Deretan Kepala Daerah Kena Corona & Mengapa Jokowi Perketat Istana

Oleh: Zakki Amali - 4 Agustus 2020
Dibaca Normal 3 menit
Ke-13 kepala daerah yang terkena Corona, dua di antaranya pernah ke Istana Negara bertemu Presiden Jokowi dengan protokol kesehatan ketat.
tirto.id - Sejak Indonesia mengumumkan kasus pertama COVID-19 pada 2 Maret 2020, virus telah menyebar ke-33 provinsi. Hingga 3 Agustus, ada 113.134 kasus dengan 37.595 pasien dalam perawatan, 70.237 sembuh, dan 5.302 orang meninggal.

Hingga kini, setidaknya ada 13 kepala daerah pernah dan sedang terjangkit Corona, dua di antaranya meninggal dunia dan telah sembuh dan menjalani perawatan. Berikut riwayat ke-13 kepala daerah tersebut yang pernah atau sedang terjangkit virus SARS-CoV-2.

1. Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto

Bima Arya terkonfirmasi positif setelah tes usap pada 17 Maret 2020. Saat itu merupakan bulan pertama kasus Corona diumumkan di Indonesia. Sebelum tes, Bima mengunjungi Tukri dan Azerbajian untuk kunjungan kerja. Masa pemulihan di rumah sakit dijalani selama 22 hari hingga dinyatakan sembuh.

2. Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana

Cellica menderita sembuh 13 April setelah positif pada 24 Maret 2020. Ia diketahui sempat sesak saat nafas pidato dalam pelantikan kepala desa pada 20 Maret. Sore harinya, ia tes usap dan dinyatakan positif empat hari kemudian. Selama isolasi, ia berada di RSUD Karawang dan perawatan di Rumah Sakit Paru.

3. Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana

Mulyana dinyatakan positif pada Senin (23/3) setelah tes usap oleh Dinkes Provinsi Jabar. Setelah ada positif, ia telah menjalani isolasi mandiri selama 11 hari. Yana tertular Corona setelah datang dalam musyawarah daerah (musda) Himpunan Pengusaha Muda Indoensia (Hipmi) Jawa Barat di Karawang pada 8 Maret.

Yana sudah sembuh dari Corona. Ia menyatakan hari-hari pertama terpukul dan yang diingatnya saat itu adalah kematian.

“Saya sangat bersyukur, Allah masih sayang sama saya. Ketika pertama kali divonis COVID-19 jujur saya terpukul. Yang saya ingat adalah kematian,” kata Yana.

4. Bupati Pemalang Junaedi

Junaedi dan istrinya serta dua pejabat Pemkab Pemalang terkonfirmasi positif pada 21 Juli. Selama positif, mereka dirawat di RSUD dr Ashari. Junaedi telah dinyatakan sembuh pada 1 Agustus. Namun, ia akan tetap menjalani isolasi mandiri hingga 14 hari ke depan.

5. Bupati Morowali Utara Aptripel Tumimomor

Aptripel meninggal usai terkena Corona. Ia dinyatakan positif pada 3 April setelah melakukan perjalanan ke Jakarta selama dua pekan. Ia meninggal sehari sebelum hasil tes keluar. Pemakaman tersebut berlangsung dengan protokol COVID-19.

6. Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin

Farid mengumumkan sendiri saat positif Corona pada 28 April usai sehari sebelumnya ia diberi tahu hasil tes usap. Ia mengaku tak punya gejala seperti Corona. Ia dinyatakan sembuh pada 19 Mei lalu, setelah dua kali menjalani tes usap.

7. Wakil Bupati Tana Toraja Victor Datuan Batara

Victor terjangkit COVID-19 setelah hasil tes PCR pada 16 April. Ia dinyatakan sembuh dan meninggalkan ruang perawatan setelah 13 hari di ruang isolasi RSUD Lakipadada. Sebelum resmi sembuh, dua kali tes dijalani dengan hasil negatif.

8. Wali Kota Tanjungpinang Syahrul

Syahrul terjangkit Corona sejak 11 April. Istri dan cucunya juga positif. Dalam perawatan di ruang ICU RSUP Kepri, ia sempat memerlukan 20 kantong darah golongan O untuk transfusi. Syahrul meninggal pada 28 April setelah beberapa pekan melawan COVID-19.

9. Bupati Melawi Panji

Panji bersama 11 anggota keluarga dinyatakan positif Corona diduga tertular dari menantunya pada 1 Juni. Menantunya telah positif lebih dulu pada 24 Mei. Panji dinyatakan sembuh bersama keluarga besarnya pada 20 Juni.

10. Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi

Mulyadi menyampaikan kepada publik bahwa terkena Corona pada 15 Juli. Ia mengaku tidak punya gejala Corona. Ia sembuh setelah menjalani perawatan hampir dua minggu pada 27 Juli.

11. Wakil Bupati Ogan Komering Ulu Selatan Solihin Abuasir

Solihin menjalani tes usap di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Palembang. Hasilnya positif COVID-19 pada 15 Juli. Selama perawatan ia menempati RS Siloam. Ia sembuh enam hari lalu setelah menjalani isolasi dua pekan di rumah dinas. Ia mulai bekerja sejak Agustus.

12. Wakil Wali Kota Solo, Achmad Purnomo

Purnomo positif setelah dua kali menjalani tes usap. Pertama pada Jumat (16/7) atau sehari sebelum bertemu Presiden Jokowi di Istana Negara. Pertemuan dengan Jokowi terjadi sehari sebelum PDIP secara resmi mengusung Gibran Rakabuming di Pilkada Solo 2020. Hasil tes saat itu negatif. Lalu, Purnomo tes usap lagi sehari setelahnya di Solo pada Sabtu (18/7) dengan hasil positif.

Presiden Jokowi juga ikut menjalani tes usap setelah Purnomo positif. Hasilnya, Jokowi negatif Corona. Di Solo, tes massal terkait Purnomo juga digelar kepada 102, empat di antaranya dinyatakan positif. Kini Purnomo sudah sembuh atau hasil tes negatif pada pada tes ketiga, Sabtu (25/7) seminggu setelah terkonfirmasi.

13. Gubernur Kepulauan Riau, Isdianto

Isdianto dinyatakan positif setelah pulang dari Jakarta. Menurut Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kepri, Tjetjep Yudiana, asal usul penularan dari Jakarta menjelang pelantikan Isdianto. Sejumlah stafnya makan di sebuah restoran. Dari sana, menular ke Isdianto dan banyak orang lain.

"Dari hasil penelusuran ahli epidemiologi, kasus COVID-19 rombongan Gubernur dimulai dari Jakarta. Mereka makan sambil ngobrol," kata Tjetjep Yudiana.

Klaster Gubernur Kepri membesar. Ada 590 orang yang punya kontak erat menjalani tes usap. Di antaranya, ada tiga kepala daerah beserta keluarganya ikut menjalani karantina mandiri, yakni Walkot Tanjungpinang Rahma, Walkot Batam Muhamad Rudi, dan Bupati Bintan Apri Sujadi. Per Minggu (2/8), sudah ada dua orang positif yakni adik dan keponakan Isdianto dan lima staf protokol. Totalnya 12 orang, termasuk Isdianto

Sebelum positif, Isdianto menjalani pelantikan di Istana Negara. Pihak istana mengklaim telah menjalankan protokol kesehatan secara ketat. Antara lain, tes usap Gubernur Kepri dilakukan saat berada di Jakarta. Sedangkan staf Isdianto yang belakangan diketahui positif tak masuk ke dalam istana.

Protokol kesehatan di Istana Negara kini diperketat dengan pemasangan kaca akrilik untuk menyekat sebuah meja oval, tempat Jokowi biasanya rapat dengan para menteri. Orang yang akan bertemu Jokowi juga diharuskan menjalani tes swab dengan hasil negatif. Kemudian saat hari pertemuan, orang itu akan dites cepat.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Zakki Amali
(tirto.id - Kesehatan)

Sumber: Antara
Penulis: Zakki Amali
Editor: Abdul Aziz
DarkLight