El Santo, Pahlawan Besar Orang-orang Biasa

Oleh: Dea Anugrah - 27 September 2016
Dibaca Normal 2 menit
Rakyat Meksiko membutuhkan pahlawan kultural. Mereka memiliki gagasan tentang orang yang meluruskan kekeliruan-kekeliruan di dunia. El Santo mengambil peran tersebut dan itulah yang menjadikannya dimuliakan hingga berpuluh-puluh tahun kemudian
tirto.id - 23 September lalu, Google menampilkan doodle terbaru di laman utamanya. Dalam sebuah bingkai hitam, logo perusahaan itu dibayang-bayangi sebuah topeng kain. Jika kita menempatkan kursor pada logo itu, sebuah keterangan seketika muncul: “Ulangtahun ke-99 Rodolfo Guzman Huerta (El Santo).”

Maaf, siapa? Mengapa Google merayakan kehidupannya?

Rodolfo lahir di Tulancingo, Meksiko, sebagai putra kelima pasangan Jesus Guzman Campuzano dan Josefina Huerta. Dilihat dari sisi mana pun, mereka adalah orang-orang biasa, keluarga biasa. Lima belas tahun setelah kelahirannya, Rodolfo bisa saja jadi satu dari sekian banyak remaja yang berkeliaran di jalan-jalan Mexico City dan berkata “Tacos, Mister? Tacos?” kepada setiap orang berkulit putih yang dia jumpai.

Rodolfo memang tidak datang dari Planet Krypton dan orangtuanya bukan pemilik Wayne Enterprises, namun, bekas yang ia tinggalkan di dunia fana ini jelas bukan saus taco.

John F. Molinaro dari Slam! Sports menulis tentang peringatan kematian Rodolfo pada tahun 2000: “Enam belas tahun setelah ia wafat … hari ini ditandai dengan perayaan besar-besaran ... Para penggemar dari segala pelosok negeri berziarah ke situs mausoleumnya di Mexico City dan menyampaikan rasa hormat kepada pria yang dijuluki dengan mesra sebagai El Enmascarado de Plata atau Pria Bertopeng Perak itu.”

28 Juni 1934, di Arena Peralvillo Cozumel, Rodolfo naik ring untuk kali pertama sebagai pegulat profesional. Namun, sampai bertahun-tahun kemudian ia tidak menonjol. Hal itu terlihat dari keputusannya bolak-balik berganti nama panggung. Ia pernah menjadi Rudy Guzman, El Hombre Rojo (Pria Merah), El Demonio Negro (Iblis Hitam), dan El Murcielago 2 (Kelelawar 2).

Nama terakhir yang terdengar menggelikan itu jadi titik balik dalam karier Rodolfo. Jesus Velazquez, pegulat yang lebih dulu memakai nama El Murcielago, mengadu kepada komisi tinju dan gulat Meksiko dan komisi itu menyuruh Rodolfo mencari nama lain.

Rodolfo menemukan nama dan gimmick baru yang ia perlukan dari, salah satunya, novel Alexandre Dumas, The Man in the Iron Mask. Ia mengenakan topeng, celana, dan mantel perak dan menyebut dirinya El Santo (Orang Suci).

26 Juni 1942, dalam usia 24 tahun, El Santo melakukan debutnya di Arena Mexico dan memenangkan battle royale atau pertandingan "semua lawan semua" dari tujuh orang pegulat lain. Dengan identitas baru inilah Rodolfo menemukan gaya khasnya dan menjalani karier profesional selama lebih dari empat dekade.

Sejarah karier Rodolfo Guzman berkaitan erat dengan sejarah lucha libre atau gulat profesional Meksiko itu sendiri. Pada 1933-34, seorang promotor bernama Salvador Lutteroth mempopulerkan sejumlah unsur baru dalam gulat Meksiko, antara lain penggunaan topeng dan jalan cerita yang melibatkan peran pahlawan (tecnico)/penjahat (rudo) bagi para pegulat.

Tadinya Rodolfo berperan sebagai rudo yang kerap berlaku curang dalam pertandingan (karena tuntutan jalan cerita), namun sebagai El Santo ia tentu harus putar arah. Ia mengambil alih persona baru sebagai jagoan kelas pekerja yang jujur dan berjuang melawan kejahatan.

Pada masa itu, unsur teatrikal dalam pertentangan tecnico dan rudo amat penting dalam gulat bebas Meksiko. Banyak orang memandang jalan cerita itu sebagai pantulan kenyataan hidup sehari-hari. El Santo, dalam keadaan itu, mengisi gerowong di hati orang-orang yang dikalahkan hidup. Perjuangan dan kemenangannya menjadi penghiburan bagi mereka.

“Berbeda dari George Reeves yang memerankan Superman dan muncul sesekali di depan umum, ia adalah orang sungguhan. Ia tidak punya identitas rahasia. Ia senantiasa menjadi El Santo,” tulis David Wilt, pengelola situs internet El Enmascarado de Plata.

Pada 1951, penulis komik Jose G. Cruz menjadikan El Santo pahlawan super yang sanggup mengalahkan apa saja, mulai dari preman pasar hingga drakula, dengan jurus-jurus gulat yang mematikan, di dalam komik ciptaannya. Dalam 35 tahun penerbitannya, komik itu terjual hingga jutaan eksemplar.



Tak lama kemudian, industri film turut serta. “Pada 1940-50an, ia benar-benar termahsyur berkat gulat dan komik,” ujar Wilt. “Tapi film membawa ketenaran itu ke tingkat yang baru, memperkenalkannya kepada orang-orang yang tidak menyukai gulat dan tidak membaca komik. Film lah yang menjadikan dia tokoh penting kebudayaan populer Meksiko.”

Dalam rentang 1958 hingga 1982, El Santo membintangi 54 film. Dalam film-film itu, ia menjotos dan membanting dan mengunci dan melemparkan alien, zombie, vampir, Nazi, dan apa saja yang umum dianggap jahat dan berpeluang mencelakai umat manusia.

David William Foster, pakar film dan kesusastraan Meksiko dari University of Arizona, menulis: “Rakyat Meksiko membutuhkan pahlawan kultural. Mereka memiliki gagasan tentang orang yang meluruskan kekeliruan-kekeliruan di dunia. El Santo mengambil peran tersebut dan itulah yang menjadikannya dimuliakan hingga berpuluh-puluh tahun kemudian.”

Yang menarik, El Santo dianggap serius bukan hanya oleh para penggemarnya, tetapi juga oleh dirinya sendiri.

El Santo mengenakan topeng dalam situasi apa saja. Untuk makan, ia punya topeng perak yang bagian dagunya terbuka. Untuk menghadiri acara-acara resmi, ia punya topeng perak yang terkesan lebih mewah ketimbang yang ia kenakan sehari-hari. Ia bahkan punya perjanjian khusus dengan dinas imigrasi Amerika Serikat: setiap kali memasuki negara itu dan harus menunjukkan wajah, ia akan melakukannya secara khusus dan tertutup.

Pada 26 Januari 1984, di sebuah acara televisi, El Santo melepaskan topengnya untuk kali pertama dan terakhir di hadapan umum. Sepuluh hari kemudian, ia meninggal dunia.

Rodolfo tentu mengerti: tanpa topeng ia bukan El Santo, melainkan pria biasa yang telah uzur. Maka, sekalipun ia berpamitan kepada para penggemarnya sebagai pria biasa, ia berwasiat agar dikuburkan dalam keadaan bertopeng.

Baca juga artikel terkait MEKSIKO atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti