Dow Jones, S&P atau Nasdaq?

Oleh: Yan Chandra - 29 Januari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Mengenal indeks Dow Jones, S&P dan Nasdaq, tiga indikator yang menjadi barometer pelaku pasar di berbagai belahan dunia.
tirto.id - Di pasar saham Amerika Serikat, ada tiga indeks yang menjadi indikator utama dari pergerakan pasar yaitu indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA), indeks Nasdaq dan indeks Standard&Poor’s 500. Indeks-indeks saham ini mencerminkan pergerakan harga saham di bursa.

Salah satu indeks yang paling banyak dilihat oleh para investor, fund manager, analis adalah indeks Dow Jones Industrial Average. Indeks Dow Jones ini selalu menjadi acuan bagi para investor dan pemerhati bursa saham. Tidak hanya mereka yang bertransaksi di Wall Street saja tetapi juga di bursa manapun di seluruh dunia.

Indeks Dow Jones merupakan indeks tertua dan indeks yang paling dikenal. Indeks ini pertama kali diperkenalkan oleh para editor dari harian The Wall Street Journal, yang induk perusahannya adalah Dow Jones & Co.

Pencipta indeks Dow Jones adalah para editor dari Wall Street Journal dan pendiri Dow Jones & co Charles Dow. Dia bekerja sama dengan ahli statistic Edward Jones. Indeks itu diberi nama seperti nama mereka.

Indeks ini pertama kali dihitung pada 26 Mei 1896 dan dipublikasikan di Customer’s Afternoon Letter, bukan di Wall Street Journal. Pada saat itu, hanya ada 12 perusahaan yang masuk ke dalam perhitungan indeks. Pada tahun 1928, indeks diperluas menjadi 30 emiten.

Susunan indeks Dow Jones pada pertama kali: American Cotton Oil American Sugar American Tobacco Chicago Gas Distilling & Cattle Feeding General Electric Laclede Gas National Lead North American Tennessee Coal and Iron U.S. Leather pfd. U.S. Rubber

Indeks Dow Jones dirancang untuk menggambarkan perekonomian AS. Ketika diluncurkan, indeks itu berisi 12 emiten yang terdiri atas 4 perusahaan kereta api, perusahaan kapas, gas, gula, tembakau dan minyak. General Electric merupakan salah satu perusahaan tertua yang merupakan anggota indeks sejak diluncurkan hingga 2016.

Seiring dengan pergerakan ekonomi AS yang semakin mengarah menjadi industri, emiten-emiten dalam indeks Dow Jones pun berubah. Semakin sedikit perusahaan yang terkait dengan komoditas, digantikan oleh perusahaan konsumen dan teknologi. Saham konstituen indeks Dow Jones juga berasal dari bursa Nasdaq, tidak hanya dari bursa New York saja seperti Apple.

Indeks Dow Jones merupakan indeks yang dihitung berdasarkan harga saham. Nilai Dow Jones tidak semata-mata merupakan harga dari masing-masing saham tetapi jumlah harga yang dibagi dengan bilangan pembagi tertentu. Jika ada perubahan harga saham karena pembagian dividen, stock split akan memengaruhi nilai indeks. Sehingga indeks Dow Jones terus mengalami perubahan.

Ada beberapa kriteria agar sebuah saham dapat masuk menjadi konstituen atau penghuni indeks Dow Jones. Di antaranya adalah perusahaan tersebut haruslah merupakan perusahaan yang sangat besar dan merupakan pemimpin pasar pada industrinya.

infografik dow jones industrial average


S&P 500

Indeks lainnya yang juga menjadi acuan adalah S&P 500. Isinya 505 saham yang diterbitkan oleh 500 emiten besar. Kapitalisasi emiten yang masuk sebagai konstituen pada indeks ini minimal senilai 6,1 miliar dolar AS. Indeks ini merupakan indikator untuk mencerminkan kinerja saham-saham dari perusahaan berkapitalisasi besar.

Indeks ini diperkenalkan oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor’s pada 1 Januari 1957 pada posisi 386. Isi indeks yang cukup beragam mencerminkan keadaan perekonomian AS juga seperti indeks Dow Jones. Dari tahun 1969 hingga awal tahun 1981, indeks S&P secara bertahap turun, menjadi di bawah 300. Pada periode ini, perekomian AS memang tidak begitu menggembirakan.

Saham yang masuk ke dalam indeks S&P diperhitungkan oleh Komite Indeks S&P yang terdiri atas analis dan ekonom S&P. Beberapa perusahaan yang termasuk di dalam indeks ini antara lain adalah Apple, Microsoft, Amazon dan Facebook.

Indeks S&P 500 lebih disukai dipakai sebagai ukuran saham di AS karena anggotanya lebih banyak dibandingkan indeks Dow Jones yang hanya 30 saham saja. Selain itu, ada perbedaan perhitungan signifikan dari kedua indeks tersebut. Indeks S&P menggunakan metodologi kapitalisasi pasar, sehingga membuat bobot perusahaan berkapitalisasi besar lebih banyak. Sementara indeks Dow Jones disusun berdasarkan bobot harga, semakin mahal harga saham semakin besar bobotnya di indeks.

Indeks Nasdaq

Indeks lain yang dicermati para investor adalah indeks Nasdaq. Indeks Nasdaq merupakan indeks pada bursa kedua terbesar setelah bursa New York yaitu bursa Nasdaq. Baik bursa New York maupun Nasdaq terletak di New York City.

Bursa Nasdaq mulai beroperasi pada tahun 1971 dan merupakan bursa elektronik pertama waktu itu. Indeks utamanya adalah Nasdaq Composite yang berisi sekitar 3.000 saham yang tercatat di bursa Nasdaq. Emiten yang masuk ke indeks Nasdaq terdiri atas berbagai macam perusahaan pada berbagai macam sektor, kecuali sektor keuangan.

Indeks ini disusun berdasarkan metode kapitalisasi, bobot setiap saham pada indeks tergantung dari kapitalisasinya. Setiap kuartal ada penyesuaian saham-saham dalam indeks ini.

Porsi terbesar pada indeks Nasdaq adalah sektor teknologi. Saham-saham teknologi berbobot sekitar 54% pada indeks ini. Oleh sebab itu, indeks Nasdaq sering menjadi acuan untuk pergerakan saham-saham teknologi. Sektor lainnya adalah sektor konsumen, seperti saham-saham restoran, peritel dan pariwisata.

Karena lebih banyak bobot saham teknologi, indeks Nasdaq dianggap lebih berisik dibandingkan dengan indeks S&P yang terdiri atas berbagai macam saham dari berbagai sektor. Di sisi lain, potensi penguatannya cukup besar.

Kenaikan dan penurunan indeks sangat terkait dengan naik turunnya sektor teknologi. Ketika terjadi pecah gelembung dotcom pada tahun 2000, indeks Nasdaq turun tajam.

Ketiga indeks tersebut merupakan acuan penting bagi para investor saham. Ketiganya terdiri atas saham yang berbeda, berbeda perhitungannya pula. Indeks-indeks utama itu saling melengkapi untuk mengetahui gambaran tentang pasar saham bahkan perekonomian AS.

Indeks di Asia dan Eropa yang Penting

Di kawasan Asia, ada pula indeks bursa utama yang menjadi acuan bagi para investor di kawasan. Indeks tersebut adalah indeks Nikkei, indeks Shanghai dan indeks Hongkong. Ketiga bursa tersebut memiliki kapitalisasi pasar yang besar dan ramai transaksinya.

Indeks Nikkei 225 merupakan indeks utama di bursa Tokyo. Sebenarnya ada lagi indeks lain di bursa Tokyo yaitu indeks Topix, tetapi popularitasnya kalah oleh indeks Nikkei ini.

Indeks Nikkei dipandang sebagai salah satu barometer penting perekonomian dan pasar saham Jepang. Indeks Nikkei disebut-sebut sama seperti indeks Dow Jones. Bahkan, dari tahun 1975 hingga 1985, indeks ini sempat disebut Nikkei Dow Jones Stock Average.

Indeks ini merupakan indeks tertua di kawasan Asia mulai diperkenalkan pada tahun 1950. Sama seperti indeks Dow Jones yang dibuat oleh surat kabar, indeks Nikkei juga diciptakan oleh surat kabar ekonomi Jepang Nihon Keizai Shimbun.

Perhitungan indeks Nikkei juga mengikuti harga, sama seperti Dow Jones. Konstituen indeks Nikkei dihitung dan dikaji setiap September. Pada Selasa (23/1/2018) lalu, indeks Nikkei menguat dan mencapai level 24.000 untuk pertama kalinya dalam 26 terakhir.

Sementara Cina memiliki dua bursa saham yakni bursa Shanghai dan bursa Shenzhen. Bursa Shanghai merupakan bursa dengan kapitalisasi pasar terbesar ke lima di dunia pada tahun 2016, kapitalisasi pasarnya sebesar 3,5 triliun dolar AS. Bursa Shanghai tidak terbuka sepenuhnya untuk investor asing. Bursa ini dibuka pada tahun 1990 dengan hanya 8 emiten.

Indeks ini mengukur semua saham, termasuk saham A dan saham B yang ada di bursa Shanghai. Saham A adalah saham-saham yang boleh dibeli oleh orang China saja. Sejak tahun 2003, investor institusi tertentu yang memenuhi syarat boleh membeli saham-saham A. Sementara saham B merupakan saham yang boleh dibeli oleh investor asing juga investor lokal. Biasanya saham B berdenominasi dolar AS. Indeks Shanghai disusun berdasarkan kapitalisasi pasar.

Jumat akhir pekan lalu, indeks Shanghai ditutup menguat. Sudah enam pekan terakhir ini indeks menguat ditopang oleh kenaikan harga saham properti dan transportasi.

Indeks bursa Hongkong dikenal dengan nama indeks Hang Seng. Indeks ini digunakan untuk mencatat dan memonitor pergerakan saham perusahaan-perusahaan besar di Hongkong. Ada 50 emiten yang menjadi anggota indeks ini yang mencerminkan sekitar 58 persen kapitalisasi pasar di Bursa Hongkong.

Indeks Hang Seng dimulai pada 24 November 1969. Indeks ini diberi nama seperti bank Hongkong yaitu Hang Seng Bank yang merupakan emiten perbankan terbesar di bursa Hongkong. Hang Seng Bank juga merupakan salah satu pemegang saham bank HSBC.

Daratan Eropa memiliki banyak bursa saham. Setidaknya ada tiga bursa utama di Eropa yaitu bursa Euronext yang berpusat di Amsterdam dan terbentuk dari bursa di Belgia, Perancis, Belanda, dan Portugal. Bursa Euronext merupakan bursa terbesar kedua di Eropa.

Ada pula bursa OMX yang merupakan kumpulan dari bursa-bursa di kawasan Skandinavia dan Baltik, yaitu bursa di Swedia, Denmark, Finlandia, Iceland, juga bursa Estonia, Latvia, Lithuania termasuk bursa Swedia.

Ada juga bursa London yang disebut bursa global di Eropa. Terletak di London dan memiliki cabang di Milan. Bursa London merupakan bursa dengan kapitalisasi pasar terbesar ketiga di dunia dan terbesar di Eropa. Euronext berada di belakang bursa London. Selain bursa pan Eropa dan bursa London, ada pula bursa Deutsche Borse Group di Jerman.

Beberapa indeks yang menjadi acuan antara lain adalah indeks DAX Jerman, FTSE London dan CAC 40 Perancis. Sementara itu, indeks Dow Jones Euro Stoxx Price Index merupakan indikator spesifik. Indeks ini terdiri atas 50 saham blue chip dari bursa-bursa negara anggotanya.

Baca juga artikel terkait DOW JONES atau tulisan menarik lainnya Yan Chandra
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Yan Chandra
Penulis: Yan Chandra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight