Menuju konten utama

DPR Desak Pemerintah Sahkan Cuti Ayah sebagai Solusi Fatherless

DPR mendesak pemerintah bisa menerapkan kebijakan cuti ayah yang lebih fleksibel sehingga dapat terlibat dalam pengasuhan anak sejak awal.

DPR Desak Pemerintah Sahkan Cuti Ayah sebagai Solusi Fatherless
Siswa berpamitan kepada ayahnya setibanya di sekolah, Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 4 Aceh Barat Desa Suak Timah, Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Senin (14/7/2025). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.

tirto.id - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, mengungkap tingginya anak yang kurang mendapat peran ayah dalam keluarga di Indonesia. Dia mengutip data dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN 20,9 persen remaja di Indonesia mengalami fatherless atau kehilangan sosok ayah.

“Isu fatherless selama ini seperti gunung es. Anak-anak kehilangan figur ayah bukan karena wafat atau cerai, tapi karena ayahnya terlalu sibuk bekerja, jauh dari kehidupan anak, atau menyerahkan semua urusan pengasuhan kepada ibu dan gawai,” kata Netty dalam keterangan tertulis usai rapat dengan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Wihaji, pada Rabu (16/7/2025).

Sebagai bentuk solusi, Netty mendesak pemerintah melindungi peran ayah yang salah satunya dapat diwujudkan melalui penguatan kebijakan cuti ayah bagi pekerja.

“Pemerintah seharusnya menerapkan kebijakan cuti ayah yang lebih fleksibel dan berpihak agar ayah dapat terlibat dalam pengasuhan anak sejak awal," desaknya.

Netty menyinggung pentingnya penguatan ketahanan keluarga di tengah arus digitalisasi dan tuntutan ekonomi yang semakin kompleks. Dia menyadari ketika permasalahan ekonomi semakin pelik, penguatan peranan ayah dalam keluarga perlu diperkuat.

"Untuk itu, ketahanan keluarga harus terus dikokohkan, terlebih di tengah tantangan arus digitalisasi dan tuntutan ekonomi yang semakin komplek," katanya.

Dirinya menjelaskan bahwa penguatan peran ayah memerlukan kerja sama lintas sektor kementerian dan lembaga. Menurutnya, jalinan hubungan menjadi menjadi penting untuk antar individu dan lingkungan keluarga.

“Kita tidak hanya bicara tentang fatherless, tapi tentang keluarga yang kelelahan dan kehilangan makna saat membangun hubungan antar individu di dalamnya," ujarnya.

Selain pemerintah, dia meminta perusahaan dan instansi swasta untuk memberi keleluasaan kepada para ayah untuk bisa berkumpul dengan keluarga. Menurutnya, keleluasaan peran ayah tak hanya diberikan pada Hari Keluarga Nasional atau hari pertama sekolah.

"Perusahaan dan instansi harus memberi keluasan waktu bagi para ayah di momen penting keluarga," terangnya.

Sementara itu, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Wihaji, mengungkapkan bahwa pihaknya menginstruksikan melalui surat edaran agar para ayah di Indonesia mengantar anak mereka ke sekolah di hari pertama.

"Untuk diinformasikan bahwa semangat kita untuk bikin gerakan Ayah Teladan Indonesia dimulai dari hari pertama anak sekolah diantar oleh ayah, itu menjawab bahwa 20,9 persen anak-anak kita ini fatherless, kehilangan sosok ayah," kata Wihaji.

Baca juga artikel terkait CUTI AYAH atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - Flash News
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Bayu Septianto