Sejarah Kerajaan

Dyah Suhita, Pemimpin Perempuan Terakhir di Jawa Timur

Ilustrasi Dyah Suhita. tirto.id/Gery
Oleh: Iswara N Raditya - 17 Januari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Setelah Dyah Suhita, wilayah Jawa bagian timur yang pernah menjadi pusat Kerajaan Majapahit belum pernah lagi dipimpin perempuan.
Dalam riwayat Majapahit yang dimulai sejak akhir abad ke-13, setidaknya ada dua ratu yang pernah memimpin kerajaan besar yang berpusat di Jawa bagian timur ini. Pertama adalah Ratu Tribhuwana Tunggadewi (1328-1350), kedua adalah Ratu Dyah Suhita (1429-1447). Setelah itu, tidak ada lagi sosok perempuan yang memimpin Jawa Timur, hingga kini.

Tribhuwana Tunggadewi adalah penguasa ketiga Majapahit. Ia adalah putri sang pendiri dan raja pertama Raden Wijaya (1293-1309), adik tiri raja yang kedua Jayanegara (1309-1328), dan ibunda Hayam Wuruk (1350-1389).



Selain Tribhuwana dan Dyah Suhita, muncul pendapat lain bahwa masih ada satu lagi sosok ratu yang sempat memerintah Majapahit, yaitu Kusumawardhani, putri Hayam Wuruk. Ia menggantikan suaminya, Wikramawardhana (raja pengganti Hayam Wuruk, bertakhta sejak 1390), yang meninggalkan istana untuk bertapa.

Bermula dari Perang Saudara

Naiknya Dyah Suhita menjadi ratu tidak terlepas dari kekisruhan yang terjadi di Majapahit sepeninggal raja terbesarnya, Hayam Wuruk. Terjadi intrik politik dan pergolakan yang cukup sengit terkait suksesi kepemimpinan.

Yang tercatat sebagai penguasa Majapahit selanjutnya bernama Wikramawardhana. Orang ini adalah anak dari adik Hayam Wuruk, Dyah Nertaja, yang kemudian menikahi putri sang raja, Kusumawardhani. Dengan demikian, Wikramawardhana merupakan keponakan sekaligus menantu Hayam Wuruk.

Diakuinya Wikramawardhana sebagai raja membuat putra Hayam Wuruk yang bernama Bhre Wirabhumi tidak terima dan melakukan perlawanan. Maka, terjadilah perseteruan besar di kalangan sesama anggota istana yang dikenal dengan nama Perang Paregreg yang dimulai sejak 1404.

Seperti dikutip dari Pranoedjoe Poespaningrat dalam Kisah Para Leluhur dan yang Diluhurkan: Dari Mataram Kuno sampai Mataram Baru (2008), perang ini menjadi salah satu faktor utama kemunduran Majapahit. Penyebab lain adalah tidak adanya pemimpin yang kuat setelah Hayam Wuruk dan masuknya Islam ke Nusantara (hlm. 16).



Sebelum wafat, Hayam Wuruk sebenarnya sudah memperkirakan perselisihan tersebut bakal terjadi. Maka, raja yang juga tandem sejati Mahapatih Gajah Mada ini membuat keputusan bahwa sepeninggal dirinya nanti wilayah kerajaan harus dibagi dua.

Diputuskan, wilayah timur yaitu Blambangan (Banyuwangi) akan diberikan kepada Bhre Wirabhumi, putranya dari istri selir. Sedangkan bagian barat (di pusat Majapahit yakni Trowulan/Mojokerto) untuk Kusumawardhani, putrinya yang kemudian dinikahi Wikramawardhana (Soendoro, Sedjarah Indonesia Volume 1, 1956: 38).

Namun, Bhre Wirabhumi menyebut bahwa Wikramawardhana tidak berhak atas bagian itu, apalagi sampai dinobatkan menjadi raja. Bhre Wirabhumi merasa paling layak meneruskan takhta Majapahit karena ia adalah putra kandung Hayam Wuruk. Ditambah lagi, ia kecewa karena hanya diberikan bagian di luar pusat kerajaan.

Kubu Kusumawardhani di pihak lain juga mengklaim hal yang sama karena Bhre Wirabuhmi bukan putra mahkota, melainkan hanya anak selir. Namun, Kusumawardhani ternyata enggan meneruskan takhta ayahnya.

Maka, Dewan Penasihat Agung Kerajaan (Sapta Prabu) menunjuk Wikramawardhana, suami Kusumawardhani. Wikramawardhana dinilai pantas duduk di singgasana karena masih termasuk lingkaran utama keluarga raja, yakni putra dari adik Hayam Wuruk.



Wikramawardhana sebenarnya sempat menanggalkan takhtanya pada 1400 untuk bertapa, dan Kusumawardhani akhirnya bersedia menjadi ratu. Namun, Wikramawardhana kembali ke istana setelah istrinya itu wafat pada 1401 dan memulai perseteruan dengan iparnya, Bhre Wirabhumi.

Pertikaian pun tak terhindarkan. Dua kubu yang masih dalam satu keluarga itu saling berhadapan di medan pertempuran. Hingga akhirnya muncul Dyah Suhita, yang ternyata terikat erat dengan kedua pihak yang sedang berperang.

Asal-Usul Dyah Suhita

Menurut J. Krom dalam “De Hindoe-Javaansche Tijd” seperti dikutip dari buku Girīndrawarddhana: Beberapa Masalah Majapahit Akhir (1978) yang ditulis Hasan Djafar, Dyah Suhita adalah putri dari Bhre Wirabhumi (hlm. 47).

Sementara dalam Kitab Pararaton disebutkan bahwa Dyah Suhita adalah cucu Bhre Wirabhumi dari salah satu anaknya yang disebutkan bernama Bhra Hyang Wisesa (hlm. 73). Yang janggal, Bhra Hyang Wisesa merupakan gelar Wikramawardhana setelah menjadi raja, lengkapnya yaitu Bhra Hyang Wisesa Aji Wikrama.

Hal ini membingungkan lantaran Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi berada di kubu yang berbeda. Bahkan, keduanya saling berhadapan sebagai dua tokoh utama dalam Perang Paregreg.

Salah satu tafsir Pararaton lainnya menyatakan bahwa Dyah Suhita adalah putri Wikramawardhana dari istri selir, seperti yang dituliskan Ratna Rengganis pada halaman 96 buku Sosok di Balik Perang (2012).



Keterkaitan antara Dyah Suhita, Wikramawardhana, dan Bhre Wirabhumi menjadi sedikit jelas jika melihat paparan Dhurorudin Mashad dalam Muslim Bali: Mencari Kembali Harmoni yang Hilang (2014). Mashad, yang juga menafsirkan Pararaton, menyebut bahwa setelah Bhre Wirabhumi tewas pada 1406, Wikramawardhana memperistri putri kakak ipar sekaligus musuhnya itu sebagai selir. Dari istri selir inilah lahir Dyah Suhita (hlm. 77).

Keyakinan bahwa Dyah Suhita adalah anak Wikramawardhana juga dituliskan Slamet Muljana dalam Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara (2005). Namun, Muljana justru menyebut Dyah Suhita merupakan anak yang lahir dari perkawinan Wikramawardhana dengan Kusumawardhani (hlm. 21).

Dengan demikian, Pararaton—yang kerap mengabaikan kronologi peristiwa sehingga menyebabkan kesulitan dalam penafsirannya—mencatat bahwa Dyah Suhita adalah cucu Bhre Wirabhumi sekaligus anak Wikramawardhana, entah anak dari istri selir (Bhre Daha/putri Bhre Wirabhumi) atau dari permaisuri, yakni Kusumawardhani (kakak Bhre Wirabhumi/putri Hayam Wuruk).

Terlepas dari beberapa penafsiran tersebut, yang jelas Dyah Suhita menikah dengan Aji Ratnapangkaja. Orang ini adalah keponakan Wikramawardhana (anak adiknya), juga tercatat sebagai salah satu panglima perang yang turut menyerang pasukan Bhre Wirabhumi di wilayah timur (Blambangan/Banyuwangi) dalam Perang Paregreg.



Dengan kekalahan Bhre Wirabhumi pada 1406, maka singgasana Majapahit sepenuhnya dikuasai Wikramawardhana yang bertakhta cukup lama. Setelah Wikramawardhana meninggal dunia pada 1428, sempat terjadi kebingungan mengenai siapa yang berhak melanjutkan kuasa sebagai pemimpin tertinggi Majapahit berikutnya.

Menurut Pararaton, Wikramawardhana sebenarnya sempat menetapkan anaknya dari Kusumawardhani, yakni Rajakusuma atau Hyang Wekasing Putra, menjadi calon penggantinya. Namun, putra mahkota itu mati muda. Anak lelaki Wikramawardhana lainnya, dari istri selir, Bhre Tumapel, juga meninggal dunia (Mashad, 2014:77).

Keturunan Wikramawardhana hanya tersisa dua anak saja, semuanya dari istri selir, yakni Dyah Suhita dan Bhre Kertawijaya. Akhirnya, sepeninggal Wikramawardhana, Dyah Suhita yang ditunjuk untuk menempati singgasana Majapahit karena lebih tua dari Kertawijaya.

Versi berbeda diungkapkan Slamet Muljana yang tidak menyebut Rajakusuma atau Hyang Wekasing Putra. Menurut Muljana, yang berhak menjadi penerus takhta sejak mula memang Dyah Suhita yang diyakininya sebagai anak Wikramawardhana dengan Kusumawardhani. Sementara Bhre Tumapel dan Kertawijaya tidak berhak karena lahir dari istri selir (hlm. 22).

Ratu Terakhir Jawa Timur

Dyah Suhita dinobatkan pada 1429. Ada yang beranggapan bahwa Dyah Suhita adalah orang yang sama dengan Ratu Kencanawungu, sedangkan Bhre Wirabhumi (penguasa Blambangan) adalah Menakjingga, sementara Raden Gajah/Bhra Narapati, orang Wikramawardhana yang membunuh Bhre Wirabhumi pada 1406, adalah Damarwulan (Soenarto Timoer, Damarwulan, 1980: 34).

Tahun 1433, Dyah Suhita menghukum mati Raden Gajah. Peristiwa ini seolah menguatkan hubungan Dyah Suhita dengan Bhre Wirabhumi sebagai cucu dan kakek. Meskipun Dyah Suhita adalah anak Wikramawardhana, tetapi ibunya yang merupakan putri Bhre Wirabhumi, diperistri paksa, hanya sebagai selir pula.





Dyah Suhita bersama suaminya, Ratnapangkaja, yang kemudian bergelar Bhatara Parameswara, memerintah cukup lama di Majapahit. Selama era kepemimpinannya, Dyah Suhita gencar menghidupkan kearifan lokal yang sempat terabaikan selama masa ricuh sebelum ia bertakhta.

R. Soekmono dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2 (2002) menuliskan, masa pemerintahan Dyah Suhita ditandai berkuasanya kembali anasir-anasir Indonesia (Nusantara). Berbagai tempat pemujaan didirikan di lereng-lereng gunung, dan bangunan-bangunan (candi) itu disusun sebagai punden berundak-undak, misalnya di lereng Gunung Penanggungan, Gunung Lawu, dan sebagainya (hlm. 78).

Dyah Suhita wafat pada 1447, menyusul suaminya yang meninggal dunia terlebih dulu tepat 10 tahun sebelumnya. Lantaran pasangan ini tidak dikaruniai anak, maka yang dinobatkan sebagai penguasa Majapahit selanjutnya adalah Kertawijaya, adik bungsu Dyah Suhita. Kertawijaya adalah Raja Majapahit yang mulai memakai nama Brawijaya, sebagai pengingat akan pendiri kerajaan itu, yakni Raden Wijaya.



Setelah Dyah Suhita mangkat, tidak ada lagi ratu yang memimpin Majapahit, juga wilayah Jawa bagian timur yang menjadi pusat kerajaan besar itu. Bahkan, hingga Nusantara bersulih rupa menjadi Indonesia, daerah (provinsi) Jawa Timur belum pernah lagi dipimpin sosok perempuan.

Baca juga artikel terkait MAJAPAHIT atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight