tirto.id - Deden, salah satu pedagang kelapa di Pasar Rumput, Setiabudi, Jakarta Selatan, mengeluhkan banyaknya petani yang memutuskan untuk mengekspor kelapanya ketimbang menjual hasil perkebunannya tersebut kepada para pedagang domestik.
Pasalnya, keputusan ini membuat pasokan makin sulit didapat sehingga harga kelapa terpaksa dikerek naik.
“Denger-denger sih banyak yang diekspor. Buat pribumi malah (kualitas kelapa) yang jelek. Bagaimana, dong? Pabrik, sekarang banyak (kelapa yang dijual ke) pabrik, yang bagus-bagusnya (buat diekspor). Buat kami tinggal yang jelek-jelek,” ucap Deden, saat berbincang dengan Tirto, Rabu (2/4/2025).
Fenomena lebih maraknya ekspor kelapa setidaknya telah terjadi sejak tiga bulan belakangan. Hal ini pun praktis membuat pasokan kelapa untuk di jual di pedagang pengecer domestik makin minim.
Karena kondisi ini, Deden yang biasa memasok kelapa dari para petani di Lampung, beralih ke Banyuwangi, Jawa Timur. Hal ini cukup disayangkan karena kualitas kelapa asal lampung jauh lebih apik ketimbang dari Banyuwangi.
“Beda kualitas, dari Lampung lebih bagus. Kemarin Lebaran nggak ada pengiriman, jadi susah. Terus juga dari Lampung banyak yang diekspor. Jadi, makanya susah, harga mahal,” keluh Deden.
Kenaikan harga diperparah pula dengan nihilnya pengiriman dari daerah-daerah produsen kelapa seperti Lampung maupun Banyuwangi. Dengan kondisi ini, pada H+2 Lebaran 2025, Deden menawarkan kelapa yang dijual di kiosnya dengan harga Rp18 ribu untuk sebutir kelapa berukuran kecil, Rp20 ribu untuk sebutir kelapa berukuran sedang dan Rp25 ribu untuk sebutir kelapa berukuran besar.
Kenaikan harga ini diakui Deden cukup tinggi, karena saat hari biasa kelapa berukuran besar dari Lampung hanya dijual di harga Rp15 ribu per butir. Sedangkan untuk kelapa berukuran kecil dijual seharga Rp7 ribu per butir.
“Masih, harga masih (akan) naik, masih tinggi. Biasanya sampai seminggu (setelah Lebaran), (setelah) pada kirim dari Lampung, harga turun. Nunggu arus mudik (balik) yang angkut,” jelas Deden.
Menindaklanjuti kondisi ini, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Dyah Roro Esti Widya Putri, sebelumnya mengatakan akan meningkatkan koordinasi dengan satuan tugas (Satgas) Pangan untuk mencari sebab tingginya harga kelapa di pasaran. Selain itu, jika memerlukan penindakan, maka hal tersebut hanya dapat dilakukan oleh Satgas Pangan pula dan bukan Kementerian Perdagangan (Kemendag).
“Karena kebetulan kalau Kementerian Perdagangan kita kan fokusnya di Minyakita, di tepung, lalu kemudian juga gula, gula industri. (Tapi) selebihnya kami akan secara intensif (memantau). Karena yang terpenting, kan, dalam hal ini adalah bagaimana masyarakat baik-baik saja, begitu, ya dan harga juga stabil,” jelas dia, saat ditemui di acara Gelar Griya, di kediaman Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan P. Roeslani, di Jakarta Selatan, Selasa (3/4/2025).
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama