Film Korea Silenced 2011, Kisah Pelecehan kepada Difabel

Oleh: Fatimah Mardiyah - 21 Oktober 2020
Dibaca Normal 3 menit
Film Korea Silenced 2011 berkisah tentang pelecehan seksual kepada siswi difabel. Upaya hukum untuk menuntut keadilan bagi mereka tidak mudah.
tirto.id - Silenced adalah film asal Korea Selatan yang dirilis pada 22 September 2011. Film yang bergenre drama ini adalah hasil adaptasi dari novel berjudul The Crucible. Buku yang ditulis oleh Gong Ji-young itu didasarkan pada kisah nyata.

Mengangkat cerita yang sama dengan novel, film Silenced menggambarkan kejadian pelecehan seksual yang dialami oleh para siswa sekolah khusus difabel di Korea Selatan.

Film yang dalam bahasa Korea disebut dengan Do-ga-ni ini disutradarai oleh Hwang Dong-hyuk. Selain film tersebut, Hwang Dong-hyuk juga menyutradarai film The Fortress (2017), Miss Granny (2014), Miracle Mile (2004), dan beberapa film Korea Selatan lainnya.

Pemeran Film Silenced (2011)

Film Silenced dibintangi oleh aktor dan aktris ternama Korea Selatan, yaitu Gong Yoo dan Jung Yu-mi. Gong Yoo berperan sebagai Kang In-ho, yaitu guru baru di Sekolah Gwangju Inhwa, yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB) khusus disabilitas di kawasan Gwangju, Korea Selatan. Dia pertama kali menyadari adanya kasus pelecehan seksual kepada para siswa yang dilakukan oleh pihak-pihak sekolah tersebut.

Pada sisi lain, Jung Yu-mi berperan sebagai Seo Yoo Jin, yaitu seorang karyawan di Pusat Hak Asasi Manusia Mujin. Seo Yoo Jin lah yang membantu Kang In-ho dalam memperjuangkan hak asasi para siswa yang menjadi korban pelecehan.

Tidak hanya pada film ini, mereka juga pernah membintangi film yang sama, yaitu film Train to Busan (2016), Kim Ji-young: Born 1982 (2019), dan Wonderland (2020).

Selain Gong Yoo dan Jung Yu-mi, masih banyak aktor dan aktirs yang turut membintangi film yang memiliki rating IMDb sebesar 8.1 dari 10 ini. Berikut adalah daftar lengkap pemain Silenced (2011):

Sinopsis Film Silenced (2011)

Fokus utama dalam film ini adalah pelecehan seksual yang dialami oleh beberapa siswa di Sekolah Gwangju Inhwa, sekolah khusus anak tuli.

Kang In-ho, sebagai guru baru di sana, telah merasakan suasana yang aneh sejak kedatangannya ke sekolah tersebut. Beberapa murid menunjukkan gelagat aneh dan mencurigakan, di antaranya adalah Kim Yeon-doo, Jin Yoo-ri, dan Jeon Min-soo. Mereka terlihat sedang menutupi sebuah rahasia.

Setelah menyaksikan beberapa kejadian yang mencurigakan, Kang In-ho pun menyadari bahwa siswa-siswa tersebut telah mengalami pelecehan seksual. Dengan bantuan Seo Yoo Jin selaku karyawan di Pusat Hak Asasi Manusia Mujin, Kang In-ho berusaha untuk melaporkan kasus tersebut sebagai bentuk dari pelanggaran hak asasi anak.

Pada awalnya, ketiga siswa tersebut tetap menutup suara. Namun, setelah dibujuk oleh Kang In-ho dan Seo Yoo Jin, mereka akhirnya menceritakan segala kejadian yang mereka alami. Tidak ada yang menyangka bahwa pelakunya adalah kepala sekolah dan guru di sekolah tersebut.

Fokus cerita pun berlanjut ke penegakkan hukum yang diperjuangkan oleh Kang In-ho dan Seo Yoo Jin. Banyak halangan yang mereka hadapi, mulai dari ketidakpercayaan publik hingga adanya penyuapan yang merugikan korban.

Selama proses tersebut, ketiga siswa yang menjadi korban pelecehan seksual juga berusaha sekuat mungkin dalam memberikan pernyataan dalam persidangan. Walaupun pada awalnya publik tidak memercayai pernyataan mereka, beberapa bukti telah menunjukkan bahwa semua perkataan yang mereka ucapkan memang benar adanya.

Mengapa Film Silenced (2011) Layak untuk Ditonton?

Mengingat cerita dari film ini diangkat dari kisah nyata, penonton akan merasa tertampar oleh realita yang ada. Banyak pelajaran dan nilai yang dapat dipetik dari film ini.

Dari film ini, dapat dilihat bahwa pelecehan seksual tidak pandang bulu. Tidak hanya ke perempuan, pelecehan seksual juga dapat terjadi pada laki-laki. Stigma umum masyarakat yang mengatakan bahwa pelecehan seksual hanya terjadi pada perempuan pun dapat dipatahkan. Walaupun, perempuan memang lebih rentan mengalami pelecehan seksual.

Selain itu, film ini pun dapat mengajarkan bahwa pelecehan seksual terjadi bukan karena kesalahan korban, baik dari pakaian yang digunakan, apa yang sedang dilakukan, atau berada di suatu tempat pada waktu tertentu. Musababnya, korban pelecehan pada film ini adalah anak-anak.

Dapat dilihat bahwa mereka menggunakan pakaian yang normal, tidak terbuka atau "mengundang" sang pelaku. Korban pun memiliki kekurangan fisik, yaitu tuli atau terganggunya organ pendengaran.

Dari paparan tersebut, anggapan bahwa pelaku melakukan pelecehan korban karena perilaku atau fisik dari korban dapat dipatahkan. Korban memang tidak dapat disalahkan atas terjadinya pelecehan seksual. Pelaku yang salah, apapun itu alasannya.

Korban pelecehan seksual yang tuli pun seakan menunjukkan bahwa mereka yang lemah akan lebih rentan terkena pelecehan seksual. Pelaku mengincar tipe korban seperti itu karena akan sulit bagi mereka untuk mengadukan kejahatan tersebut.

Walaupun dalam film ini diceritakan bahwa para korban telah berusaha untuk melaporkannya ke kepolisian, hal tersebut sulit untuk dibuktikan, terlebih dengan kondisi mereka yang memperlemah kepercayaan para polisi.

Tidak hanya seputar kejahatan pelecehan seksual, film ini dapat menawarkan realita kepada perihal sulitnya menegakkan hukum, khususnya terkait pelecehan seksual. Hal tersebut dikarenakan banyaknya penghalang dalam melaporkan aduan.

Kepala sekolah, sebagai salah satu pelaku pelecehan seksual, adalah sosok yang dihargai oleh masyarakat dan jamaah gereja sehingga sulit bagi mereka untuk percaya bahwa orang yang terhormat dapat melakukan tindakan tidak etis tersebut.

Realita yang satu ini memang benar adanya. Masyarakat cenderung lebih percaya akan status dan kehormatan seseorang dan tidak percaya jika orang tersebut melakukan kejahatan, seperti pelecehan seksual.

Selain itu, kepolisian pun telah disuap oleh pihak sekolah agar tidak menindaklanjuti kasus tersebut. Dapat dikatakan bahwa pihak yang disuap menjadi penghalang umum dalam banyak pelaporan kasus kejahatan yang terjadi di dunia saat ini.

Dapat juga dilihat bahwa pemerintah daerah dan dinas pendidikan pada kawasan tersebut saling melempar tanggung jawab dan mengoper kasus tersebut ke pihak-pihak lain. Mereka saling merasa kalau kasus pelecehan seksual tidak sesuai dengan bidang tugas mereka.

Hal tersebut menjadi salah satu kesulitan dalam melaporkan kasus pelecehan seksual, karena tidak jelasnya birokrasi dalam hal pengaduan.

Faktor-faktor tersebut memperlihatkan sebuah realita yang menyedihkan. Film Silenced seakan-akan memberi tahu kita bahwa penegakkan hukum masih diisi dan didukung oleh pihak-pihak yang bertangan kotor.

Selain itu, diperlihatkan juga bahwa kasus pelecehan seksual belum ditanggapi dan ditangani dengan baik. Padahal, kasus tersebut sangat merugikan para siswa, baik dari segi fisik maupun mental. Namun, pihak-pihak yang berkewajiban tidak peduli dan menutup mata dan telinga dan telinga mereka, membiarkan siswa tersebut merana dalam kesakitan dan trauma berat.


Baca juga artikel terkait DRAMA KOREA atau tulisan menarik lainnya Fatimah Mardiyah
(tirto.id - Film)

Kontributor: Fatimah Mardiyah
Penulis: Fatimah Mardiyah
Editor: Agung DH
DarkLight