Datuk Rangkayo Basa: Saudagar Pariaman yang Menulis Autobiografi

Datoek Muhammad Saleh. FOTO/kidalnarsis.com/
Oleh: Petrik Matanasi - 17 September 2020
Dibaca Normal 2 menit
Muhammad Saleh merintis usahanya sejak berusia belasan tahun. Ia akhirnya mendirikan NV Handels Maatschappij Pariaman.
Muhammad Saleh gelar Datuk Rangkayo Basa adalah salah seorang saudagar Minang yang terkenal pada akhir abad ke-19. Ia berasal dari Pasir Baru, Pariaman, Sumatra Barat. Arti dari gelarnya adalah datuk orang kaya besar. Kekayaannya cukup luar biasa untuk hitungan orang Indonesia di zaman kolonial. Di masa tuanya, Saleh bercerita tentang hidupnya dalam Riwayat Hidup dan Perasaian Saya (1914).

Dalam buku tersebut diceritakan bahwa sejak kecil Saleh membantu menyeret pukat tiap siang dengan bayaran 25 sen. Sekali waktu ayahnya memberi saran agar Saleh mulai berdagang untuk melatih nalar. Ia pun menurutinya. Saleh berjualan ikan kering di Pariaman. Modal awalnya sebesar 2 gulden, hasil tabungannya dari upah menyeret pukat. Keuntungan dari berjualan sebisa mungkin ia sisihkan untuk ditabung dan belajar berhemat. Sehingga dalam jangka sebulan berjualan, ia telah menabung sebesar 10 gulden.

Kendati berdagang, Saleh tak melupakan hal lain, yakni terus mengasah kemampuannya dalam membaca, menulis, dan berhitung. Setiap malam, ia bersama 10 orang anak lainnya belajar pada seorang guru.

Saat usianya 14 tahun, Saleh sudah pandai membaca, menulis, berhitung, dan beribadah cara Islam. Ia juga sudah punya uang sebesar 500 gulden. Saleh berhenti berjualan ikan kering dan mulai berlayar ke Sibolga membantu seorang saudagar dalam perniagaan. Pada masa-masa itu, Saleh mulai berlayar menjadi nakhoda kapal dagang. Selain itu, tabungannya juga kian bertambah sehingga ia mampu membeli rumah seharga 200 gulden dan seekor kerbau lengkap dengan pedatinya.

Setelah cukup lama bekerja dengan saudagar, Saleh mulai bosan dan akhirnya memilih berhenti. Ia yang kala itu telah beristri, kemudian kerja serabutan seperti mengajar bahasa Melayu dan membantu kawannya berdagang.

Sekali waktu, seorang pedagang meminta Saleh menghitung barang dagangan di kedai miliknya di Pariaman, dan ternyata si pedagang itu merugi. Saleh lalu ditawari untuk membeli barang-barang tersebut dan pembayarannya boleh dicicil. Mereka pun bersepakat. Saat itu sekitar tahun 1867, yakni ketika usia Saleh telah 26 tahun dan baru kehilangan ayahnya yang meninggal dunia.

Di sebuah kedai milik Sutan Budin yang harga sewanya 3 gulden perbulan, Saleh mulai berjualan lagi dan melengkapi barang dagangan. Kedainya sering dikunjungi para nahkoda yang merupakan kawan lamanya ketika bekerja di Sibolga. Barang dagangan Saleh antara lain gula merah, gambir, cabe, bawang, kentang, ubi rambat, kubis, dan kebutuhan dapur lainnya. Modalnya makin tahun makin bertambah.

Selain membuka kedai kebutuhan dapur, Saleh juga menjadi pedagang pribumi yang memelopori penjualan garam ke daerah pedalaman Sumatra Barat. Kala itu, perniagaan garam di pedalaman Sumatra Barat dikuasai oleh Kapitan Tionghoa bernama Cia Biauw yang berani membayar sewa pedati sebagai alat transportasi dengan harga tinggi. Kehadiran Saleh membuat Cia Biauw keteteran karena saingannya itu mendapatkan pedati dengan harga sewa yang rendah. Enam bulan kemudian, Cia Biauw semakin keteteran dan akhirnya mundur dari "perang garam" tersebut.

Selah juga berhasil mengalahkan Rajo Bungsu dalam produksi minyak kelapa yang dibuat oleh orang-orang Nias. Namun, mereka kemudian bekerjasama membuat minyak kelapa yang berkualitas tinggi.

Antara tahun 1872 hingga 1900, seperti dicatat Mestika Zed dalam Saudagar Pariaman: Menerjang Ombak Membangun Maskapai (2014:288-289), Saleh membeli 17 kapal kayu yang dipergunakan untuk berdagang di sekitar Sumatra Barat dan Sumatra Utara. Bisnis Saleh antara lain mengirim minyak kelapa, daun nipah, dan garam ke daratan Sumatra Barat. Selain itu, ia juga mengangkut kopra ke toko milik orang Belanda di Padang. Mestika Zed menambahkan bahwa Saleh juga menjadi anemer (pemborong) yang besar untuk orang-orang Belanda. Pada masa-masa Perang Aceh, Saleh memasok rumbia dan bambu.




Saleh tak pernah merasakan pendidikan formal. Ia hidup di zaman ketika sekolah formal tak bisa dinikmati oleh orang-orang Indonesia kebanyakan. Saleh menurut Tsuyoshi Kato dalam Rantau Pariaman, Dunia Saudagar Pesisir Minangkabau Abad XIX yang dihimpun dalam buku Indonesia dalam Kajian Sarjana Jepang (1986:114), “melambangkan peralihan zaman, dari zaman nahkoda ke zaman anemer (pemborong).

Peto Rajo, ayah Saleh, juga seorang pedagang kaya. Ayahnya juga berhubungan dengan para pedagang Belanda. “Hubungan Peto Raja dengan Belanda ternyata menguntungkan dalam banyak hal. Ia bisa membaca, menulis dan berhitung, namun Palember-lah yang mengajarkan padanya betapa pentingnya tata buku,” tulis Tsuyoshi Kato.

Kemajuan bisnis Saleh pada akhir abad ke-19, menurut Mestika Zed, “telah menyediakan pondasi yang kokoh untuk meningkatkan status usahanya menjadi sebuah perusahaan yang berbadan hukum sendiri.”

Berdasar akta notaris nomor 14 tanggal 13 Oktober 1901 yang dibuat di Padang dan keputusan pemerintah nomor 10 tanggal 24 Januari 1902, maka berdirilah NV Handels Maatschappij Pariaman. Kegiatan bisnisnya adalah perdagangan hasil bumi dan pelayaran. Kapal milik Saleh ini mengangkut barang dan penumpang.

Saleh wafat pada tahun 1922, atau delapan tahun setelah Riwayat Hidup dan Perasaian Saya dirilis. Maka itu, Gusti Asnan dalam Kamus Sejarah Minangkabau (2003:188) menyebut Saleh tak hanya dikenal sebagai saudagar, tapi juga penulis autobiografi angkatan pertama di Indonesia. Kerajaan bisnis Saleh kemudian tenggelam setelah dirinya meninggal.

Baca juga artikel terkait PEDAGANG atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight