Menuju konten utama

DPR: Waspada Bandara Kertajati Jadi Pangkalan Militer AS

TB Hasanuddin meminta pemerintah hati-hati jadikan Bandara Kertajati sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat C-130/Hercules di Asia.

DPR: Waspada Bandara Kertajati Jadi Pangkalan Militer AS
Suasana bangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, Kamis (24/5/2018). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/foc/18.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, meminta agar pemerintah berhati-hati soal persetujuan menjadikan Bandara Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat sebagai pusat maintenance, repair, and overhaul (MRO) pesawat C-130/Hercules di kawasan Asia.

Menurutnya, kerja sama itu harus dipandang sebagai proyek industri penerbangan yang memiliki dimensi strategis, pertahanan, hingga kedaulatan negara.

“Keputusan menerima tawaran Amerika Serikat menjadikan Indonesia sebagai MRO hubs pesawat C-130 dan menetapkan Bandara Kertajati sebagai lokasinya harus dijalankan dengan sangat hati-hati dan transparan,” kata TB Hasanuddin, dalam keterangannya Kamis (21/5/2026).

TB Hasanuddin menilai perlu adanya kejelasan mengenai cakupan operasional MRO sebab hanya digunakan untuk pesawat-pesawat C-130 milik militer Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan Asia Pasifik. Sebab, katanya, hal itu berpotensi menimbulkan persoalan hukum dan politik strategis.

“Jika fasilitas tersebut eksklusif untuk mendukung operasional pesawat militer Amerika Serikat di kawasan Asia, maka persepsinya bisa berkembang sebagai bentuk pangkalan militer AS di Indonesia. Ini tentu harus dicermati karena dapat berbenturan dengan peraturan perundang-undangan serta prinsip politik luar negeri bebas aktif yang dianut Indonesia,” ujarnya.

TB Hasanudin bilang publik juga perlu memahami bahwa tawaran tersebut datang dari Menteri Pertahanan Amerika Serikat sebagai kerja sama industri murni. Karena itu, menurutnya, aspek kepentingan strategis militer AS sangat kuat dalam rencana tersebut.

“Bandara Kertajati saat ini berstatus bandara penerbangan sipil. Kalau nanti menjadi pusat perawatan pesawat militer, tentu harus ada pengaturan yang jelas agar tidak mengganggu fungsi pelayanan penerbangan sipil untuk masyarakat Jawa Barat,” katanya.

Dia kemudian mencontohkan sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Jepang, dan Filipina yang kerja samanya dilakukan untuk mendukung operasional pesawat militer AS di kawasan Indo-Pasifik. Namun, fasilitas tersebut ditempatkan di kawasan industri khusus atau fasilitas milik industri perawatan pesawat domestik.

Karena itu, TB Hasanuddin meminta pemerintah memastikan adanya manfaat nyata bagi industri pertahanan nasional, khususnya PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

“Prinsip utamanya adalah menjaga kedaulatan negara, memastikan kepentingan nasional tetap menjadi prioritas, serta memperkuat industri pertahanan dalam negeri,” pungkas TB Hasanuddin.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, memberi tawaran kepada pemerintah RI soal pemusatan program pemeliharaan (maintenance, repair, and overhaul/MRO) hingga perbaikan pesawat C-130 Hercules di seluruh Asia. MRO seluruh pesawat angkut andalan Angkatan Udara AS (USAF) tersebut nantinya dipusatkan di Indonesia.

Atas hal itu, Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI juga berencana menyiapkannya. Rico menilai langkah tersebut sangat strategis karena akan memberikan dampak baik yakni RI menjadi semakin mudah dalam membangun kerja sama dan hubungan diplomasi dengan negara-negara Asia pengguna pesawat angkut Hercules.

"Saat ini, terdapat rencana untuk menyiapkan kawasan Bandara Kertajati sebagai salah satu pusat MRO pesawat C-130/Hercules. Pemilihan Kertajati mempertimbangkan ketersediaan lahan yang luas serta fasilitas pendukung penerbangan yang sudah memadai," kata Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, dilansir dari Antara.

Baca juga artikel terkait PERTAHANAN atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Bayu Septianto