5 Agustus 1895

Friedrich Engels, Ia yang Nama dan Karyanya Bertahan Melintasi Abad

Ilustrasi Mozaik Friedrich Engels. tirto.id/Nauval
Oleh: Rio Apinino - 5 Agustus 2020
Dibaca Normal 7 menit
Meski lahir dari keluarga yang nyaris ideal, tapi Engels memilih terjun memperjuangkan golongan miskin.
Usia Friedrich Engels belum sampai 30 tahun, tapi ia telah memiliki hampir semua yang diimpikan banyak orang. Tristram Hunt (2009) menggambarkan pemuda ini gaya hidupnya tinggi dengan dandanan perlente dan tampang relatif di atas rata-rata. Ia juga penikmat semua yang enak-enak, dari mulai “lobster salad, Chateau Margaux, bir Pilsener, sampai perempuan mahal.”

Engels juga merupakan “raja tekstil dan pemburu rubah, anggota Manchester Royal Exchange, dan Presiden Schiller Institute”—dua asosiasi elite pada masa itu.

Tapi dengan segala privilesenya itu, Engels bukan tipikal orang kaya brengsek yang jijik melihat orang miskin. Dia malah sebaliknya. Ia mengaku memilih “meninggalkan perusahaan dan pesta makan malam, anggur, serta sampanye kelas menegah” untuk berinteraksi dengan para pekerja biasa, mendatangi bedeng-bedeng mereka. Engels melakukan ini agar dapat “melihatmu di rumahmu sendiri, mengamatimu menjalani kehidupan sehari-hari, mengobrol denganmu tentang kondisi dan masalahmu.”

Engels senang, dan lebih dari itu bangga melakukannya. “Senang karena dengan demikian menghabiskan waktu bahagia memperoleh pengetahuan tentang realitas kehidupan—ketika yang lain menyia-nyiakannya dengan berbusa-bisa bicara tentang mode dan etiket yang melelahkan; bangga karena dapat kesempatan melakukan sesuatu yang adil untuk mereka yang tertindas.”

Kalimat-kalimat penuh simpati itu ia tulis pada bagian pengantar The Condition of the Working Class in England, buku yang ditulis berdasarkan catatan turun ke bawah alias turba dengan metode etnografi ketat selama 1842-1844, dan diterbitkan setahun kemudian—ketika usianya baru 25 tahun. Waktu itu Engels tengah ditugaskan oleh bapaknya bekerja di salah satu perusahaan keluarga.

Buku ini memotret kehidupan rakyat biasa di Manchester, kota jantung revolusi industri. Engels dengan apik menggambarkan bagaimana di lokasi yang hanya selemparan batu dari rumah yang nyaman, bersih, megah, dan wangi orang-orang kaya, anak-anak ingusan dipekerjakan paksa dengan upah hanya tiga butir kentang, bedeng berisi buruh yang tidur berjejer seperti ikan teri, serta orang-orang cacat seumur hidup karena kecelakaan kerja bergelimpangan di pinggir jalan.

David McLellan menyebut buku ini telah menjadi “karya klasik tentang efek kapitalisme industri awal dan perjuangan melawannya.” Meski bukan orang pertama yang menulis hal itu, tapi Engels yang pertama-tama secara eksplisit tidak berhenti di seruan agar orang-orang yang berkecukupan menolong mereka. Ia melampaui itu, bahwa para buruh sendiri yang bakal memperbaiki kondisi mereka dengan pemberontakan.

Kondisi Kelas Pekerja masih dibaca luas sampai sekarang. Dan dalam beberapa hal, catatan Engels masih dapat dijumpai di banyak tempat, setelah karya ini terbit nyaris dua abad lalu.


Membuat Gusar Bapaknya

Engels lahir di Barmen, kota paling terindustrialisasi di Prusia (sekarang Jerman) yang berpuluh tahun kemudian jadi tempat pertama kamp konsentrasi Nazi. Dia lahir dari keluarga pemilik bisnis tekstil Ermen & Engels pada 28 November 1820.

Hunt menggambarkan bagaimana makmurnya hidup Engels muda: “Tidak ada broken home, ayah yang tak bertanggung jawab, masa kecil yang kesepian, atau bullying di sekolah.” Sebaliknya, Engels dibesarkan di tengah-tengah “orang tua yang penyayang, kakek nenek yang memanjakan, saudara yang banyak, dan makmur.”

Engels adalah anak tertua dari delapan bersaudara. Sejak kecil dia telah dipersiapkan oleh bapaknya--juga bernama Friedrich Engels--untuk mewarisi bisnis keluarga yang dirintis oleh kakeknya sejak usia 16. Pada usia 17, sebelum lulus ujian sekolah bahasa, ia dikirim magang ke perusahaan kerabat bapaknya untuk menjadi juru tulis.

Ia terus menerus dikirim untuk bekerja di berbagai tempat. Keputusan yang bakal disesali bapaknya karena Engels justru jadi radikal dan berpihak kepada buruh setelah melihat kenyataan. Dari kerja magang itulah Engels sadar bahwa dia adalah bagian dari masalah. Pada masa mudanya ia sebenarnya sudah jengah dengan tradisi aristokrat keluarga.

Dengan demikian, Engels adalah aktivis politik yang berangkat dari titik pijak materialis: melihat kenyataan di depan mata, bukan dari buku-buku teks sebagaimana banyak ‘aktivis-intelektual’ pada zamannya. Justru asupan teori datang belakangan yang kian meneguhkan keberpihakan politiknya. Ibunya, Elise van Haar, yang berlatar belakang keluarga guru, berperan penting. Diam-diam ibunya kerap mengirim karya tulis intelektual Jerman dan Prancis kepadanya.

Hunt mengatakan ideologi politik Engels mulai beralih “dari romantisme ke sosialisme” ketika dikirim magang ke Bremen pada 1838, meski juga tak lupa caranya bersenang-senang seperti “belajar dansa, mendatangi toko-toko buku, berkuda, jalan-jalan, dan berenang.” (hlm. 27). Sementara di Manchester, ia semakin radikal.

Engels hanya bekerja setahun di Bremen. Pada 1841, ia dikirim bapaknya ke Berlin untuk mengikuti wajib militer. Namun, di sana dia malah keluyuran mengikuti kuliah para profesor filsafat dan semakin rajin baca buku. Engels muda juga suka sekali mendatangi forum diskusi mahasiswa Universitas Berlin.

Dari sinilah dia mulai berinteraksi dengan kelompok yang disebut ‘Hegelian Muda’. Hegel adalah raksasa: filsuf paling besar di Jerman saat itu yang pemikirannya ditafsirkan menjadi dua cabang. Di tangan ‘Hegelian Tua’, filsafat Hegel yang dikategorikan sebagai ‘idealisme’ dijadikan landasan filosofis terhadap keberadaan sistem monarki Prusia dan Protestanisme—atau dengan kata lain melanggengkan situasi saat itu, seberapa pun bobroknya sistem tersebut. Sementara di tangan ‘Hegelian Muda’ sebaliknya: sesuatu yang terberi apat diubah menjadi lebih baik. Kelompok ini cocok betul dengan Engels yang memang jengah dengan moralitas umum elite-elite saat itu.

Ayah Engels gusar dengan aktivisme politik anak sulungnya, sebab mengharapkan anaknya menjadi manajer yang baik. Maksudnya: mengatur arus kas terus seimbang, ekspansi pabrik, memperluas jangkauan pasar, hingga terus mengeruk untung dengan cara mengeksploitasi para buruh.

Semua sudah terlambat. Engels sudah terseret terlalu jauh dan tak mungkin lagi menjadi ‘borjuis normal’. Engels kini ingin mengubah tatanan masyarakat secara keseluruhan, mengubah monarki, bukan cuma ‘merobohkan’ pabrik bapaknya. Ia bahkan sudah menjalin pertemanan dengan kelompok yang mengorganisasi pemogokan umum di kota industri, Chartis, sebelum dikirim ke Manchester setelah wajib militer selesai.


Melengkapi Marx

Pandangan politik Engels yang berpihak kepada kaum buruh tak bisa dilepaskan dari persahabatannya dengan Karl Marx, orang Jerman berdarah Yahudi yang lebih tua dua tahun darinya, yang juga tertarik dengan gagasan Hegelian Muda.

Engels berinteraksi secara tidak langsung dengan Marx lewat koran radikal Rheinische Zeitung. Ketika itu Marx bekerja sebagai redaktur, sementara Engels salah satu kontributornya dengan nama samaran—kemungkinan untuk menghindari murka sang bapak. Heinz D. Kurz menyebut Rheinische Zeitung “memainkan peran penting dalam Revolusi 1848 (revolusi yang tujuannya menggulingkan monarki Eropa)” dan “berkontribusi besar terhadap diseminasi gagasan radikal di Jerman.”

Keduanya baru bertemu secara langsung di Cologne pada November 1842. Tak ada yang istimewa dari perjumpaan ini meski sejak lama keduanya mengagumi tulisan masing-masing. Keduanya bertemu lagi di Café de la Régence, Paris, pada 28 Agustus 1844. Kali ini mereka bicara lebih banyak. Tentu saja sembari menenggak bir. Engels dan Marx bersama selama 10 hari.

Tak pernah ada yang menduga jika pertemuan itu menjadi titik awal kolaborasi hebat dua ilmuwan selama puluhan tahun. Marx dan Engels mengembangkan apa yang dikemudian hari disebut marxisme, sistem pemikiran yang ditentang habis-habisan bahkan sampai sekarang, termasuk oleh para rohaniawan. Tapi juga terus-menerus dibela dan menjadi inspirasi bagi ratusan juta orang untuk terbebas dari rantai belenggu hidup.

Pada masa jayanya, tahun 1960-an, marxisme menjadi ideologi resmi satu per tiga dunia, rival utama liberalisme Amerika dan antek-anteknya.

Masih menurut Heinz, pada tahun 1851 Marx dan Engels telah menerbitkan lebih dari 500 artikel. Ini belum termasuk karya-karya lain yang lebih serius, yang usianya jauh lebih panjang ketimbang umur biologis keduanya.

Karya kolaborasi pertama mereka diberi judul Ideologi Jerman, dibikin pertama kali pada 1845 tapi baru diterbitkan 80 tahun kemudian. Ideologi Jerman adalah kritik terhadap pemikiran Hegelian Muda, kelompok di mana keduanya pernah bergabung, terutama Bruno Bauer dan Max Striner. Martin Suryajaya, filsuf yang banyak menulis marxisme, mengatakan argumen kunci keduanya saat mengkritik Hegelian Muda adalah “tidak ada kesadaran tanpa makhluk-yang-sadar.”

Dalam karya ini ide keduanya tentang materialisme atas sejarah (materialisme historis) mulai mengemuka. Sementara kawan-kawan lamanya menganggap sejarah masyarakat berubah seturut dengan perubahan dalam ide di kepala para cerdik pandai, Marx-Engels menganggap sejarah bergerak karena ada perubahan di alam material para makhluk-yang-sadar. Karenanya mereka juga menitikberatkan arti penting revolusi, sesuatu yang dihindari betul oleh kawan-kawan lamanya.

Karya monumental lainnya adalah Manifesto Komunis, yang menurut Phil Gasper, seorang profesor filsafat, merupakan “dokumen politik paling penting sepanjang sejarah manusia.” Ditulis dengan gaya sastrawi (kalimat pembukanya: Ada hantu berkeliaran di Eropa: hantu komunisme; sementara kalimat penutupnya: Proletar tidak bakal kehilangan suatu apa pun kecuali belenggu yang mengikat mereka. Mereka akan menguasai dunia. Kaum buruh sedunia, bersatulah!), dokumen ini dipersembahkan untuk Liga Komunis, partai politik buruh yang didirikan pada Juni 1847 di London, Inggris.

Dalam Manifesto Komunis, yang kini telah diterjemahkan ke lebih dari 100 bahasa termasuk Indonesia—menunjukkan betapa luasnya pengaruh dokumen ini—kita menjumpai intisasi marxisme: bahwa sejarah manusia adalah “sejarah pertentangan kelas”—masyarakat terdiri dari kelas-kelas antagonistik dengan kepentingan tak terdamaikan—dengan penjabaran ringkas sejarah manusia sejak era berburu-meramu hingga kapitalis; bagaimana dalam tiap-tiap moda produksi sudah terkandung cikal bakal masyarakat baru; hingga dalam situasi apa komunisme mungkin dicapai.

Setelah Marx meninggal pada 1883, Engels yang merampungkan karya monumental kawannya itu, Das Kapital. Marx hanya berhasil menyusun satu jilid, dan Engels yang melengkapi dua jilid selanjutnya berdasarkan draf dan catatan-catatan kasar yang ditinggalkan.




Berkat Engels pula, Marx dapat maksimal melakukan studi-studi ekonomi-politiknya. Alasannya sederhana: Engels orang kaya, sementara Marx seumur hidupnya melarat. Bantuan dana itu membuat Marx bisa fokus menguliti teori ekonomi klasik dari Inggris, filsafat adiluhung Jerman, dan teori revolusi Prancis—disebut-sebut sebagai tiga pondasi marxisme.

Engels rutin mengirimi duit ke Marx dan keluarganya sebanyak 50 pound sterling per tahun—setara 7.500 dolar AS saat ini—sejak 1850 atau ketika naskah Kapital mulai digarap, sampai 16 tahun kemudian.

Gustav Mayer (1936) mengatakan Engels “dengan senang hati” kembali bekerja untuk perusahaan bapaknya. Kali ini sebagai representasi resmi di Manchester dan bukan lagi sebagai anak magang, meski menurutnya itu menjijikkan. Hal itu ia lakukan hanya untuk dapat membiayai studi Marx dan agar keluarga sahabatnya itu tidak mati kelaparan. Engels bilang ia mendapat uang “kira-kira 200 pound sterling” dari bapaknya—yang seperempatnya diberikan untuk kamerad terkasihnya itu.

Kabarnya Engels membantu Marx karena ia tahu diri tidak sepintar kawannya; membiayai Marx adalah caranya turut berkontribusi. Pendapat lain, Yvonne Kapp dalam buku tentang anak bungsu Marx, Eleanor Marx (1972), Engels sadar betul bahwa apa yang dilakukan sahabatnya sangat penting bagi kemajuan gerakan buruh. “Tanpa dukungan intelektual, moral, dan finansial dari Engels,” kata Kapp, “Kapital tidak akan pernah ditulis.”

Barangkali karena hal inilah banyak yang menganggap Engels sekadar ‘mesin ATM’ Marx, dan tak lebih dari itu. Padahal Engels jauh lebih besar, ia adalah juga intelektual mandiri. Vladimir Lenin, arsitek negara buruh pertama di Uni Soviet dengan meruntuhkan Tsar, memberikan puja-puji bagi Engels sebagai “sarjana dan guru proletariat modern terbaik di seluruh dunia yang beradab.”

Salah satu karya yang terkait dengan konteks omongan Lenin adalah Sosialisme: Utopis dan Ilmiah, pamflet yang ditulis Engels dan dipublikasikan pertama kali pada 1880. Pada pamflet ini Engels mengkritik keras sosialisme yang diupayakan lahir tidak dari dalam dan setelah menghancurkan masyarakat kapitalis itu sendiri, tapi dengan “eksperimen model-model komunitas.”

Sebaliknya, sosialisme ala Engels adalah sosialisme yang benar-benar lahir dari reruntuhan puing-puing masyarakat kapitalis. Ia tidak didatangkan dari luar seperti membentuk komunitas yang terpisah dari masyarakat umum, tapi muncul dari dalam masyarakat sebagai konsekuensi dari tidak terdamaikannya antagonisme kelas—antara borjuis dan proletar.

Sosialisme ini adalah ujung dari pembacaan terhadap kapitalisme, bukan sekadar kritik dengan dasar moral ala sosialisme utopis, dan oleh karena itu ‘ilmiah’.

Engels juga memiliki ketertarikan tersendiri dengan ilmu alam, bidang studi yang tampaknya kurang diminati Marx. Ia mengkaji hampir semua cabang ilmu alam antara 1873-1876, yang lantas dijadikan buku berjudul Dialektika Alam.

Salah satu teori yang dikemukakan Engels adalah soal asal-usul manusia. “Dalam teori Engels,” tulis Dede Mulyanto, dosen yang banyak mengkaji marxisme dalam jurnal Antropologi Indonesia, “kemampuan otak dan kognitif bukanlah atribut esensial dari manusia. Kapasitas otak bukanlah penyebab; tetapi akibat dari evolusi atribut yang lebih esensial dalam evolusi hominid, yaitu cara hidup terrestrial-bipedal dan penggunaan alat-alat yang menyebabkan munculnya organisasi sosial tenaga kerja.”

Teori tersebut, dalam bahasa sederhana, sebagai berikut: evolusi manusia dari kera bukan pertama-tama karena perkembangan ukuran otak, tapi karena faktor lingkungan. Terpisah dari habitat pepohonan/hutan membuat hominid era awal berevolusi menjadi bipedal alias berdiri dengan kaki dan oleh karenanya tangan terbebas. Tangan ini jadi faktor penting bagaimana mereka mengembangkan perkakas yang memungkinkan diferensiasi konsumsi (misalnya jadi memakan daging).

Otak pun berkembang, pun dengan bahasa/komunikasi, hingga muncullah hominid terakhir: homo sapiens.

Dalam cakrawala pemikiran yang lebih luas, teori Engels ini menyerang telak kecenderungan filsafat idealis (Hegel) dalam alam: bahwa apa yang terjadi di dunia hanya cerminan dari apa yang terjadi di ‘dunia ide’. Dunia ide berubah, masyarakat pun demikian. Teori Engels ini membuktikan pertama-tama manusia perlu memenuhi kebutuhan materialnya: makan, minum, dan berlindung, sebelum dapat mengembangkan yang lain seperti bahasa, sastra, hukum, seni, bahkan keyakinan terhadap yang gaib.

Engels juga seorang ahli militer, bidang keilmuan yang asing bagi Marx. Ia menganalisis beberapa perang, termasuk Perang Sipil Amerika dan pemberontakan rakyat lain, sedetail-detailnya.

Ia bahkan dipanggil dengan nama ‘Jenderal’ oleh rekan-rekan politiknya, tulis W.H. Chaloner dan W.O. Henderson dalam Engels as Military Critic (1959). W.B. Gallie berpendapat Engels adalah “kritikus militer yang paling tanggap di abad ke-19.” Sementara Martin Berger menganggap dalam ilmu militer, Marx tak lebih sebagai asisten peneliti Engels. Michael A. Boden, seorang serdadu Amerika yang besar di Perang Dingin, dalam tesisnya menjabarkan betapa teori-teori militer Engels terkait dengan gerakan bersenjata sayap kiri abad ke-20, dari Afrika ke Fipilina, hingga gerilya Kuba di bawah komando Che Guevara.

Kolaborasi Marx-Engels berakhir selamanya pada 14 Maret 1883 jam tiga kurang seperempat. Pada hari itu Marx meninggal dunia. “Pemikir terhebat berhenti berpikir. Dia ditinggalkan sendirian selama hampir dua menit, dan ketika kami kembali, kami menemukannya di kursi, tertidur lelap dengan damai tetapi untuk selamanya,” kata Engels di pemakaman Marx.

Ia menyusul Marx 12 tahun kemudian. Pada 5 Agustus 1895, tepat hari ini 125 tahun yang lalu, Engels meninggal dunia karena kanker laring (saluran pernapasan tempat pita suara).

Karena ia dikremasi dan abunya dilarung di Beachy Head, dekat Eastbourne, East Sussex, Inggris, maka jejak fisik Engels sama sekali lenyap. Tapi tidak dengan karya-karyanya, baik yang dibuat bersama Marx atau mandiri, masih dibaca sampai sekarang. Ia terus dikritisi dan disanggah, tapi juga sebagian yang lain membela pandangan-pandangannya dan menilainya masih relevan sampai sekarang, ketika kapitalisme masih jadi corak produksi dominan di dunia.

Oleh karena itu, kalimat penutup pidatonya di makam Marx, juga berlaku bagi dirinya sendiri: “Namanya akan bertahan selama berabad-abad, dan demikian pula karyanya.”

Baca juga artikel terkait SOSIALISME atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Rio Apinino
Editor: Irfan Teguh
DarkLight