Fabrican: Keajaiban Teknologi Fesyen 2022

Kontributor: Eyi Puspita, tirto.id - 22 Okt 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Mampukah Fabrican menjawab tuntutan untuk mewujudkan fesyen berkelanjutan dan mengurangi limbah tekstil?
tirto.id - Supermodel Bella Hadid berdiri di panggung pagelaran Coperni Spring - Summer 2023, Paris Fashion Week, 1 Oktober 2022 lalu. Hadid nyaris tak memakai apa pun, hanya selembar celana thong putih. Tangannya menutupi payudara. Dua orang pria menghampiri Hadid, masing-masing menggenggam alat penyemprot spray gun berisi material cair bernama Fabrican. Keduanya mulai menyemprot tubuh Hadid hingga terbalut oleh lapisan yang awalnya tampak semacam jaring laba-laba.

Setelah selesai dan lapisan material itu mengering seketika, head of design Coperni – Charlotte Raymond — merapikan ujung-ujung yang masih kasar, lalu menggunting bagian bawahnya hingga terbentuk belahan di sepanjang kaki kiri hingga paha. Jadilah gaun putih off-shoulder dalam waktu sekitar sepuluh menit saja. Secara harafiah, gaun hasil ‘cat semprot’ itu benar-benar diciptakan di atas panggung. Berbalut gaun tersebut, Bella Hadid melenggang di runway, mengundang decak kagum hadirin.

Momen penutup dalam pagelaran Coperni – label fashion asal Prancis — ini menjadi viral dan menghebohkan dunia fesyen. Paris Fashion Week memang selalu menghadirkan kejutan yang spektakuler. Kali ini, kejutan itu berupa gaun instan hasil material fabrican. Gaun ini disebut-sebut sebagai perpaduan antara kreativitas fesyen dan inovasi teknologi.


Namun kemudian timbul pertanyaan: apakah material alternatif semacam fabrican bisa menjawab tuntutan untuk mewujudkan fesyen berkelanjutan dan mengurangi limbah tekstil?



Fabrican, Material Inovatif

Gaun instan Bella Hadid adalah hasil kerja sama dua desainer dan pendiri Coperni: Sébastien Meyer dan Arnaud Vaillant dengan pencipta fabrican, Manel Torres. Meyer menemukan fabrican melalui internet lalu ketiganya mulai bekerja sama sekitar enam bulan sebelum pagelaran. Selama ini, Coperni memang dikenal sebagai label yang kerap memadukan fesyen dengan sains, teknologi, seni dan kerajinan tangan.

“Kami mungkin takkan mendapatkan keuntungan dari gaun ini, tapi ini adalah sebuah perayaan inovasi. Kami ingin menciptakan momen besar dalam fesyen, karena kami punya gairah memajukan fesyen,” ucap Arnaud Vaillant.

“Gaun ini bisa dipakai, disimpan, dan digantung di lemari,” lanjut Sébastien Meyer. Namun jika Anda sudah tak menginginkannya lagi, gaun ini bisa dijadikan cairan fabrican kembali, lalu disemprot ulang.”

Kedengarannya seperti keajaiban kecil, tapi apakah sebenarnya fabrican? Material ini terbuat dari suspensi polimer cair, zat pengikat seperti lateks, serat natural (katun, linen, wol) atau sintetis (poliester, polipropilena, nilon), dan pelarut yang cepat menguap seperti aseton.

Pelarut akan menghantarkan material agar menyemprot keluar dalam bentuk cairan, lalu menguap seketika bila material bersentuhan dengan udara dan mengenai kulit atau permukaan lain. Material pun segera mengering lalu berubah menjadi bahan yang solid, elastis, dan bertekstur seperti suede.


Namun material ini juga bisa dimanipulasi hingga menghasilkan tekstur lain yang mirip fleece, kertas, renda, atau karet – tergantung jenis serat dan zat pengikat yang digunakan serta teknik pengaplikasiannya.

Fabrican bisa diaplikasikan dengan berbagai alat. Selain disemprotkan melalui spray gun seperti yang dipertunjukkan dalam pagelaran Coperni dan Bella Hadid, juga bisa dengan kaleng aerosol, penyemprot robotik, dan spray portabel yang sekaligus bisa menampung hingga 22 liter fabrican. Bahan non anyaman yang tercipta dari proses penyemprotan ini disebut kain Spray-on.



Tak Hanya untuk Fesyen

Manel Torres memiliki gelar sarjana di bidang desain fesyen, lalu menempuh pendidikan master di Royal College of Art, London. Pada 2003, Torres yang berasal dari Barcelona, Spanyol, menciptakan fabrican sekaligus mendirikan perusahaan Fabrican Limited yang mengeksplorasi riset inter-disipliner serta menghubungkan dunia sains dan desain.

Dalam presentasi TEDx Talk 2013, Torres ‘mengeluh’ tentang repotnya menjadi desainer. Menurutnya, proses pembuatan busana terlalu panjang. Seorang desainer harus menciptakan pola, lalu mencari bahan yang tepat, melakukan pengepasan baju dan sebagainya. Torres ingin bisa menciptakan sesuatu yang bisa melakukan semua itu dengan lebih singkat.

Ia lalu mendapat ide dari silly string – mainan jaring benang plastik warna-warni yang disemprotkan dari kaleng aerosol. Silly string biasa digunakan dalam berbagai keriaan, seperti acara ulang tahun atau festival. Torres sendiri memperoleh ‘momen eureka’ saat melihat silly string yang dipakai di pesta pernikahan temannya.

“Saya juga belajar dari jaring laba-laba yang kuat dan kokoh. Saya lalu terpikir untuk membuat material instan non anyaman. Namun saya membutuhkan pengetahuan ilmiah, jadi saya kemudian melakukan penelitian di Imperial College London yang terkenal akan riset sainsnya,” kata Torres. Butuh dua tahun sampai penelitian Torres mulai menampakkan hasil.

Torres membayangkan orang bisa masuk ke sebuah booth, memesan baju dengan model dan bahan spesifik sesuai bayangan mereka, lalu baju itu bisa langsung disemprotkan ke tubuhnya dan selesai dalam waktu singkat.

Walaupun terobosan ini awalnya dikembangkan untuk industri fesyen, tetapi fabrican telah diaplikasikan untuk berbagai bidang lain. Antara lain: di bidang kesehatan, untuk memproduksi masker wajah, baju pelindung medis, gips, perban; di bidang otomotif, untuk interior mobil, dasbor, jok, panel pintu; di bidang desain, untuk dekorasi dan wadah; aneka barang konsumsi seperti spons instan, kain pel, lap makan, popok, pantyliner: di bidang lingkungan, untuk manajemen tumpahan minyak di laut dengan cara menahan tumpahan tetap di tempatnya agar mudah disingkirkan.


Tuntutan Fesyen Berkelanjutan

Pagelaran Coperni yang memviralkan nama fabrican muncul saat dunia fesyen – terutama perusahaan besar dengan praktik fast fashion — sedang didesak untuk lebih memperhatikan dampak lingkungan yang timbul dari produksi tekstil.

Industri fesyen bertanggung jawab atas sebagian besar polusi dan limbah global, terutama limbah selama proses produksi (produk cacat, sampel lama, kelebihan garmen). Pada 2020, sekitar 18,6 juta ton limbah tekstil dibuang di tempat pembuangan akhir di seluruh dunia.

Sementara Indonesia menghasilkan 2,3 juta ton limbah tekstil per tahun, menurut data SIPSN KLHK (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).

Perubahan sangat dibutuhkan karena industri fesyen menguras 93 miliar meter kubik air per tahun, membuang 500 ribu ton microfiber plastik ke laut dan bertanggung jawab atas 10% emisi karbon global – menurut Ellen MacArthur Foundation. Selain itu, 20% air limbah juga berasal dari pewarnaan tekstil.

Produksi bahan kulit dalam industri fesyen juga mengakibatkan deforestasi hutan Amazon Brazil. Pada 2020, 43% deforestasi Amazon diakibatkan oleh industri ini.

Untuk menjawab masalah lingkungan, para pelaku dunia fesyen sedang mengembangkan biomaterial yang terbuat dari dedaunan (misalnya kaktus dan nanas), tumbuhan (rumput laut, bambu), limbah buah (biji dan kulit anggur, batang pisang), jamur, serta mikroorganisme yang ditumbuhkan di lab untuk menggantikan tekstil dari hewan dan mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan.

Beberapa desainer juga memanfaatkan bakteri. Hazel Roldan, desainer Filipina, memakai bakteri untuk memproduksi bahan semacam kulit. Sementara desainer Belanda, Laura Luchtman dan Ilfa Siebenhaar, menggunakan bakteri untuk pewarna kain demi mengurangi racun kimia dan konsumsi air yang intensif.


Infografik Fabrican
Infografik Fabrican. tirto.id/Quita



Repair, Reuse, Recycle

Fabrican sendiri mengklaim telah berkomitmen untuk mengembangkan metode produksi yang berkelanjutan dan menciptakan produk yang lebih hijau. Teknologi fabrican menekan rantai suplai industri dan mengurangi ketergantungan pada penyedia komponen di luar negeri sehingga lebih efisien dan meminimalkan jejak karbon.

Sebagian besar serat yang digunakan adalah hasil daur ulang dari baju dan kain bekas. Teknologi fabrican juga bisa memakai serat dan zat pengikat biodegradable sebagai pengganti polimer berbahan bakar fosil. Selain itu, teknologi kain spray-on tidak menggunakan bahan perusak lapisan ozon. Untuk barang konsumsi, fabrican memakai propelan yang tidak mudah terbakar dengan potensi pemanasan global terendah.

Teknologi kain spray-on juga mendukung filosofi repair, reuse, recycle. Misalnya, kain spray-on bisa digunakan untuk memperbaiki baju yang rusak sehingga memperpanjang usia produk itu. Selain itu, produsen juga dapat menggunakan kembali seluruh komponen fabrican, baik cairan maupun solid. Dengan begitu, bisa mengurangi konsumsi bahan mentah, energi dan limbah.

Penggunaan material berkelanjutan dalam produksi fesyen global memang belum sebanyak yang dibutuhkan. Namun menurut laporan riset 2019 firma konsultasi McKinsey & Company “Fashion’s New Must-Have: Sustainable Sourcing at Scale”, ada peningkatan hingga lima kali lipat dalam waktu dua tahun saja.

Kurang dari satu dekade, berbagai perusahaan rintisan telah muncul untuk mengembangkan biomaterial. Belum semua perusahaan tekstil –terutama di AS dan Eropa—berhasil mengaplikasikan material berkelanjutan, tapi berbagai eksperimen untuk mewujudkan paradigma baru fesyen terus dilakukan.

Melihat gerakan-gerakan ini, semoga kita bisa berharap kalau material berkelanjutan akan makin banyak digunakan oleh industri, baik fesyen maupun lainnya.

Baca juga artikel terkait FASHION WEEK atau tulisan menarik lainnya Eyi Puspita
(tirto.id - Mild Report)

Kontributor: Eyi Puspita
Penulis: Eyi Puspita
Editor: Lilin Rosa Santi

DarkLight