Industri Kosmetik

Di Balik Tren Masuknya Para Artis ke Industri Kosmetik

Ilustrasi kosmetik. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Ringkang Gumiwang - 21 Juni 2019
Dibaca Normal 3 menit
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah artis terjun ke industri kosmetik. Potensi perputaran uang yang besar di industri ini, seolah menjadi magnet kuat bagi para pemain baru.
tirto.id - Suatu siang, Ashanty Siddik Hasnoputro terlihat memakai baju khusus dengan pelindung kaki dan kepala berwarna putih. Usut punya usut, ia memakai pakaian khusus itu lantaran akan meninjau pabrik kosmetik baru miliknya yang berlokasi di BSD Tangerang, Banten.

Artis yang menikah dengan anggota DPR Anang Hermansyah ini begitu bersemangat ketika meninjau pabrik kosmetiknya itu. Ia bahkan sanggup menaiki tangga hingga ke lantai tiga. Padahal, kala itu, ia tengah hamil empat bulan.

"Demi mencari rezeki dan membuat orang cantik," tutur Ashanty dalam sebuah video yang diunggah pada Mei 2016.

Bisnis kosmetik memang sedang menjadi tren belakangan ini, terutama di kalangan artis. Tak hanya Ashanty, selebritas dalam negeri lainnya pun tak ketinggalan mencoba peruntungannya di bisnis kecantikan ini.


Rossa, misalnya. Penyanyi 'Ayat-ayat Cinta' ini baru saja mengeluarkan produk kosmetik pertamanya, yaitu lipstik dengan nama 'Rossa Lip Tease'. Ia bahkan terlibat langsung dalam penilaian produk ketika produk itu baru saja dikeluarkan dari laboratorium.

Ada lagi, artis muda Prilly Latuconsina. Perempuan asal Tangerang ini juga terjun ke bisnis kecantikan dengan merek bernama ILY Cosmetics. Seperti Ashanty, Prilly juga memiliki pabrik kosmetiknya sendiri.

Potensi Triliunan Rupiah


Masuknya sejumlah selebritas Indonesia ke dalam bisnis perias diri ini memang bukan tanpa sebab. Permintaan akan produk kecantikan dalam lima tahun terakhir terus meningkat. Lima tahun ke depan pun trennya diprediksi masih terus menanjak.

Dalam catatan Statista, pendapatan penjualan produk kecantikan di Indonesia pada 2012 tercatat sebesar 1,02 miliar dolar AS (sekitar Rp14,4 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.094,5 per dolar AS). Pada 2017, angkanya tumbuh menjadi sebesar 1,37 miliar dolar AS, dan diprediksi menjadi 1,88 miliar dolar AS pada 2022.

Permintaan produk kosmetik yang terus meningkat memang tidak terlepas semakin sadarnya masyarakat dalam menjaga penampilan. Selain itu, merias diri juga seolah telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, khususnya bagi para perempuan.

Populasi perempuan di Indonesia sangat besar. Berdasarkan prediksi Bappenas, jumlah perempuan di Indonesia pada 2010 mencapai sebanyak 118,66 juta jiwa. Pada 2025, jumlah ini melonjak menjadi 142 juta jiwa.

Belum lagi, jumlah pria Indonesia yang memakai produk kosmetik dan perawatan kulit juga diprediksi terus bertambah. Pria yang memasuki usia 30 tahun cenderung mulai memikirkan penampilannya.

"Pria cenderung mulai memikirkan penampilan ketika berumah tangga. Pengaruh lingkungan dan kondisi keuangan yang stabil juga menjadi faktor pendukung," kata Chief Executive Officer Klinik Kecantikan ZAP Fadly Shahab, seperti dikutip dari Antara.


Hal ini sejalan dengan hasil riset dari Orbis Research berjudul "Global Men’s Grooming Products Market 2018-2023." Dikutip dari Reuters, riset tersebut menyebutkan bahwa penjualan produk kecantikan untuk pria diprediksi tumbuh 5,23 persen selama periode 2018-2023. Adapun, kesadaran pria akan penampilan menjadi pendorong utama penjualan tersebut.

Produk kecantikan atau perawatan tubuh diprediksi akan semakin populer di negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand dan Malaysia. Meski demikian, Cina dan India akan menjadi pemegang pasar terbesar di Asia Pasifik.

Potensi pasar kosmetik yang besar juga diutarakan Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) Sancoyo Antarikso. Menurutnya, pangsa pasar kosmetik di Indonesia akan terus menggelembung ke depannya.

Dia mengakui besarnya pangsa pasar kosmetik membuat pelaku bisnis kosmetik baru mulai bermunculan. Bisa dikatakan, tingkat kompetisi atau persaingan memperebutkan pasar sudah sangat intens.

"Meski begitu, saya meyakini masih ada ruang bagi pelaku usaha untuk menggarap pasar kosmetik. Apalagi, pangsa pasar kosmetik juga terus bertambah setiap tahunnya. Belum lagi jika ditambah pasar luar negeri," jelas Sancoyo.

Menurut data Kementerian Perindustrian, jumlah perusahaan kosmetik di Indonesia mencapai 760 perusahaan pada 2016. Dari jumlah tersebut, sekitar 95 persen dipegang industri skala kecil dan menengah. Sisanya, dikelola industri skala besar.



Yang Untung dan Yang Rugi


Besarnya potensi pertumbuhan pasar tersebut jelas menjadi tanda gurihnya bisnis kosmetik. Meski begitu, tidak semua perusahaan kosmetik bisa merasakan nikmat dari pertumbuhan pasar tersebut.

Lihat saja PT Martina Beto Tbk. Penjualan perusahaan yang memiliki merek produk Sariayu Martha Tilaar ini anjlok 31 persen dengan hanya meraup duit sebesar Rp503 miliar sepanjang 2018, dari sebelumnya Rp732 miliar.


Anjloknya penjualan tersebut membuat Martina Beto membukukan kerugian hingga ratusan miliar, yakni sebesar Rp114 miliar, naik 356 persen dari rugi bersih pada tahun sebelumnya sebesar Rp25 miliar.

Kinerja negatif juga terjadi pada PT Mustika Ratu Tbk. Perusahaan yang didirikan oleh cucu dari Raja Keraton Surakarta Hadiningrat Sri Susuhunan Paku Buwono X ini meraup rugi bersih sebesar Rp2,25 miliar sepanjang 2018.

Rugi bersih itu meningkat 76 persen dibandingkan dengan rugi tahun sebelumnya, sebesar Rp1,28 miliar. Meningkatnya nilai rugi bersih tersebut juga disumbang oleh anjloknya penjualan Mustika Ratu sebesar 13 persen menjadi Rp301 miliar.

Namun, ada pula emiten yang merasakan manisnya bisnis ini. Salah satunya adalah PT Kino Indonesia Tbk. Penjualan produk dan pemeliharaan tubuh Kino melonjak 22 persen menjadi Rp1,8 triliun dari sebelumnya Rp1,46 triliun.

Dari penjualan yang melonjak itu, Kino memperoleh profit sebesar Rp1,03 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp840 miliar. Untuk diketahui, Kino merupakan produsen OVALE skin care dan Ellips Hair Care.


Kinerja yang positif juga terjadi di PT Mandom Indonesia Tbk. Meski penjualan perusahaan turun 3 persen menjadi Rp2,64 triliun, pemilik merek Gatsby dan Pixy ini masih meraup laba bersih, yakni sebesar Rp173 miliar.

"Kompetisi industri kosmetik selama ini memang intens. Untuk bisa bertahan di industri ini, relevansi produk menjadi kunci. Apalagi, dengan teknologi informasi yang berkembang saat ini, di mana membuat tren kosmetik itu bisa cepat berubah," kata Sancoyo.

Baca juga artikel terkait INDUSTRI KOSMETIK atau tulisan menarik lainnya Ringkang Gumiwang
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Ringkang Gumiwang
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight