Di Balik Komentar-Komentar Post Instagram Ridwan Kamil

Unggahan Ridwan Kamil di akun Instagram pribadinya. FOTO/Instagram@ridwankamil
Oleh: Patresia Kirnandita - 28 November 2017
Dibaca Normal 5 menit
Apa saja yang implisit dari pro-kontra warganet di Instagram sang Walikota Bandung?
tirto.id - Walikota Bandung, Ridwan Kamil, kembali mengunggah kalimat kontroversial di media sosial. Pada 15 November 2017 lalu, ia mengunggah foto istrinya beserta istri Bima Arya Sugiarto dan Emil Dardak di Instagram. Foto itu dibubuhi caption:

Dibalik kerja para lelaki ini, ada wanita rajin luluran dan perawatan yang setia menyemangati. Bandung-Bogor-Trenggalek. *bersyukurlah bukan lelakinya yang rajin luluran.

Terkait isu gender, bukan kali ini saja ia mendapat reaksi negatif karena mengucapkan sesuatu di media sosial.

Sebelumnya, ia diprotes karena mengomentari Punpun, seleb Thailand dengan lawakan sarkas, “Dapat salam dari artis Thailand. Semoga ia bukan lelaki.”

Oleh para pemerhati isu gender, ia dinilai tidak sensitif, bahkan cenderung homofobik lewat kalimat yang ia lontarkan tersebut. Sementara itu, untuk kasus caption Instagram November lalu, ia dibilang seksis karena mengamini peran gender tradisional yang dianggap tak setara antara laki-laki dan perempuan.

Salah satu kritik yang implisit menyatakan Ridwan Kamil seksis disampaikan oleh @shafiraay.

“Gak cuma perempuan kok Pak yang boleh luluran," tulisnya. "Laki2 juga mangga silakan ga ada yang larang. Terus kalau boleh saran Pak, hindari post/caption yang bertendensi melanggengkan stereotip akan gender di tengah masyarakat...”

Senada dengan @shafiraay, @audynda pun berkomentar, “Gak asik ah pak main gender stereotype”.

Ada lagi yang berkomentar dengan menyoroti isu homofobik Ridwan Kamil seperti @mrachy, “Pak bercandanya gak lucu. Menjurus ke homofobik dan merendahkan perempuan. Cobalah lebih bijak dalam memposting sesuatu.” Atau komentar @putriodys, “Kenapa kalau laki-laki luluran? Ada yg salah?”

Sudah jadi cerita lama bahwa sampai kini, pembagian peran gender secara tradisional masih berlaku, seberapa progresif pun kehidupan di kota-kota besar semacam Bandung. Asumsinya, perempuan seyogyanya merawat diri dan hal ini dikaitkan dengan kepuasan, kebahagiaan rumah tangga, bahkan kesuksesan laki-laki.

Bagaimana dengan laki-laki? Masih jadi hal yang tabu dalam masyarakat patriarkis untuk mendapati laki-laki menjalani perawatan tubuh serupa perempuan. Maskulinitas beracun menerapkan pakem-pakem tertentu agar seorang laki-laki dikatakan jantan. Mereka yang rajin nyalon atau luluran akan dipandang miring, bahkan dikatakan kemayu, gay, dan lain sebagainya.

Dalam studi dari UNS bertajuk “A Cultural Social Study On Serat Candrarini in Pakubuwono IX Time (1861-1893)”, dipaparkan interpretasi terhadap Serat Candrarini yang sarat dengan stereotip peran gender. Anjuran-anjuran tentang bagaimana menjadi “istri yang baik” pada saat ini tampak tak jauh berbeda dengan isi Serat Candrarini.

Dalam Pupuh V Kinanthi, misalnya, disebutkan tentang istri Raden Janaka yang terakhir, Wara Srikandhi dewi nagari Cempalareja, yang dikatakan berwajah cantik dan berbadan langsing. Sang dewi juga pandai berdandan, sesuai dengan busananya, sehingga ia menjadi contoh bagi para wanita.

Selain itu, dalam Serat Candrarini juga dijelaskan bahwa seorang istri mesti pandai memperhatikan keadaan wadag (jasmani), memelihara agar selalu sehat dan sedap dipandang, memperhatikan sopan santun berbusana agar tidak melanggar tata tertib dan kesusilaan.

Soal lulur, hal ini juga telah menjadi bagian dari tradisi merawat kecantikan yang lama langgeng di Indonesia. Mulanya, lulur bahkan menjadi ritual yang lazim dijalankan sebelum perempuan menikah.

Apa yang implisit dari ritual ini? Perempuan (mesti) tampil cantik pada hari ia dipersunting. Apakah untuk kepentingan dirinya semata? Belum tentu. Masih ada anggapan bahwa perempuan sepatutnya cantik fisik supaya enak dipandang suami dan mampu menyenangkannya.

Ketika berbicara soal peran gender yang telah lama membudaya, bukan perkara mudah untuk membuat orang-orang mengkritisi ujaran-ujaran bernada seksis. Pasalnya, nilai-nilai yang acap kali diskriminatif gender sudah nyaris mendarah daging dan terejawantah dalam aksi dan reaksi mereka.

Tengok balasan @indrahasyim kepada @syafiraay di kolom komentar Instagram Ridwan Kamil:

Masy Indo masy traditional mbak makanya lebih suka caption seperti ini...Dan tidak salah rasanya Pak Wali membuat caption yg orang lebih banyak suka...orang Indonesia itu punya titik temu sendiri terhadap persamaan hak wanita pria...mereka permisif kok ada walikota risma yg hebat..it's ok...tapi mereka agak allergic kalo liat perempuan yg lemah lembut Banting tulang jadi tukang parkir trus liat laki2 luluran...Kita punya budaya sendiri budaya indonesia..jangan terlalu paksakan lah nilai2 budaya barat di Indonesia..

Bukan hanya perkara tradisi yang tersirat dari komentar itu. Akun @indrahasyim juga mengetengahkan soal Ridwan Kamil sebagai sosok publik. Ia memang dikenal aktif di media sosial, suatu hal yang tidak semua pejabat publik lakukan. Implikasinya, ujaran-ujaran yang Ridwan Kamil lontarkan di media sosial akan senantiasa membuka percakapan, termasuk yang berisi pro kontra macam post “istri luluran” ini.

Sosok publik akan punya daya besar untuk mengarahkan cara pandang masyarakat. Sebaliknya, posisinya sebagai pemangku jabatan pun akan kian aman ketika bertemu dengan orang-orang yang sepemikiran dengannya, seperti warganet yang mendukung caption-nya dan menertawai orang-orang yang menyerang Ridwan Kamil dengan tuduhan seksis.

Selain @indrahasyim, @wirasetya1 juga menanggapi komentar @shafiraay:

Semoga komentar mba nya juga konsist di postingan model "cewek selalu benar" atau postingan sejenis yg mengkultuskan cewek. Soalnya gk dikit yg saya liat cewek yg pengen "setara" tapi ngebuat pengecualian buat dirinya sendiri. Semacam riweuh sorangan tapi saya yakin kalo mba mah konsisten

Lebih lanjut @wirasetya1 menambahkan, banyak orang yang kampanye tentang kesetaraan gender tetapi memiliki standar ganda.

Kritik standar ganda para pemerhati isu gender juga bukan hal anyar. Di kalangan sesama feminis pun, masih sering ditemukan cara pikir yang tak sejalan saat melihat suatu isu. Ambil contoh soal merawat diri, mengekspresikan seksualitas, atau memakai make up.

Ada yang berpendapat bahwa memoles penampilan adalah semata-mata bentuk obyektifikasi perempuan dan ini mesti dihentikan. Sementara bagi feminis lain yang mengedepankan subyektivitas, tidak bisa anggapan ini diterapkan kepada semua perempuan. Ada unsur agensi dan kehendak bebas perempuan, utamanya terkait jargon tubuhku adalah otoritasku.

Tirto menanyai dua perempuan soal lulur dan pemakaian make up untuk mencari tahu mengapa mereka melakukannya? Diantina misalnya, mengatakan ia suka melakukan lulur untuk membersihkan diri dari kotoran di tubuh. Ia pun kerap menggunakan make up, misalnya pada saat menghadiri acara pernikahan, dengan alasan menghormati pihak yang mengundang, bukan agar sedap dipandang laki-laki.

“Bagi gue, lebih proper aja untuk ke acara resmi pakai make up. Biar enggak keliatan kusam dan pucat,” ucapnya.

Sementara bagi Fifa, lulur yang dilakukannya bertujuan untuk relaksasi tubuh, “Enggak ada bedanya [penampilan] gue sebelum sama sesudah lulur. Yang enak tuh sensasi pijatannya pas dilulur. Jadi segar aja.”

Baca juga: Jamu Khusus Wanita Tak Sekadar Demi Disayang Pria

Kembali ke komentar-komentar di Instagram Ridwan Kamil soal istri lulur, mereka yang mendukung mengatakan:

@ifha_boutique Iya pak @ridwankamil !!! Ibu klimis geulis awewe ya nu perawatan. Jaman NOW ibu2 ga kalah saing jeng anak MUDA jAAMAN NOW...

@rinaarisnawti Bersukurlah para pejabat zaman now punya istri cuantiiqq cuantiiqq semuanya...jd pdngan nga belok kiri kanan..kaca mata kuda teu laku

@apriyantirahmawati Kode keras buat parasuami nih, klo mau sukses seperti para walikota ini, selain uang bulanan kudu ada uang tambahan khusus buat perawatan dan luluran.

@@kudalumping_12 Kan para lalaki memang kodtratnya yang bayar-bayarrr, masa luluran jugak pak waliiii...

@yenynose26 Cinta nampanya rajin sekali luluran ya pak @ridwankamil terlihat nampak putih selaliiihhhh d kameraaahhh hehe

@yourbouquet_idea Ini kenapa pada bilang 'merendahkan' adakah yang salah dengan postingan luluran, 😑 pada serius banget apa yak hidupnya

@yourbouquet_idea@rhesa.anggara emang rendah ya kalo perempuan luluran, mungkin istri situ nanti ga luluran or perawatan something lah yaa. Kita mah cewe normal butuh mempercantik diri

Nilai-Nilai di Balik Komentar

Apa saja yang implisit dari komentar-komentar ini? Pertama, istilah “ibu-ibu” dan “anak muda jaman now” terkait isu usia. Ada dua kutub yang tersirat dari komentar ini, seakan-akan ibu-ibu dan anak muda adalah kompetitor yang berjuang untuk menjadi paling unggul dalam hal penampilan.

Kedua, afirmasi bahwa penampilan adalah “kacamata kuda” buat laki-laki. Hasrat ingin memiliki kuat sekali terasa dalam komentar di atas, seolah-olah pasangan adalah properti yang bisa dijamin kepemilikannya menggunakan kecantikan perempuan. Lalu, apakah semua perempuan cantik mempunyai pernikahan langgeng? Bisa dicek berapa sosok publik yang dibilang cantik mengalami kegagalan relasi romantis.

Selanjutnya, perkara laki-laki membayari pasangan. Sebagian laki-laki akan merasa kalah gengsi bila kedapatan dibayari perempuan atau tidak sanggup memenuhi kebutuhan materialnya.

Apa dampaknya? Anggapan bahwa laki-laki mesti menjadi pencari nafkah utama dan perempuan tidak lebih dari makhluk materialistis penadah uang suami. Ini menjadi bukti lain dari stereotip gender lain yang diamini masyarakat, setidaknya oleh pemberi komentar terkait laki-laki yang kodratnya membayari perempuan.



Lalu ada pula komentar yang sehubungan dengan standar kecantikan dominan. Perempuan cantik itu putih. Lulur supaya kulitnya putih. Naif bila mengatakan standar cantik kulit putih atau cerah itu hanya berasal dari Barat.

Dokumen dan cerita-cerita kehidupan dewi dan perempuan jelita dari masa lampau pun tidak jarang mendeskripsikan perempuan cantik bukanlah perempuan berkulit gelap atau cokelat.

Terakhir, komentar yang menyebutkan “cewek normal butuh mempercantik diri”. Bak pakar psikologi atau pakar medis, ia mengasosiasikan kenormalan perempuan dengan upaya merawat penampilannya. Bagaimana dengan seorang ibu tua yang sejak pagi hingga malam banting tulang berjualan makanan demi anak-anaknya, tidak sempat atau bahkan tidak mengenal perawatan diri rutin macam perempuan di kota-kota besar, lantas abai berdandan atau melulur diri?

Tidak normalkah ia? Atau pilihan sebagian perempuan bekerja yang melupakan lipstik atau bedak saat ke kantor, tetapi datang dalam keadaan bersih sesudah mandi. Apakah artinya ia tidak secantik mereka yang bekerja dengan rutin memakai make up, lalu dibilang tak normal?

Baca juga: Riasan Wajah untuk Tampilan Profesional: Ya atau Tidak?

Memperdebatkan soal tulisan-tulisan Ridwan Kamil di media sosial tidak akan mudah menemukan ujung. Selalu saja ada pleidoi dari sang walikota dan para pembelanya. Selain itu, tulisannya hanyalah satu dari begitu banyak ucapan sosok publik yang kontroversial, dianggap tidak sensitif gender.

Ia menjadi ekspresi dan representasi dari banyaknya orang-orang yang masih berpemikiran tradisional soal pembagian peran gender. Apa yang menyebabkan hal tersebut dan bagaimana cara mereduksi konflik dan tindak diskriminasi di kemudian hari adalah hal-hal yang tentunya tidak kalah penting dipikirkan selain hanyut di pusaran pro kontra “istri luluran”.

Baca juga artikel terkait PEREMPUAN atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Politik)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight