Riasan Wajah untuk Tampilan Profesional: Ya atau Tidak?

Oleh: Patresia Kirnandita - 18 Januari 2017
Dibaca Normal 2 menit
Siapa bilang riasan wajah tak membawa dampak apa-apa di tempat kerja? Para pekerja menangkap kesan berbeda terhadap rekan perempuannya yang menggunakan riasan wajah ke kantor.
tirto.id - Sebagian orang menganggap memulas wajah untuk pergi ke kantor sebagai rutinitas, sementara yang lain memilih tak menggunakan riasan apa pun ketika memasuki dunia profesional. Bagi yang tidak merasa memakai riasan wajah ke kantor itu penting, mungkin informasi berikut ini dapat memberi pertimbangan baru.

Dikutip dari Scientific American, hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan riasan wajah menyiratkan status seseorang. Pada dua eksperimen awal, periset mengambil gambar 40 mahasiswi dengan dan tanpa kosmetik, kemudian mempresentasikannya di hadapan 128 mahasiswa dan mahasiswi lainnya.

Mereka diminta memberi penilaian yang komponennya telah ditentukan periset yaitu tingkat daya tarik, dominasi, dan prestise. Para responden bisa menginterpretasikan komponen-komponen ini secara bebas, tetapi pada umumnya, mereka menafsirkan dominasi pada kemampuan untuk mengendalikan sesuatu melalui kekuatan atau ancaman tertentu, sementara prestise berkaitan dengan rasa hormat yang diberikan orang-orang terhadapnya.

Dari kacamata responden perempuan, kesan dominan didapatkan dari foto-foto perempuan yang mengaplikasikan kosmetik. Di sisi lain, laki-laki cenderung tidak menganggap perempuan dapat mengancam lewat tampilan fisik, termasuk dengan menggunakan riasan wajah. Mereka berasumsi bahwa perempuan yang berdandan tidak akan memengaruhi level dominasinya.

Alih-alih menganggap mereka dominan, para laki-laki menganggap para perempuan yang merias wajah lebih prestisius. Anggapan itu seiring dengan hasil penelitian-penelitian silam yang menyatakan orang-orang dengan daya tarik tinggi diasumsikan lebih kompeten dalam suatu bidang.

Menindaklanjuti hasil temuan pada eksperimen awal, periset membuat eksperimen kedua terhadap 48 mahasiswi di luar responden eksperimen pertama. Para mahasiswi itu ditanyai seberapa cemburu mereka jika melihat pasangan berinteraksi dengan perempuan-perempuan beriasan wajah seperti dalam foto pada eksperimen sebelumnya. Hasilnya, para responden merasa perempuan beriasan wajah itu lebih menarik secara seksual sehingga kemungkinan besar mereka akan cemburu.

Meski penelitian dilakukan terhadap mahasiswa dan mahasiswi, temuan ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para perempuan pekerja. Dalam penelitian berbeda yang ditulis di New York Times juga dinyatakan hal senada: kosmetik dapat meningkatkan daya tarik perempuan.

Para responden yang terdiri dari 268 orang dewasa menilai bahwa perempuan yang mengenakan riasan wajah terlihat lebih kompeten. Nancy Etcoff, peneliti sekaligus profesor Psikologi di Harvard University, juga mengungkapkan bahwa perempuan merasa lebih percaya diri saat mereka mengenakan riasan wajah.

Meski hasil riset menunjukkan adanya persepsi tertentu terhadap perempuan beriasan wajah, Etcoff menyarankan para perempuan untuk tetap menyesuaikan penggunaan riasan wajah dengan situasi dan tempat mereka membawakan diri. Sarah Vickery, peneliti dari perusahaan Procter & Gamble yang memproduksi sejumlah kosmetik mengatakan, “Ada saatnya Anda [perempuan] ingin memberikan kesan kuat dan Anda tak perlu ragu untuk melakukannya.

Penggunaan warna pemulas bibir yang lebih mencolok atau tua dapat membuat Anda lebih bersinar. Sementara pada situasi lain ketika Anda ingin member kesan lebih seimbang, Anda dapat memilih warna pemulas bibir yang lebih natural atau muda, tidak terlalu glossy, tetapi tetap memberikan kontras terhadap warna kulit wajah.

Tentu saja hasil penelitian seputar riasan wajah dan korelasinya dengan impresi orang-orang tidak diamini oleh segala kalangan perempuan. Reaksi negatif terhadap penggunaan riasan wajah yang diasumsikan hanya untuk pandangan laki-laki masih ditemukan.

Infografik Percaya Diri dengan Kosmetik


Penulis The Beauty Bias dan profesor Hukum di Standford University, Deborah Rhode, misalnya, menyatakan bahwa kualitasnya sebagai pengajar tidak sepatutnya bergantung pada kosmetik yang ia gunakan. “Kami ingin individu di bursa kerja dinilai dari kompetensinya, bukan dari riasan wajah,” ujarnya pada New York Times.

Asumsi penggunaan riasan wajah untuk menyenangkan laki-laki mungkin saja diamini pada dua atau tiga dekade silam. “Atau bisa saja perempuan menggunakan riasan wajah karena masyarakat menginginkannya,” komentar Etcoff terkait skeptisisme terhadap aplikasi riasan wajah yang memicu timbulnya kesan tertentu. “Namun para pegiat gerakan perempuan sekarang melihat penggunaan riasan wajah sebagai bagian dari pilihan mereka pribadi, dan hal ini bisa saja menjadi alat yang efektif.”

Ditambahkan oleh Vickery, “Kosmetik dapat mengubah bagaimana orang-orang memandang Anda, seberapa cerdas Anda terlihat pada kesan pertama, atau seberapa hangat Anda di hadapan mereka. Ini sepenuhnya ada dalam kendali perempuan ketika banyak hal lain yang tampaknya sulit mereka kontrol.”

Pernyataan ini seirama dengan komentar Bobbi Brown yang memiliki produk kosmetik dengan label namanya sendiri. Brown mengatakan perempuan dapat mengubah diri mereka sendiri, tak hanya bagaimana diri mereka dipandang oleh masyarakat, tetapi juga bagaimana perasaan mereka terhadap dirinya.

Terlepas dari hubungan antara penggunaan riasan wajah dengan kesan tertentu yang diciptakannya, yang terpenting tetaplah kenyamanan perempuan saat mengaplikasikannya. Tanpa didesak untuk mengikuti arus atau tekanan peer group, perempuan dapat mempercantik dirinya dengan riasan untuk tujuan profesional atau lainnya.

Baca juga artikel terkait KECANTIKAN WANITA atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight