Di Musim Basah, Waspadai Wabah Demam Berdarah

Petugas melakukan fogging atau pengasapan di kawasan Duren Tiga, Pancoran, Jakarta, Jumat (2/11/2018). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/hp.
Oleh: Widia Primastika - 29 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Jangan abai terhadap kebersihan lingkungan Anda.
Di kebanyakan wilayah Indonesia, awal tahun adalah musim basah. Hujan yang turun terus-menurus berpotensi memunculkan genangan. Hal itu berarti risiko kita terkena demam berdarah meningkat.

Direktur Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan bahwa lembaganya mencatat kenaikan jumlah kasus demam berdarah sejak bulan November. Peningkatan itu merupakan pola yang terjadi setiap tahunnya.

“[Ada] 11 ribu kasus, itu dari 1 Januari [2019]. Se-Indonesia yang paling tinggi itu Provinsi Jawa Timur, dia 2.200 kasus sampai sekarang posisinya. Kabupaten yang paling banyak itu Kediri,” ujar Nadia.

Di Kabupaten Kediri, jumlah penderita demam berdarah mencapai 180 kasus. Sejak 2018, Jawa Timur menempati peringkat pertama provinsi dengan jumlah penderita demam berdarah terbanyak.


Nadia menyampaikan bahwa faktor geografis bukanlah penyebab utama tinggi rendahnya angka kasus DBD di suatu daerah. Penyebab utama dari persebaran virus tersebut adalah kebersihan lingkungan.

Ciri khas dari persebaran demam berdarah adalah adanya perantara untuk menularkan penyakit itu yakni nyamuk Aedes aegypti. Musim hujan adalah kondisi yang paling baik bagi pertumbuhan nyamuk, karena mereka membutuhkan genangan air untuk bertelur.

“Nah nyamuk Aedes aegypti ini bertelur 100-200 telur setiap kali proses penelurannya. Bisa bayangkan jumlah nyamuknya banyak, virusnya ada,” tutur Nadia.


Gejala Demam Berdarah

Menilik laman resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah kejadian demam berdarah telah mengalami peningkatan 30 kali lipat dalam rentang waktu lima dekade. Setiap tahunnya, WHO menemukan ratusan ribu kasus demam berdarah, dan sekitar 20.000 di antaranya tak tertolong nyawanya.

Berdasarkan catatan WHO, penyakit demam berdarah umumnya terjadi pada daerah beriklim tropis di seluruh dunia. Selain itu, pasien demam berdarah umumnya berasal dari daerah perkotaan dan semi perkotaan. Penyakit ini menjadi penyebab utama kematian pada anak di Asia dan Amerika Latin.

Menurut situs resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), virus demam berdarah dibawa oleh nyamuk aedes aegypti betina. Setelah virus terinkubasi selama 4 sampai 10 hari, nyamuk yang terinfeksi bisa menularkan virus tersebut seumur hidupnya.


Pada manusia, mereka yang terkena virus ini bisa menularkan ke orang lain melalui nyamuk Aedes aegypti selama 4 atau 5 hari, dengan waktu terpanjang mencapai 12 hari sejak gejala pertama muncul.

Penyakit demam berdarah merupakan penyakit yang kerap menyerang bayi dan anak-anak. Keterlambatan penanganan dari penyakit ini pun bisa menyebabkan kematian.

Biasanya, demam berdarah diawali dengan demam tinggi hingga 400 C yang disertai dengan beberapa gejala seperti nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, hingga munculnya ruam. Gejala tadi adalah gejala yang muncul selama 2 hingga 7 hari.

Namun, Anda harus waspada jika suhu tubuh Anda menurun pada hari ke-3 hingga ke-7. Bisa jadi itu adalah pertanda bahwa penyakit demam berdarah Anda semakin parah. Terkadang, penyakit itu juga ditandai dengan sakit perut parah, muntah terus-menerus, napas yang tidak teratur, gusi berdarah, kelelahan, gelisah, hingga muntah darah.

Pencegahan Demam Berdarah

Direktur Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, menuturkan beberapa cara untuk mempersempit ruang gerak persebaran penyakit ini, yaitu dengan memberikan larvasida serta melakukan fogging atau pengasapan.

Namun, Nadia mengakui efek fogging hanya berlangsung selama 30 menit, sebab fungsi dari fogging hanya untuk menghilangkan nyamuk dan jentik nyamuk yang hidup sebelumnya. Setelah ada pertukaran udara, bukan tak mungkin nyamuk dan jentik akan muncul kembali.

“Jadi, prinsipnya fogging itu kan menurunkan populasi nyamuk atau jentik dalam waktu cepat. Jadi misalnya ada seribu, kita turunkan [jadi] 500,” ungkap Nadia.



Merujuk studi berjudul “Optimal Timing of Insecticide Fogging to Minimize Dengue Cases: Modeling Dengue Transmission among Various Seasonalities and Transmission Intensities” (PDF) yang dilakukan Mika Oki dan tiga rekannya, ada waktu-waktu terbaik untuk melakukan pengasapan guna mengurangi persebaran nyamuk demam berdarah.

Dalam penelitian tersebut, Oki, dkk memasukkan beberapa parameter tambahan seperti musim dan tingkat penularan penyakit sehingga bisa menggambarkan wabah epidemi.

Mereka menemukan bahwa fogging sebaiknya dilakukan beberapa hari setelah puncak prevalensi, yakni ketika kejadian demam berdarah mengalami peningkatan, ketika populasi orang yang berada di masa pemulihan melebihi tingkat infeksi baru. Jika menilik pada musim, mereka menyimpulkan bahwa waktu penyemprotan yang baik adalah awal musim penghujan.

Selain pengasapan, WHO pernah mengungkap cara lain menekan angka kejadian demam berdarah, yakni vaksinasi Dengfaxia. Namun, Nadia menyampaikan bahwa saat ini Kementerian Kesehatan belum mewajibkan program tersebut. Penggunaannya masih diwarnai pro dan kontra.

“Kalau dulu vaksinnya itu untuk yang belum pernah terinfeksi demam berdarah. Kemudian setelah dilihat lagi, rasanya indikasi itu lebih bermanfaat pada orang yang pernah terinfeksi demam berdarah,” kata Nadia.

Nadia menyebutkan bahwa sekitar 80 persen penduduk Indonesia diperkirakan pernah terinfeksi demam berdarah, meskipun tak berat.

Menurut Nadia, kunci utama pencegahan demam berdarah adalah kesadaran menjaga kebersihan lingkungan. Maka dari itu, lingkungan kita tinggal harus dibersihkan dari benda-benda tak terpakai seperti botol bekas, ban atau pot terbuka, hingga bak penampungan air yang tak ditutup.

Nadia juga menekankan pentingnya menerapkan 3 M untuk mencegah munculnya demam berdarah: (1) menguras dan (2) menutup tempat penampungan air, serta (3) mendaur ulang barang bekas.

“Contoh gampang vas bunga. Kan sering kita lihat di rumah-rumah. Kalau airnya tidak diganti atau kita tidak masukkan ikan pemakan jentik, jentik-jentik nyamuk akan tumbuh di situ. Itu kan nyamuknya akan banyak,” kata Nadia.

Selain itu, Nadia juga menyampaikan bahwa hal terpenting untuk mencegah adanya wabah adalah kewaspadaan dini. Jika suatu daerah kurang mengaktifkan gerakan pemberantasan nyamuk, jumlah pasien demam ini pun akan terus bertambah.

Baca juga artikel terkait DEMAM BERDARAH atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Widia Primastika
Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight