah dan laut berdiri setinggi 10 meter'. Jadi di sana pernah terjadi gempa besar, sekarang 2018 terjadi lagi," tutur Rini.

Prediksi Siklus Gempa Akibat Palu-Koro


Penjelasan Rini diperkuat ahli geologi dari LIPI Mudrik Daryono. Menurut Mudrik, sesar Palu-Koro memang diprediksi memiliki siklus ulang tahun setiap 130 tahun sekali. Akan tetapi, hitungan itu belum tentu akurat karena penelitian terhadap sesar Palu-Koro selama ini masih minim.

Mudrik berkata, gempa dimanapun pasti terjadi akibat siklus yang berulang setiap periode tertentu. Akan tetapi, tidak mudah menentukan siklus gempa di setiap sesar yang membentang. Menurut Mudrik, diperlukan biaya dan waktu yang besar untuk meneliti siklus gempa di suatu daerah.

"Gempa itu selalu berulang. Dia punya ulang tahun gempanya. Ulang tahun gempa adalah riset yang paling dalam sebuah penelitian gempa bumi," kata Mudrik. "Itu penelitian yang perlu serius untuk mengetahui perulangan gempa bumi setiap berapa tahun sekali."

Untuk mengetahui siklus gempa, peneliti harus mengambil beragam sampel dari dalam tanah yang dilewati sesar tertentu. Pada konteks Palu-Koro, menurut Mudrik, penelitian sudah sempat dilakukan. Akan tetapi, data yang diambil hanya berdasarkan sedikit sampel.

Mudrik menyoroti perlunya keseriusan pemerintah memfasilitasi penelitian sesar dan gempa di daerah-daerah rawan gempa. Penelitian juga disebutnya harus didorong agar tumbuh dari daerah rawan gempa, bukan selalu dilakukan dan berpusat penelitiannya di ibu kota.

"Penelitian yang saya lakukan itu kita gali [tanah] sekitar 2 meter, panjang sekitar 7 meter. Itu kalau di luar negeri penelitian gempa menggunakan ekskavator kedalamannya sampai 15-20 meter dan dia mempelajari dengan puluhan sampel, sampai ratusan sampel," ujar Mudrik.

"Itu pendanaan yang serius. Back up dari peneliti yang serius, back up dari dana, fasilitas serius, termasuk sosialisasi ke masyarakat serius pula, untuk mitigasi pendidikan."

Minim Sosialisasi dan Mitigasi Bencana

Mudrik dan Rini sepakat pendidikan mitigasi bencana bahwa masyarakat di Sulawesi Tengah belum berjalan maksimal hingga kini Bahkan, pendidikan mitigasi bencana dinilai mereka minum dilakukan pemerintah daerah.

Rini berkata, selama ia melakukan ekspedisi sesar Palu-Koro banyak ditemukan warga yang tidak mengetahui keberadaan sesar itu dan bahaya yang mengancam mereka. Ia juga menyebut minimnya sosialisasi dari pemda ihwal sesar Palu-Koro dan sejarah gempa di Donggala atau Sulawesi Tengah.

"Panduan kalau mau evakuasi kumpul di titik mana, itu juga minim. Padahal kalau terjadi gempa itu wilayah-wilayah yang bakal terkena dampak," kata Rini.

Pegiat LSM yang bergerak di bidang bencana itu menyebut, selama ini masyarakat di Sulteng hanya mengandalkan insting saat melarikan diri kala gempa terjadi. Menurut Tri, ketika gempa besar terakhir kali melanda 1968 lalu, warga di Donggala dan Sulteng menyelamatkan diri tanpa mengandalkan panduan dari pejabat pemerintah setempat.

"Umumnya warga itu cerita, yang menggerakkan mereka ketika terjadi gempa tuh pasti goyangannya. Bukan panduan lari ke mana dan ke mana. Pokoknya berhamburan saja ke luar," kata Rini.

Mudrik menganggap sosialisasi bahaya gempa dan sesar Palu-Koro yang membentang di Sulteng dapat membawa dampak positif. Salah satunya, sosialisasi yang kreatif dianggap bisa juga dimanfaatkan untuk pengembangan pariwisata di sana.

"Itu bisa diangkat menjadi atraksi wisata geologi yang baik. Jadi bisa timbal balik. Jadi peluang uang yang masuk bisa untuk membangun bangunan kota lebih aman. Hidup harmoni dengan bencana itu wajib dilakukan di Sulteng," kata Mudrik.

Baca juga artikel terkait GEMPA PALU DAN DONGGALA atau tulisan menarik lainnya Lalu Rahadian
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Lalu Rahadian
Penulis: Lalu Rahadian
Editor: Muhammad Akbar Wijaya