Issey Miyake Melawan Batasan Normatif dalam Fesyen Barat 1980-an

Oleh: Hasya Nindita - 11 Januari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Pada 1980-an, Issey Miyake coba melampaui batasan normatif fesyen Barat dengan karyanya. Berhasil berkat perpaduan teknologi dan kekriyaan tradisional.
tirto.id - Issey Miyake mungkin tidak menduga tas Bao Bao rancanganya akan jadi ikonis. Tas yang dirilis pada 2000 itu terbuat dari jaring polyester berlapis susunan segitiga polivinil kecil yang fleksibel. Ketika Bao Bao diisi barang dan bersisian dengan tubuh pemakainya, potongan geometris ini akan mengubah bentuk permukaan datar menjadi permukaan tiga dimensi sehingga menciptakan beragam bentuk baru.

Bao Bao memang sesuai benar dengan filosofi fesyen Miyake yang mengusung desain inovatif. Ia dihidupkan oleh teknologi dengan tujuan menciptakan bentuk dan gerakan yang unik. Tak heran jika The Guardian memuji tas Bao Bao sebagai amazing piece of engineering. Berkat tas itu pula, pendapatan label mode milik Miyake meningkatkan begitu pesat.

Mulanya, tas ini akan diperkenalkan dengan nama Bilbao sebagai penghormatan untuk Museum Guggenheim. Dalam waktu singkat, tas Bao Bao berhasil masuk ke dalam jajaran penjualan terbaik dari perusahaan mode Miyake yang eksis sejak 1970. Bao Bao kemudian diluncurkan sebagai lini terpisah pada 2010.

Meski sudah melalui banyak penyesuaian bentuk, ukuran, dan warna, desain Bao Bao berhasil mempertahankan eksistensinya di skena it bag—tas tangan bermerek rancangan desainer kondang. Bahkan, Bao Bao termasuk dalam desain yang paling banyak ditiru di pasaran.

“Bao Bao dari Issey Miyake adalah lini tas bertema ‘bentuk yang dibuat seolah-olah secara kebetulan’. Fitur yang dibawa adalah fleksibilitas yang fungsional untuk gaya hidup modern. Kami telah menghadirkan rangkaian produk unik melalui pencarian bentuk potongan sederhana dan material yang beragam,” ucap perwakilan dari label Miyake kepada Dezeen.

Sepanjang karirnya, Miyake banyak menyumbang terobosan baru bagi industri mode global. Dia tidak pernah berhenti bereksperimen dengan material dan desain baru. Pun, dia tidak takut mendobrak batasan-batasan normatif dalam industri fesyen.

Karya-karyanya merupakan perpaduan antara kekriyaan, penerapan teknologi, dan juga teknik daur ulang. Tidak hanya kain, Miyake pernah mengeksplorasi kertas hingga tutup botol bekas sebagai material dasar produk fesyennya. Tak lupa, dia juga selalu menyisipkan anasir budaya tradisional Jepang dalam karyanya.

Hasilnya adalah karya-karya adiluhung sekaligus egaliter yang mampu bertahan selama lima dekade. Dialah perancang turtleneck hitam yang jadi kekhasan busana Stave Jobs. Kimono yang dipakai terbalik oleh Zaha Hadid pun tak lain adalah hasil tangan dinginnya.

Bapak avant-garde Jepang

Issey Miyake baru berusia tujuh tahun ketika bom atom meledakkan tanah kelahirannya, Hiroshima, pada 6 Agustus 1945. Miyake selamat dari ledakan, tapi ibunya tewas akibat paparan radiasi bom atom tiga tahun kemudian.

Ketertarikan Miyake akan fesyen datang secara kebetulan. Miyake lalu menekuni studi desain grafis di Tama Art University, Tokyo. Setelah lulus kuliah pada 1964, dia memutuskan pergi ke Paris untuk bekerja di label busana premium Guy Laroche. Setelah dua tahun bekerja di sana, dia lalu pindah ke lini Hubert de Givenchy. Setelahnya, seturut The Guardian, Miyake sempat menyambangi New York untuk bekerja dengan desainer Amerika Geoffrey Beene, sebelum kembali ke Jepang pada 1970.

Masih pada tahun yang sama, berbekal keterampilan yang dipelajarinya di Paris dan New York, Miyake lantas mendirikan Miyake Design Studio di Tokyo. Semula Miyake fokus pada produksi busana wanita. Senarai koleksi pertamanya dipamerkan di New York pada 1971. Dua tahun kemudian, Miyake memamerkan koleksi busananya di Paris sebelum butik internasional pertamanya resmi berdiri di ibu kota Perancis itu pada 1975.

“Sejak 1976, Miyake mulai memproduksi busana pria sambil tetap mengembangkan koleksi busana wanitanya. Usai memperkenalkan koleksinya secara bertahap, Miyake meluncurkan koleksi lengkapnya pada 1978,” tulis penulis fesyen Saxony Dudbridge di laman Catwalk Yourself.

Sejak awal, Miyake terinspirasi menciptakan ragam desain baru yang memadukan antara bentuk pakaian tradisional Jepang dan bentuk pakaian Barat. Miyake juga bereksperimen dengan berbagai material mentah seperti kapas dan wol untuk pakaian oversized. Tujuannya adalah menciptakan busana yang dapat dipakai oleh berbagai bentuk tubuh tanpa mengekspos bentuk tertentu.

Bentuk pakaian tradisional Jepang yang cenderung longgar menjadi ide awal desain siluet Miyake. Desain ciptaannya luwes dan terbuka untuk digunakan oleh siapa pun. Desain Miyake juga membebaskan pemakainya menentukan sendiri bagaimana busana itu akan dipakainya.

“Pakaian-pakaianku menjadi bagian dari seseorang, ia menjadi bagian dari seseorang secara fisik. Jadi, yang kubuat boleh jadi adalah alat. Orang-orang membeli pakaian rancanganku dan menjadikannya alat untuk berkreasi,” kata Miyake sebagaimana dikutip Metropolis.

Karya-karya Miyake mendapat banyak sorotan karena dianggap pelaku mode di Barat menganggapnya tidak biasa untuk ukuran dekade 1980-an. Kala itu, bentuk tubuh masih menjadi pertimbangan utama fesyen Barat. Busana yang hadir di pasaran adalah busana yang menonjolkan dan mengekspos kontur tubuh wanita.

Menurut Yuniya Kawamura, Miyake melawan arus dengan mengenalkan pakaian berukuran besar dan longgar. Gaun ciptaannya seringkali hanya berbentuk lurus dan sederhana. Dia juga memproduksi mantel dan jaket dengan ukuran cukup besar sehingga dapat dikenakan oleh wanita maupun pria.

Berkat karya-karyanya yang melampaui norma-norma fesyen zaman itu, Miyake dihormati sebagai Bapak Avant-garde Jepang. Dia kerap disandingkan dengan desainer Jepang lain, Rei Kawakubo dan Yohji Yamamoto, yang juga turut berperan besar dalam mengenalkan estetika Jepang pada ranah fesyen global.


Infografik Issey Miyake
Infografik Issey Miyake. tirto.id/Fuad

Memadukan Teknologi dan Kekriyaan

Karakter desain Miyake dibentuk oleh inovasi teknologi dan kesadaran akan modernitas. Namanya memang identik dengan eksperimen penggunaan teknologi dan hal-hal yang tidak biasa. Salah satu terobosan besar Miyake adalah adalah produk orisinal Pleats Please yang diluncurkan pada 1993.

Miyake berkolaborasi dengan Makiko Minagawa, direktur tekstil perusahaannya, untuk membuat lipatan yang tak biasa pada kain. Secara tradisional, lipatan dibuat dengan cara melipat dan menekan kain secara permanen sebelum kain itu dipotong. Miyake dan Minagawa mencoba sebaliknya.

Seturut penjelasan Kawamura, mulanya mereka memperbesar ukuran pola di kain sampai dua setengah atau tiga kali. Potongan pola itu lalu dilipat dan disetrika—sebagaimana proses membuat lipatan biasa, baru kemudian dijahit untuk mempertahankan garis tetap lurus pada tempatnya. Setelah itu, bahan pakaian itu dipres lagi di antara dua lembar kertas yang dipanaskan—dari proses itulah muncul lipatan permanen.

Sebelum itu, Miyake telah membuat sebuah terobosan pada 1976 lewat konsep yang disebut A Piece of Cloth (A-POC). Sederhananya, itu adalah konsep tentang pakaian yang terbuat dari selembar kain yang menutupi seluruh tubuh. Label A-POC ini baru diluncurkan ke publik pada 1999.

“Saya bereksperimen membuat perubahan mendasar pada sistem produksi pakaian. Pikirkanlah, sebuah benang masuk ke mesin berteknologi komputer mutakhir yang akan merajutnya menjadi pakaian lengkap. Jadi, kita tidak perlu memotong dan menjahit kain,” tutur Miyake kepada Metropolis.

Tujuan A-POC adalah mengurangi limbah kain. Teknik ini juga memungkinkan pembeli untuk mengukur dan memotong kain rajutan itu menjadi busana sesuai keinginan mereka. Ia bisa juga memproduksi topi kecil, sarung tangan, kaos kaki, rok, atau bahkan gaun.

Meski begitu, kesuksesan Miyake tidak sepenuhnya ditopang oleh inovasi dan teknologi. The Guardian menulis, kunci kesuksesan Miyake sebenarnya terletak pada caranya memadukan teknologi dengan elemen-elemen kriya tradisional.

Baca juga artikel terkait FASHION atau tulisan menarik lainnya Hasya Nindita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Hasya Nindita
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight