Menuju konten utama

Faisal Basri Sebut Pemerintah Gagal Bangun Infrastruktur Laut

Menurut Faisal, kesalahan pemerintah dalam menentukan prioritas pembangunan infrastruktur telah mengakibatkan tidak meratanya harga produk domestik seperti buah-buahan.

Faisal Basri Sebut Pemerintah Gagal Bangun Infrastruktur Laut
Faisal Basri saat menunjukkan gula pasir produksi PT Angels Production yang merupakan pabrik rafinasi di ITS Tower pada Senin (14/1/2019). tirto.id/Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Faisal Basri mengkritik pemerintah yang belum memprioritaskan infrastruktur laut. Padahal, kata dia, hal tersebut bisa menjadi potensi Indonesia sebagai negara maritim. Hal itu terlihat dari masih dominannya penggunaan jalur darat sebagai solusi logistik di Indonesia.

"Indonesia 90 persen barang lewat darat. Di dunia 70 persen barang diangkut lewat laut. Negara maritim masa cuma 10 persennya lewat laut," ucap Faisal dalam konferensi pers bertajuk "Tawaran Indef untuk Agenda Strategis Pangan, Energi, dan Infrastruktur" di ITS Tower pada Kamis (14/2).

Faisal menjelaskan, kesalahan pemerintah dalam menentukan prioritas pembangunan infrastruktur telah mengakibatkan tidak meratanya harga produk domestik seperti buah-buahan. Ia mencontohkan perbedaan harga buah duku yang diproduksi di Pontianak yang dihargai RP5.000/kg saat panen dan Rp15.000/kg saat akhir panen. Sedangkan harga jual di Malang mencapai Rp49.950/kg.

Menurutnya, apabila pembangunan infrastruktur laut memang dibenahi dengan baik, maka perbedaan harga itu tidak akan terjadi. Sebaliknya, harga di tiap daerah sepatutnya tidak berbeda jauh.

"Pontianak dan Malang itu beda harganya seperti langit dan bumi. Harga bisa sama kalau yang diperkuat infrastruktur laut," ucap Faisal.

Selain disparitas harga antara daerah, Faisal juga mengkritik produk lokal Indonesia yang terpaut jauh lebih mahal dibanding impor. Menurutnya, fenomena itu tidak lain disebabkan karena penggunaan jalur darat sebagai jalur logistik sehingga tidak mengherankan bila produk impor tampak lebih kompetitif.

"Kenapa yang lokal lebih mahal? Karena diangkut pakai truk yang cuma 10 ton kapasitasnya. Ongkos angkutan per kg-nya mahal banget. Mangga dari Brazil, jeruk dari Cina diangkut pakai kapal sekali angkut 20 ribu ton bukan 10 ton. Maka ongkos angkutnya bisa hampir RP 0/Kg,"

Atas dasar itu, Faisal menyatakan, pembangunan infrastruktur yang terfokus ke jalan tol merupakan hal yang keliru. Sebab, hanya membantu pergerakkan manusia ketimbang membantu dalam meringankan logistik barang.

Terlebih ketika kesalahan ini menyebabkan Indonesia menjadi tergantung dengan jasa angkut kapal luar negeri. Sebab, hal ini turut menyebabkan melebarnya defisit neraca perdagangan terutama sektor jasa.

"Sekarang 95 persen ekspor impor kita oleh kapal asing. Defisit neraca jasa kita melebar gara-gara enggak punya armada sendiri," ucap Faisal.

Baca juga artikel terkait PROYEK INFRASTRUKTUR atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Alexander Haryanto