Menuju konten utama

Faktor yang Membuat Elektabilitas Gibran Masuk 5 Besar di Survei

Posisi Gibran dalam survei elektabilitas tidak dapat dilepaskan dari pengaruh politik Jokowi.

Faktor yang Membuat Elektabilitas Gibran Masuk 5 Besar di Survei
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mendengarkan aspirasi guru ketika meninjau revitalisasi sekolah SDN-7 Jangka saat kunjungan kerja (kunker) ke Kabupaten Bireuen, Aceh, Kamis (6/8/2026). Kunker Wakil Presiden Gibran ke Aceh itu untuk melihat langsung perkembangan pembangunan dua infrastruktur vital jembatan Krueng Tingkeum Kutablang dan jembatan Teupin Mane, revitalisasi sekolah yang rusak serta menyerap langsung aspirasi masyarakat untuk percepatan pemulihan kehidupan warga terdampak pascabencana Sumatera pada akhir November 2025. ANTARA FOTO/Rahmad/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kritik dan tekanan politik yang terus diarahkan kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai tidak serta-merta membuat elektabilitasnya menurun.

Di tengah berbagai polemik yang menyertainya, Gibran masih berada dalam jajaran empat besar survei elektabilitas calon presiden (capres) di sejumlah lembaga survei.

Dalam survei terbaru Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis Minggu (18/10/2026), Gibran menempati urutan keempat dengan elektabilitas 6,9 persen melalui simulasi pertanyaan terbuka atau top of mind.

Hasil serupa juga terlihat dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada Sabtu (17/10/2026). Dalam simulasi semi-terbuka dengan 24 nama calon presiden, Gibran memperoleh elektabilitas sebesar 8,4 persen dan menempati urutan keempat, di bawah Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto. Survei tersebut dilakukan pada 1–10 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.213 responden.

Pengamat komunikasi politik Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, menilai terdapat sejumlah faktor yang dapat memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap Gibran, termasuk sikap dan responsnya dalam menghadapi berbagai persoalan nasional.

Menurut Ari, salah satu hal yang patut diperhatikan adalah bagaimana Gibran merespons isu yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat, seperti polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam pandangannya, Gibran menunjukkan pendekatan yang berbeda dalam merespons sejumlah kebijakan pemerintah.

“Harus diakui pemilihan sikap Gibran terhadap kebijakan pemerintahan seperti polemik MBG dan masalah Karhutla begitu berbeda dengan sikap prabowo dan publik menaruh respek kepada Gibran,” ujar Ari dalam keterangannya, Kamis (22/10/2026).

Di sisi lain, Ari melihat intensitas sorotan terhadap Gibran juga tidak terlepas dari kedudukannya sebagai Wakil Presiden.

Berbeda dengan figur seperti Dedi Mulyadi dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Gibran menduduki posisi strategis sebagai orang nomor dua dalam pemerintahan yang secara konstitusional dapat menggantikan Presiden apabila berhalangan tetap.

Posisi tersebut membuat setiap langkah, pernyataan, maupun dinamika politik yang melibatkan Gibran memperoleh perhatian besar dari publik.

Meski demikian, Ari mengingatkan bahwa posisi Gibran dalam survei elektabilitas tidak dapat dilepaskan dari pengaruh politik Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

“Kalau pun Gibran bisa masuk 5 besar peraih elektabilitas tertinggi tidak terlepas dari efek nama besar ayahnya Jokowi yang memang punya efek politik di masyarakat,” kata Ari.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa hasil survei dari berbagai lembaga perlu dicermati secara hati-hati, khususnya terkait konsistensi metodologi dan pelaksanaan survei di lapangan.

Menurut Ari, dinamika tersebut menunjukkan bahwa posisi elektoral seorang figur politik tidak hanya dipengaruhi oleh tingkat popularitas, tetapi juga berkaitan dengan dukungan politik dan persepsi yang berkembang di masyarakat.

Baca juga artikel terkait GIBRAN RAKABUMING RAKA

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Editor: Bayu Septianto