Dialog Cinta Laura-Hotman Paris & Persoalan Citra Tubuh Perempuan

Cinta Laura saat tampil di sebuah program yang digagas Hotman Paris Show. INSTAGRAM/@hotmanparisofficial
Oleh: Aditya Widya Putri - 9 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Harus cantik dan harus seksi. Operasi pun dianggap sebagai salah satu jalan mencapai tuntutan itu.
tirto.id - “Kenapa [dadanya] tidak dipoles? Kan, gampang.”

Hotman Paris mempertanyakan tampilan fisik Cinta Laura yang ia anggap tak menarik. Sambil meletakkan kedua tangannya di dada, si pengacara itu kemudian menyatakan preferensi bentuk tubuh yang disukainya secara blak-blakan.

“Kalau wanita dadanya mirip supir gua yang kurus kering, saya tidak tertarik.”

Tak cuma sekali Hotman santai memperbincangkan citra diri bintang tamunya yang kebanyakan adalah perempuan. Di lain penayangan Hotman Paris Show, ia juga menilai Puput Carolina sambil menunjuk ke arah paha perempuan tersebut.

“Kalau ditanya, sebagai laki-laki, cantikan mana, gua akan pilih kamu dibanding Nikita (Mirzani). Coba lihat nih, mulus, gua yakin lebih cantik ini.”


Persepsi mengenai tubuh ideal perempuan dengan dada dan bokong besar kerapkali digaungkan membuat perempuan mempertanyakan dirinya sendiri. Dunia industri visual—mulai dari periklanan, pertelevisian, hingga internet—membuat standar tersebut semakin terglorifikasi. Industri mode dan kecantikan tak luput ambil bagian. Obat dan alat pembesar bokong dan payudara pun laris di pasaran.

Jurnal Body Image edisi Juni 2016 melakukan survei kepuasan terhadap 12.176 responden mengenai tubuhnya. Rasa percaya diri yang dimiliki responden pria lebih tinggi dibanding responden perempuan. Namun, secara umum, hanya 28 persen pria yang merasa sangat puas dengan penampilannya. Perempuan memiliki persentase lebih rendah, yakni sekitar 26 persen. Untuk urusan citra tubuh, 24 persen pria mengaku sangat puas dengan berat badannya, sementara perempuan hanya 20 persen.

Pada kelompok yang puas dengan penampilan dan citra tubuhnya, peneliti menyimpulkan derajat kepuasan yang sama dengan kehidupan mereka secara keseluruhan. Artinya, persepsi terhadap penampilan dan citra tubuh dapat berpengaruh terhadap cara memandang hidup.

Dus, bukan salah perempuan apabila banyak di antara mereka merasa kurang atas citra dirinya. Nigel Barber, ahli biopsikologi yang mempelajari perbedaan sosial dalam perilaku seksual dan reproduksi menjelaskannya menggunakan pendekatan evolusioner.


Dalam laman Psychology Today, ia mengungkapkan secara umum, perempuan memang lebih memedulikan penampilannya dibanding pria. Proses evolusi seleksi seksual adalah jawabannya. Pada pria, misalnya, cambang dianggap memberi daya tarik sensual bagi perempuan. Namun, seleksi seksual ini lebih banyak mempengaruhi perempuan karena didorong rasa tak aman terhadap perempuan lain.

“Penampilan mereka adalah cara mereka dievaluasi,” ungkap Barber.



Citra Tubuh Sempurna Membikin Depresi

Baru-baru ini, publik dihebohkan hoaks yang dilakukan Ratna Sarumpaet. Ia melakukan kebohongan, akunya, untuk menghindar dari kenyataan bahwa sesungguhnya ia baru saja melakukan operasi plastik. Mendengar pengakuan tersebut, publik menanggapi dengan berbagai macam respons. Tak sedikit yang menertawakan pilihan Ratna untuk melakukan bedah kosmetik.

Padahal, menurunnya kepercayaan diri karena usia yang menua dan tubuh yang dirasa tak lagi ideal bukanlah problem Ratna seorang. Pada orang lain, operasi plastik bisa saja bukan dilakukan untuk mempercantik muka, tapi untuk membentuk kembali bentuk tubuh.

Penelitian pada 2014 oleh Kathryn L. Jackson, dkk menyatakan perempuan setengah baya dengan citra tubuh buruk cenderung memiliki tingkat gejala depresi signifikan secara klinis. Karenanya, banyak perempuan melakukan langkah-langkah mempercantik diri. Salah satunya adalah melakukan implan payudara. Padahal, keputusan tersebut dilakukan hanya agar terlihat memuaskan bagi dirinya dan orang lain.

“Kepercayaan-diri mereka, tidak bergantung pada hal tersebut [implan],” ujar David K. Wellisch, seorang psikiater kepada WebMD.

Saat merasa tidak puas pada citra diri dan melakukan implan, perempuan mengembangkan harapan yang tidak realistis. Mereka berharap operasi dan bentuk tubuh yang bagus akan membuat hidup mereka semakin mudah. Pikirnya, implan payudara adalah jalan pintas untuk masalah kesehatan mental. Namun, realitas tak sepenuhnya sesuai harapan.

Pada akhirnya, penting untuk berdamai dengan kondisi tubuh kita bukan hanya karena persepsi yang dijejalkan orang lain. Seperti kata Cinta Laura saat menjawab sindiran tentang citra dirinya yang dilontarkan Hotman Paris: “Aku suka tubuhku, jika orang mau melihat yang seksi, ada yang lain. Tapi ketika cari yang pintar, itu ada di diriku.”

Baca juga artikel terkait OPERASI PLASTIK atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight