Derita Soleha Kena Lumpuh Otak di Ibu Kota: Bagaimana Peran Negara?

Oleh: Alfian Putra Abdi - 13 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kondisi Soleha dalam seminggu terakhir ini terus menurun. Soleha mulai enggan makan dan minum.
tirto.id - Sukmana (56 tahun) masih setia di samping cucunya, Soleha (13 tahun) yang sudah 2 hari terbaring di RSUD Cengkareng, Jakarta Barat. Sukmana hanya seorang diri di dalam ruang rawat inap yang sengaja dibuat remang tersebut.

Sukmana bisa saja meminta tolong anak-anaknya untuk bergantian menjaga Soleha, namun ia enggan melakukan hal tersebut.

"Nur [anaknya] kerja, pulang sore. Kalau Fitri [anaknya yang lain] enggak berani dia kalau ditinggal di sini sendiri. Lagi pula Fitri harus jaga Mbah [mertuanya] di rusun, " ujar Sukmana kepada reporter Tirto di RSUD Cengkareng, Jumat (12/7/2019).

Sukmana juga tak mungkin meminta suaminya, Hanafi, untuk bergantian menjaga Soleha. Sukamana sadar suaminya sebagai tulang punggung keluarga tidak mungkin libur kerja.

"Semua punya kesibukan masing-masing. Saya maklum," ujarnya.


Soleha beberapa kali mengerang dan merintih di tengah perbincangan saya dengan Sukmana. Matanya melotot dan mengeluarkan air mata. Namun, belaian tangan Sukmana mampu mendiamkan Soleha untuk sementara waktu.

"Ibunya Soleha sudah tidak mau ngurusin lagi begitu anaknya sakit. Ayahnya, anak saya juga sudah meninggal dunia. Tahun lalu, " ujarnya.

Soleha menderita lumpuh otak sejak 2006 atau ketika berusia 7 bulan. Bermula dari muntaber yang tiada henti, membuat Soleha kecil banyak kehilangan cairan.

"Terus dibawa ke rumah sakit dan koma lima hari. Dari sana dirawat, kata dokter urat sarafnya, karena habis kejang-kejang, jadi kena dan tidak normal, bentuk tubuhnya melengkung," kata Sukmana.

Sukmana bahkan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai buruh tekstil demi fokus merawat cucunya.

"Soleha juga punya kakak, tapi sekarang sudah tinggal sama ibunya. Saya tidak tahu keberadaan mereka," ujarnya.

Sempat Dibawa ke Pengobatan Alternatif


Sebelum menjadi warga Rusunawa Pesakih, Sukmana beserta keluarganya menetap di Kedaung Kali Angke, Jakarta Barat. Namun, mereka pindah pada 2015 lantaran rumahnya digusur untuk normalisasi sungai.

Sejak tinggal di Kedaung, Sukmana sudah membawa Soleha berobat ke RSUD Cengkareng. "Ini sudah yang ketiga kalinya, " kata dia.

Sukmana juga sempat membawa Soleha ke pengobatan tradisional atau alternatif, kendati pembiayaan di rumah sakit ditanggung Kartu Indonesia Sehat (KIS). Hal itu ia lakukan lantaran pengobatan di rumah sakit tidak banyak membawa perubahan pada cucunya.

Sukmana mendapat masukan dari kerabatnya untuk membawa Soleha ke seorang ahli dalam pengobatan tradisional. Sekali terapi, ia harus merogoh kocek Rp50 ribu.

"Kalau lagi ada duit saya terapi, kalau enggak ada ya enggak. Tidak rutin. Bisa sebulan sekali, tapi pernah setiap hari. Hitung saja Rp50 ribu sehari, kalau lima hari saja sudah Rp250 ribu, " Ujarnya.

Menurut Sukmana, pengobatan tradisional memberi dampak pada cucunya. Ia mengatakan pernah suatu ketika Soleha mengalami kejang yang membuat matanya susah terpejam, tapi saat dibawa ke pengobatan tradisional langsung normal.

"Saya bawa ke Jembatan Lima, cuma diusap usap tengkuknya, langsung bisa kedip, " ujar Sukmana. "Tapi di sana tuh lama, antriannya banyak, jauh juga."

Entah sudah berapa banyak tenaga dan uang yang Sukmana curahkan untuk kesembuhan cucunya. Sukmana belum menyerah dan yakin kesehatan Soleha akan membaik.

Namun, kondisi Soleha dalam seminggu terakhir ini terus menurun. Sukmana mengatakan cucunya mulai enggan makan dan minum. Selama sakit, Soleha hanya bisa mengkonsumsi makanan sejenis sereal dan susu.

Kondisi itu membuat Sukmana panik dan lekas membawa Soleha ke Puskesmas Rusunawa Pesakih.

"Saya biasa kontrol Soleha di sana. Kemarin saat bawa lagi, dirujuk ke sini [RSUD Cengkareng]. Akhirnya saya ke sini, naik ambulans," kata dia.

Bantuan Tidak Permanen


Ketua RT 016 RW 014 Rusunawa Pesakih, Syatiri sudah mengenal keluarga Sukmana, bahkan semenjak mereka sama-sama tinggal di Kedaung. Syatiri pun turut menyaksikan kelahiran Soleha pada 2006.

"Anak itu sakit dari usia 7 bulan. Kasihan jadi terlantar," ujar Syatiri saat ditemuai di Blok I Rusunawa Pesakih, Jakarta Barat, Jumat (12/7/2019).

Syatiri mendaku selama menjadi ketua RT di Kedaung dan Rusunawa Pesakih, pelbagai pihak telah memberi bantuan untuk Soleha. Mulai dari Suku Dinas Sosial Jakarta Barat, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, hingga Ibu PKK Duri Kosambi. Ia mengatakan bantuan yang paling banyak diberikan kepada Soleha dalam bentuk makanan.

Namun menurut Syatiri, bantuan-bantuan tersebut sifatnya insidental dan tidak permanen. "Artinya kalau bantuan dari pemerintah, bukan cukup yah, tetapi sudah."

Saat pindah ke Rusunawa Pesakih, ada juga bantuan dari Kelurahan Duri Kosambi untuk Soleha.

"Waktu itu lurah Herman rajin kasih bantuan. Waktu 2015 sampai 2016, terus diganti. Tapi kalau lurah yang sekarang saya tidak tahu deh," tambahnya.

Peran Pemerintah


Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengklaim sudah menangani sakitnya Soleha. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Fifi Mulyani mengatakan Soleha sudah menjadi salah satu pasien tetap di salah satu Puskesmas di Cengkareng.

Menanggapi kondisi kesehatan Soleha yang terus menurun, Fifi berdalih Soleha memiliki penyakit bawaan yang sulit disembuhkan.

"Jadi gini, pasien itu sudah menjadi pasien tetap di puskesmas daerah Cengkareng sejak tahun 2015. Dia memang punya penyakit dasar yaitu adanya gangguan pertumbuhan [stunting]," kata Fifi saat dihubungi wartawan Tirto, Kamis (11/7/2019).

Fifi mengatakan pihaknya juga memberikan bantuan berupa Pemberian Makanan Tambahan (PMT) seperti biskuit dan susu. Ia mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk membuat kondisi Soleha lebih baik.

"Memang mau bantuan apalagi. Lihatlah kondisinya, kalau mau dioperasi, mau operasi apa. Itu kan penyakit permanen. Itu kan otak. Mau dioperasi bagaimana," Ujarnya melalui sambungan telepon, Jumat.

Fifi mengatakan gizi buruk dan stunting yang diidap Soleha merupakan dampak bawaan dari cerebral palsy. Ia mengklaim pihaknya terus berkoordinasi dengan Puskesmas, Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat dan RSUD Tangerang.

"Ketika ditemukan tahun 2015, kita sudah bawa dia rujuk ke RSUD. Masuknya bukan untuk penyakit permanennya, itu kan dia penyakit permanen, tapi untuk penyakit penyertanya. Sekiranya dia ada infeksi gitu. Kita obatin tuh penyakitnya di RSUD, " Ujarnya.

Menurutnya ketika kabar Soleha santer diangkat oleh media, yang difokuskan hanya gizi buruknya saja. Padahal menurutnya penyebab itu ialah lumpuh otak yang sudah diidap Soleha sejak usia 7 bulan.

"Karena penyakitnya itu, ada pelemahan otot motoriknya, sensoriknya, jadinya mengunyah pun dia enggak bisa. Jadi hanya bisa diberikan makanan seperti bubur susu. Itu lah akhirnya seperti kekurangan gizi yang kurus sekali, " Ujarnya.

Namun, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Generasi, Ena Nurjanah mengatakan "penyakit bawaan" tak bisa menjadi dalih pemerintah untuk lepas tanggung jawab. Ia justru mempertanyakan upaya medis dalam penanganan penyakit Soleha.

"Katanya sudah dua tahun dilakukan penanganan oleh Puskesmas, selama dua tahun itu, kenapa tidak ada perkembangan kalau memang ditangani dengan serius? Harusnya ada perubahan ke keadaan membaik," kata Ena saat dihubungi reporter Tirto, Jumat (12/7/2019).

Ena mengatakan kasus Soleha harus menjadi perhatian pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Apalagi, kasus tersebut terjadi di ibu kota. Ia menduga ada mekanisme birokrasi yang tak berjalan.

"Mereka harusnya lebih pro aktif dan lebih peka. Dan juga Gubernur harusnya bisa lebih aware dengan kasus-kasus seperti ini, jangan sampai terjadi lagi," ujarnya.

Baca juga artikel terkait KASUS GIZI BURUK atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Haris Prabowo & Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Gilang Ramadhan