STOP PRESS! Hasil Pembicaraan Menlu & Kedubes AS Soal Penolakan Jenderal Gatot

Dunia Membutuhkan Lebih Banyak Pahlawan Super Perempuan

Dunia Membutuhkan Lebih Banyak Pahlawan Super Perempuan
Gal Gadot berperan sebagai tokoh rekaan DC Comic di film Wonder Woman. [Foto/youtube.com]
Reporter: Aulia Adam
15 April, 2017 dibaca normal 3:30 menit
Ini cerita penting mengapa dunia butuh lebih banyak pahlawan super perempuan, diperankan Scarlett Johansson maupun bukan.
tirto.id - Ghost in the Shell sudah dikecam jauh-jauh hari sebelum tayang. Cibiran paling banyak datang karena Scarlett Johansson (Scarjo) dipilih sebagai pemeran utama, yang harusnya diperankan aktor Asia.

Ghost in the Shell
 sendiri adalah adaptasi manga dan anime Jepang yang punya tokoh utama perempuan, bertubuh robot, dengan otak manusia bernama Mayor Motoko Kusanagi. Jadi, sudah seharusnya Motoko diperankan oleh aktor Asia agar kadar adaptasinya tak terlalu jauh.

Hollywood belakangan memang dituntut lebih keras untuk adil dan setara. Terutama terkait isu ras dan kesetaraan gender. Orang-orang sadar kalau film adalah salah satu medium penting yang membangun peradaban. Kebanyakan orang mulai menyadari kalau memuja-muja salah satu ras tertentu dan mendewakan pria adalah masalah besar.

Maka, dengan didapuknya Scarlett Johansson sebagai pahlawan super baru dari dunia Ghost in the Shell, orang-orang anti-rasis memanfaatkannya untuk mengampanyekan setop #whitewashing—sebuah jargon baru yang menggambarkan  perilaku rasis orang-orang Aryan di Tanah Eropa dan Amerika, yang selalu mengagungkan rasnya sendiri dan mendiskriminasi ras lain.

Namun, selepas film tersebut tayang, banyak kritikus film yang menjilat ludahnya sendiri dan mengakui akting Scarlett Johansson yang apik. Harga memang tak bisa bohong. Kualitas sandiwara Scarjo berbanding lurus dengan citranya sebagai salah satu aktor paling mahal di Amerika Serikat. Scarjo dianggap berhasil membangun tokoh Mayor, sang pahlawan super wanita dari Ghost in the Shell.

Terlepas dari isu rasis, kehadiran Mayor sendiri dianggap penting sebagai film yang menghadirkan tokoh perempuan sebagai karakter jagoan. Bagi Scarjo sendiri, Mayor adalah karakter pahlawan super keempat yang pernah diperankannya di layar lebar. Sebelumnya ia memerankan Natasha Romanoff alias Black Widow dalam sejumlah film Marvel Universe, Lucy dalam film Lucy, dan Laura dalam Under the Skin. The Guardian bahkan menjuluki Scarjo sebagai Ratu Sains Fiksi.

Scarjo memang bukan wanita pertama yang memerankan pahlawan super. Ada juga Gal Gadot sebagai Wonder Woman yang baru, Melissa Benoist sebagai Supergirl, Elizabeth Olsen sebagai Scarlett Witch, atau Halle Berry yang dulu pernah memerankan Catwoman dan Storm dari X-Men. Tapi, menurut The Guardian, Scarjo adalah aktor dengan peran pahlawan super paling banyak di generasi ini. Citra bayaran tertinggi yang lekat pada Scarjo membuat karakter-karakter yang diperankannya lebih gampang diterima publik. Sehingga, gagasan tentang pahlawan super wanita jadi lebih populer.

Tapi, apa sebenarnya yang penting dari gagasan dunia harus memiliki pahlawan super perempuan? Apakah Superman, Captain America, Spiderman, atau Wiro Sableng tak cukup?

Profesor di bidang media dari Universitas Colorado, Amerika Serikat Christopher Bell pernah menguraikan alasan penting untuk menjawab pertanyaan serupa di atas. Dalam ceramahnya di TED Talk, ia mengungkapkan bahwa eksistensi pahlawan super perempuan punya peran penting untuk merombak Pedagogi Publik—istilah yang digunakan Bell untuk menjelaskan bagaimana masyarakat diajarkan ideologi-ideologi, misalnya ihwal menjadi perempuan atau laki-laki. Menurut Bell, tokoh pahlawan super yang terlalu banyak diisi pria membuat anak-anak perempuan kekurangan panutan.

Ia mencontohkan anak perempuannya yang mengidolakan lebih banyak pahlawan super laki-laki, karena kurangnya film-film atau mainan tentang pahlawan super perempuan. Hal ini membuat anaknya, sebagaimana anak perempuan lain yang ingin jadi pahlawan super, akan dicap tomboy—sebuah cap yang sering kali bernada negatif bagi seorang anak perempuan.

“Sesuatu yang pada dasarnya bilang kalau sifat-sifat yang mendifenisikanmu (seorang gadis tomboy) itu, sebenarnya bukan sifat-sifat milikmu, kamu cuma meminjamnya sebentar dari anak laki-laki,” kata Bell.

Dalam masyarakat di zaman ini, ditambahkan Bell, menjadi maskulin dilihat sebagai sebuah kemajuan dan bonus. Sementara sebaliknya, menjadi “keperempuan-perempuanan” adalah sesuatu yang memalukan. Ia juga menceritakan kisah Mike, bocah 11 tahun di Florida, yang menggantung dirinya setelah dirisak kawan-kawan sebaya karena ketahuan menyukai kartun My Little Ponny—acara televisi yang menyasar anak-anak perempuan berumur 5 hingga 9 tahun sebagai pangsa pasarnya. Padahal, menurut Bell yang juga salah satu penggemar kartun tersebut, My Little Ponny yang dijejali konsep feminin dari dunia ini adalah tontonan yang bagus. 

“(My Little Ponny) Mengajari Mike, aku, dan jutaan bocah laki-laki lain ataupun pria dewasa lainnya untuk belajar, bekerja, dan berpesta lebih keras; untuk berpenampilan baik, dan merasa baik,” kata Bell.

Yang menimpa Mike terjadi karena, “Kita hidup di dunia yang memilih seseorang lebih baik mati sebagai laki-laki daripada hidup tapi menyukai barang-barang ‘keperempuan-perempuanan’. Dan itu bukan salah Mike. Itu salah kita semua! Kita yang menggagalkan hidupnya! Kita yang menggagalkan hidup anak-anak kita!” ungkap Bell.

Dunia Membutuhkan Lebih Banyak Pahlawan Super Perempuan

Apa yang dialami putri Bell dan Mike adalah contoh ketidakadilan sebagai dampak kurangnya pahlawan super perempuan. Dalam ceramahnya, ia juga menunjukkan hasil studi kecil-kecilannya yang membuktikan kalau pahlawan super perempuan dihapus dari produk-produk mainan dan barang-barang keperluan anak kecil lainnya seperti tas, gelas, tempat makanan.

“Scarlett Johansson, salah satu aktor paling terkenal di AS, memerankan Black Widow, yang tak cuma memerankan satu atau dua film pahlawan super Marvel, melainkan lima film, ia (tetap) tak ada dalam satu pun barang dagangan di toko Disney,” kata Bell. “Bahkan motor-motoran yang dalam film dikendarai oleh Black Widow, malah dijual dengan kemasan Captain America.”

Sejumlah studi mengamini analisis Bell. Mainan-mainan yang dibedakan atas dasar konsep gender biner: maskulin dan feminin terbukti melahirkan anak-anak yang bias gender. Dalam dunia nyata, bias gender bisa menjadi sumber marabahaya: meningkatnya pelecehan seksual pada perempuan, kesenjangan gaji antara perempuan dan laki-laki, hingga diskriminasi pada gender selain maskulin dan feminin, yang tak jarang berakhir tragis jadi tragedi bunuh diri. Mike menjadi contohnya.

Ini yang membuat Bell dan para feminis terus mendorong media dan pembuat film untuk menyediakan ruang lebih besar lagi bagi para pahlawan super perempuan.

Menurut studi dari Universitas Missouri, pahlawan super-pahlawan super perempuan sekarang cenderung dilebih-lebihkan secara seksual, sehingga menciptakan citra tersendiri pada mereka: misalnya harus selalu seksi, dan cantik sesuai definisi industri kecantikan (mulus, tirus, dan langsing). Hal-hal demikian akhirnya juga berdampak tak baik bagi perkembangan anak perempuan maupun laki-laki yang akan terjebak dalam konsep kecantikan tersebut.

Setidaknya, serial Supergirl yang tayang di kanal CW menyadari hal ini, dan memutuskan untuk merombak desain kostum si Gadis Baja, dari orisinalnya yang memamerkan pusar, menjadi tertutup sama sekali.

Tapi, satu acara saja tak cukup. Dunia butuh lebih banyak film pahlawan super perempuan. Selain Black Widow yang diperankan Scarjo, Marvel punya 30,6 persen pahlawan super perempuan lain dari daftar panjang pahlawan super yang mereka miliki. DC bahkan punya 30,9 persen pahlawan super perempuan lainnya, termasuk Wonder Woman dan Supergirl. Belum lagi pahlawan super lain dari dunia imajinasi lainnya, seperti Ghost in the Shell, atau anime, atau gim lain. Pilihan itu nyata, dan banyak.

Namun, faktanya dalam rentang lima tahun antara 2015 hingga 2020 mendatang, Disney dan Warner Bros hanya akan membuat dua film pahlawan super perempuan untuk bioskop: Wonder Woman dan Captain Marvel, dari total 30 film pahlawan super yang mereka bikin. Istilah “tidak adil” itu rasanya tidak berlebihan sama sekali.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI FILM atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - aad/zen)

Keyword