Menuju konten utama

Durag dan Standar Penampilan yang Tak Pernah Netral

Dipuja di majalah mode, tapi dilarang di kampus. Menguak sejarah panjang durag dari masa perbudakan hingga jadi simbol perlawanan budaya keturunan Afrika.

Durag dan Standar Penampilan yang Tak Pernah Netral
Ilustrasi Durag. Foto/IStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Larangan mengenakan bonnet, durag (kain penutup kepala), dan sandal kamar, di ruang kelas maupun kantin Tuskegee University, Alabama, Amerika Serikat, memantik perdebatan. Kampus bersejarah khusus kulit hitam di AS tersebut meminta mahasiswanya berbusana semi-formal untuk pertemuan resmi, dan dosen berwewenang menertibkannya.

Presiden Tuskegee, Mark Brown, mengklaim bahwa hal itu bertujuan menyiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja. “para pemberi kerja kurang pemaaf,” ujarnya, dikutip dari Inside Higher Ed.

Dukungan juga datang dari Ron Stewart, alumnus yang kini mengajar sosiologi di Buffalo State. Ia menilai penertiban busana di lingkungan akademis memang sudah sepantasnya dilakukan karena, "sudah lama tertunda."

Kendati demikian, sebagian mahasiswa tetap menolaknya. Rayne Caldwell, presiden angkatan tingkat dua Tuskegee, menilai kebutuhan mahasiswa justru terletak pada transportasi, hunian, dan pengembangan profesional. Dengan kata lain, larangan itu dinilai luput dari kebutuhan yang lebih mendesak.

Mahasiswa dari universitas lain juga ikut khawatir. Salah satunya Le’Ren Jones dari Norfolk State, yang menganggap aturan tersebut melemahkan rasa memiliki mahasiswa di kampus Tuskegee.

Akan tetapi, persoalan aturan ketat semacam itu bukanlah pertama kali dilakukan. Hampton University lebih dulu melarang kain durag dan bonnet. Buntutnya pun sama: menimbulkan kontroversi. Sebab, durag memiliki akar sejarah panjang, mulai dari masa perbudakan hingga awal abad ke-20.

Kain Penjaga Gelombang yang Dipaksa Pantas

Merujuk pada Hair Story: Untangling The Roots of Black Hair in America karya Ayana D. Byrd dan Lori L. Tharps (2001: 10-29), pedagang budak Eropa akan mencukur kepala tawanan Afrika jika para penangkap belum melakukannya. Alasannya diduga soal kebersihan.

Padahal, bagi masyarakat Afrika, rambut adalah penanda identitas. Oleh karena itulah Byrd dan Tharps menyimpulkan bahwa pencukuran merupakan langkah awal bangsa Eropa menghapus budaya para tawanan.

Terlebih, setelah perbudakan dilegalkan, banyak orang Afrika yang menjalani hidup di bawah kelayakan. Sebagian besar dijual ke pemilik perkebunan di wilayah selatan.

Lalu, apa hubungannya dengan rambut? Ya, kondisi perbudakan itulah yang merusak rambut mereka. Bekerja tanpa istirahat selama 12 hingga 15 jam sehari membuat mereka kehilangan waktu maupun tenaga untuk merawat penampilannya, termasuk rambut.

Rambut mereka pun menjadi kusut. Sekalinya hendak mengurainya, mereka mesti menggunakan penyisir bulu domba berkawat baja. Belum lagi masalah penyakit kulit kepala, seperti kurap dan kutu. Oleh karena itu, mereka memilih mengikatkan kain di kepalanya untuk menutupi koreng.

Kain di kepala itu lalu menjadi pemandangan umum. Banyak juga perempuan di perkebunan yang memakai selendang dari kain kasar sisa pemilik budak. Kain itu berguna melindungi diri dari terik matahari dan lalat, sekaligus menyembunyikan rambut yang rusak.

Ilustrasi Durag

Ilustrasi Durag. Foto/IStockphoto

Sistem perbudakan juga melahirkan hierarki sosial internal yang memisahkan "rambut baik" (lurus) dan "rambut buruk" (keriting). Ketimpangan itu memaksa sebagian orang kulit hitam berupaya keras menundukkan tekstur asli rambutnya—bahkan menggunakan bahan kimia berbahaya—sebagai bentuk kompromi terhadap standar Eurosentris yang terus berlanjut hingga seakrang, meski masa perbudakan telah dihapuskan.

Kebutuhan untuk tampil "pantas" di mata masyarakat membuat fungsi durag berevolusi. Masuk ke dua dekade pertama abad ke-20, fungsi kain tersebut bergeser menjadi alat penata gaya.

Lelaki kulit hitam pada masa itu memiliki kebiasaan mencuci rambut tanpa membilas sabunnya sampai bersih, lalu langsung mengikat kepalanya dengan kain. Tekanan dari ikatan kain memaksa rambut yang aslinya keriting mengembang menjadi rebah dan menempel di kulit kepala. Semuanya demi menciptakan pola gaya rambut bergelombang.

Zaman itu menuntut penampilan serba rapi karena orang kulit hitam sering dinilai masyarakat luas sebagai satu kelompok monolitik (penampilan satu orang, akan dianggap cermin bagi semuanya). Alhasil, praktik penggunaan durag sejak awal hidup di bawah bayang-bayang tekanan dari dalam komunitasnya sendiri agar mereka "terlihat pantas".

Meski kebiasaan menggunakan durag sudah mendarah daging, penamaannya secara spesifik sebagai produk budaya cenderung berkembang lambat.

Disadur dari EtymOnline,durag berasal dari gabungan kata hairdo 'gaya rambut' dan rag 'kain lap'. Istilah itu baru tercatat secara tertulis pada 1973, sementara kamus slang Amerika memunculkannya pada dekade 1960-an.

Walau butuh waktu lama untuk masuk ke dalam kamus resmi, secara kultural durag sudah hadir dalam representasi budaya kulit hitam pada akhir 1960-an dan berhasil menembus kanvas seni rupa.

Bahkan, merujuk keterangan dari Smithsonian National Museum of African American History and Culture, ada satu lukisan legendaris bertitimangsa 1968 yang menggambarkan seorang pria mengenakan durag berdiri di depan tembok penuh murah. Karya bertajuk "Do-Rag Brother" karya Vincent DaCosta Smith itu, menurut pihak museum, merupakan cerminan tekanan pada lelaki kulit hitam soal patriotisme, ketidakadilan rasial dan ekonomi, pemberdayaan diri, serta kebanggaan kulit hitam.

Dirayakan di Panggung, Dicurigai di Ruang Kerja

Memasuki era 1990-an dan 2000-an, durag berpindah ke panggung hip-hop dan gelanggang olahraga. Tapi sayangnya, stigma lama ikut berevolusi dan menempel padanya. Situs mode Snobette mencatat, liga American football NFL melarang penggunaan durag di bawah helm pada 2001.

National Basketball Association (NBA) juga demikian. Pada Oktober 2005, Komisioner NBA David Stern meneken kebijakan kontroversial yang mewajibkan pemain berpakaian semi-formal di acara resmi liga, bangku cadangan, sesi wawancara, dan bahkan saat berangkat dan pulang sehabis pertandingan. Rantai dan medali di luar baju juga dilarang, termasuk penutup kepala.

Teks aturan itu memang tidak menyebut durag secara jelas. Namun, Snobette menilai bahwa penutup kepala tersebut termasuk dalam kategori itu.

Melihat kontroversi itu, ada sejumlah peneliti yang mengkajinya. Salah satunya Mary G. McDonald dan Jessica Toglia. Setelah membaca banyak pemberitaan dan menonton wawancara sejumlah tokoh di NBA, keduanya menemukan hal berbau diskriminatif.

Eks pelatih Chicago Bulls dan Los Angeles Lakers, Phil Jackson, menegaskan bahwa penonton liga adalah pebisnis dan anak-anak. Ia bahkan menyebut gaya busana para pemain saat itu seperti narapidana, “gangster”, dan “thuggery”. McDonald dan Toglia menyimpulkan, ucapan semacam itulah yang menghidupkan kembali citra lama lelaki kulit hitam sebagai ancaman (hlm. 971-975).

Padahal, NBA ikut menikmati manfaat dari fesyen macam itu. Setahun sebelum aturan berpakaian itu terbit, NBA menyewa komedian populer bernama Ali G. untuk sebuah iklan. Gaya berpakaiannya tak jauh berbeda: setelan jersei dengan kalung rantai besar.

Nike juga melakukan kampanye pemasaran dengan menampilkan ikon basket Allen Iverson dan raper 50 Cent. Standar ganda ini begitu gamblang: estetika maskulinitas kulit hitam urban dirayakan besar-besaran untuk mengeruk untung komersial, tetapi langsung dicurigai dan ditertibkan ketika memasuki arena resmi (hlm. 978–981).

Ilustrasi Durag

Ilustrasi Durag. wikimedia/Notwist.

Citra durag baru benar-benar bergeser ketika figur kulit hitam memegang penuh narasinya sendiri. Pada ajang CFDA Awards 2014, Rihanna melenggang ke karpet merah dengan durag berhias kristal.

Puncaknya, pada Mei 2020, sang bintang pop tampil di sampul British Voguemengenakan durag karya desainer aksesori Stephen Jones. Pemimpin Redaksi British Vogue, Edward Enninful, bahkan menulis catatan bersejarah bahwa ia tak pernah membayangkan durag—kain yang dulunya hidup dalam tekanan berlapis—bisa menembus sampul majalah mode paling prestisius.

Kendati demikian, glorifikasi durag di ranah fesyen sejatinya mengulang pola lama pada rambut Afro. Sebagaimana dicatat Hillman, ketika industri mulai beramai-ramai menjual produk bersemangat kebanggaan kulit hitam, gaya busana yang tadinya bermakna perlawanan politik perlahan tereduksi menjadi sekadar komoditas mode (hlm. 144).

Pada akhirnya, penerimaan gemilang di panggung mode tidak otomatis membebaskan ruang-ruang sehari-hari. Selembar kain yang sama bisa dipuja sebagai mahkota di sampul Vogue, tetapi dianggap melanggar tata tertib di kantin kampus. Kainnya tidak berubah. Yang berubah adalah siapa yang memakainya, tempat ia dikenakan, dan standar penampilan siapa yang berlaku di sana.

Baca juga artikel terkait DISKRIMINASI RAS atau tulisan lainnya dari Rizqy M. Farhan

tirto.id - Horizon
Kontributor: Rizqy M. Farhan
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin