Pendidikan Agama Islam

Definisi, Dalil dan Macam-macam Syu'abul Iman

Kontributor: Cicik Novita, tirto.id - 1 Sep 2022 14:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Definisi, dalil dan macam-macam Syu'abul Iman yang jumlahnya lebih dari 70.
tirto.id - Syu’ab Al Iman (Syu'abul Iman) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “cabang-cabang iman” (syu’ab= cabang).

Istilah ini diambil dari sebuah hadis shahih riwayat Bukhari dan Muslim yang berasal dari sabda Rasulullah Muhammad shalallahu alihi wa salam yang berbunyi:

"Iman memiliki tujuh puluh lebih cabang, dan yang paling tinggi adalah kalimat laa ilaaha illallaah, sedangkan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Malu adalah bagian dari iman.’’ (HR. Al Bukhari dan Muslim).


Merujuk An-Nahl Islamic, dari hadis tersebut, maka para ulama terkemuka pun mulai menafsirkan apa saja yang dimaksudkan oleh Rasulullah shalallahu alihi wa sallam dengan Syu’ab Al Iman atau cabang keimanan yang jumlahnya 70 lebih tersebut.

Berikut ini beberapa ulama dan kitab karya mereka yang menjelaskan tentang syu’abul iman, yakni:

  1. Imam Baihaqi RA yang menuliskan kitab Syu’bul Iman;
  2. Abu Abdilah Halimi RA dalam kitab Fawaidul Minhaj;
  3. Syeikh Muhammad Nawawi dalam kitab Syu’bul Iman;
  4. Imam Abu Hatim RA dalam kitab Washful Iman wa Syu’buhu
Salah satu ulama yakni Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi menjelaskan bahwa cabang keimanan tersebut ada 77 jumlahnya (dari hadis riwayat Abu Hurairah RA yang menyebutkan 77 cabang iman), pada kitab yang ia tulis yakni Qamiuth-Thughyan ‘ala Manzhumati Syu’abu al-Iman.

Dari rukun iman yang jumlahnya 6, lalu dijabarkan menjadi beberapa perilaku sebagai tanda iman yang bisa menambah amal pahala seorang muslim jika dilakukan serta mengurangi amal jika ditinggalkan.

Sebuah hadis yang diriwayatkan Anas RA, Nabi SAW bersabda:

"Tiga hal yang barang siapa ia memilikinya, maka ia akan merasakan manisnya iman (yaitu) menjadikan Allah SWT dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai (sesuatu) semata-mata karena Allah SWT dan benci kepada kekufuran, sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka." (HR. Bukhari Muslim).

Para ulama dan ahli hadis lalu menjelaskan kembali 77 cabang keimanan menjadi 3 kategori, berdasar hadis Ibnu Majah:


Dari Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Iman adalah tambatan hati, ucapan lisan dan perwujudan perbuatan," (H.R. Ibnu Majah).

Atau bisa dituliskan bahwa dimensi keimanan ada 3 bagian yakni:

  1. Ma'rifatun bil qalbi yaitu meyakini dengan hati (Niat, akidah dan hati)
  2. Iqrarun bil lisan yaitu diucapkan dengan lisan (ucapan)
  3. 'Amalun bil arkan yaitu mengamalkannya dengan perbuatan anggota badan (dilakukan oleh seluruh anggota badan).


A. Cabang iman yang masuk bagian niat, aqidah, dan hati

Pada e-book PAI SMA/SMK dari Kemdikbud dijelaskan penjabarannya seperti berikut:

    • Iman kepada Allah SWT.
    • Iman kepada malaikat Allah SWT.
    • Iman kepada kitab-kitab Allah SWT.
    • Iman kepada rasul-rasul Allah SWT.
    • Iman kepada takdir baik dan takdir buruk Allah SWT.
    • Iman kepada hari akhir.
    • Iman kepada kebangkitan setelah kematian.
    • Iman bahwa manusia akan dikumpulkan di Yaumul Mahsyar setelah hari kebangkitan.
    • Iman bahwa orang mukmin akan tinggal di surga, dan orang kafir akan tinggal di neraka.
    • Mencintai Allah SWT.
    • Mencintai dan membenci karena Allah SWT.
    • Mencintai Rasulullah SAW dan yang memuliakannya.
    • Ikhlas, tidak riya dan menjauhi sifat munafik.
    • Bertaubat, menyesal dan janji tidak akan mengulang suatu perbuatan dosa
    • Takut kepada Allah SWT.
    • Selalu mengharapkan rahmat Allah SWT.
    • Tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT.
    • Syukur nikmat.
    • Menunaikan amanah.
    • Sabar.
    • Tawadu dan menghormati yang lebih tua.
    • Kasih sayang termasuk mencintai anak-anak kecil.
    • Rida dengan takdir Allah SWT.
    • Tawakal.
    • Meninggalkan sifat takabur dan menyombongkan diri.
    • Tidak dengki dan iri hati.
    • Rasa Malu.
    • Tidak mudah marah.
    • Tidak menipu, tidak su'uzon dan tidak merencanakan keburukan kepada siapa pun.
    • Menanggalkan kecintaan kepada dunia, termasuk cinta harta dan jabatan


B. Cabang iman yang diamalkan melalui lisan/ucapan adalah:

Berdasarkan dalil dari hadis Rasulullah SAW yang berbunyi:

“Lisan orang yang berakal, muncul dari balik hati nuraninya, sehingga ketika ia hendak berbicara, terlebih dahulu ia akan kembali ke hati nuraninya. Apabila (pembicaraannya) bermanfaat baginya, maka ia berbicara, dan apabila dapat berbahaya, maka ia menahan diri. Sementara hati orang bodoh terletak pada mulutnya dan ia berbicara apa saja sesuai yang ia kehendaki,” (HR. Bukhari-Muslim).

Penjabarannya adalah:

  1. Membaca kalimat thayyibah (kalimat-kalimat yang baik)
  2. Membaca kitab suci Al-Qur`an
  3. Belajar dan menuntut ilmu
  4. Mengajarkan ilmu kepada orang lain
  5. Berdoa
  6. Zikir kepada Allah SWT termasuk istighfar
  7. Menghindari bacaan yang sia-sia
C. Cabang iman yang pengamalannya dengan perbuatan anggota badan:

Penjabarannya adalah:

  1. Bersuci atau thaharah termasuk di dalamnya kesucian badan, pakaian dan tempat tinggal
  2. Menegakkan salat baik salat fardu, salat sunah maupun mengqada salat
  3. Bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim, membayar zakat fitrah dan zakat mal, memuliakan tamu serta membebaskan budak.
  4. Menjalankan puasa wajib dan sunah
  5. Melaksanakan haji bagi yang mampu
  6. Beri’tikaf di dalam masjid, termasuk di antaranya adalah mencari lailatul qadar
  7. Menjaga agama dan bersedia meninggalkan rumah untuk berhijrah beberapa waktu tertentu
  8. Menyempurnakan dan menunaikan nazar
  9. Menyempurnakan dan menunaikan sumpah
  10. Menyempurnakan dan menunaikan kafarat
  11. Menutup aurat ketika sedang salat maupun ketika tidak salat
  12. Melaksanakan kurban
  13. Mengurus perawatan jenazah
  14. Menunaikan dan membayar hutang
  15. Meluruskan muamalah dan menghindari riba
  16. Menjadi saksi yang adil dan tidak menutupi kebenaran
  17. Menikah untuk menghindarkan diri dari perbuatan keji dan haram
  18. Menunaikan hak keluarga, dan sanak kerabat, serta hak hamba sahaya
  19. Berbakti dan menunaikan hak orang tua
  20. Mendidik anak-anak dengan pola asuh dan pola didik yang baik
  21. Menjalin silaturahmi
  22. Taat dan patuh kepada orang tua atau yang dituakan dalam agama
  23. Menegakkan pemerintahan yang adil
  24. Mendukung seseorang yang bergerak dalam kebenaran
  25. Menaati hakim (pemerintah) dengan catatan tidak melanggar syariat
  26. Memperbaiki hubungan muamalah dengan sesama
  27. Menolong orang lain dalam kebaikan
  28. Amar ma’ruf nahi munkar
  29. Menegakkan hukum Islam
  30. Berjihad mempertahankan wilayah perbatasan
  31. Menunaikan amanah termasuk mengeluarkan 1/5 harta rampasan perang
  32. Memberi dan membayar hutang
  33. Memberikan hak-hak tetangga dan memuliakannya
  34. Mencari harta dengan cara yang halal
  35. Menyedekahkan harta, termasuk juga menghindari sifat boros dan kikir
  36. Memberi dan menjawab salam
  37. Mendoakan orang yang bersin
  38. Menghindari perbuatan yang merugikan dan menyusahkan orang lain
  39. Menghindari permainan dan senda gurau
  40. Menyingkirkan benda-benda yang mengganggu di jalan.

Baca juga artikel terkait AGAMA ISLAM atau tulisan menarik lainnya Cicik Novita
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Cicik Novita
Penulis: Cicik Novita
Editor: Dhita Koesno

DarkLight