Menuju konten utama
Konflik Rusia-Ukraina Memanas

Dampak Perang Rusia-Ukraina, Komisi VII: Jangan Naikkan Harga BBM

Terkait dampak perang Rusia-Ukraina bagi Indonesia, Komisi VII DPR RI meminta pemerintah mengantisipasi kenaikan harga BBM domestik.

Dampak Perang Rusia-Ukraina, Komisi VII: Jangan Naikkan Harga BBM
Warga Ukraina yang tinggal di Jepang memegang poster dan bendera selama demonstrasi mengecam Rusia atas tindakannya di Ukraina, dekat kedutaan Rusia di Tokyo, Jepang, Rabu (23/2/2022). ANTARA FOTO/REUTERS/Issei Kato/WSJ/sad.

tirto.id - Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mendesak pemerintah mengantisipasi kenaikan harga energi domestik saat konflik Rusia-Ukraina kian memanas yang melambungkan harga komoditas gas dan minyak dunia.

"Pemerintah jangan sekedar latah dengan menaikkan harga BBM, gas LPG, dan listrik domestik. Kalau langkah ini yang diambil, maka diduga dapat memicu inflasi. Yang menderita adalah masyarakat luas," ujar politikus PKS tersebut dalam keterangan tertulis, Jumat (25/2/2022).

Terlebih harga LPG dan BBM non-subsidi telah mengalami kenaikan harga per Desember 2021. Kenaikan LPG berkisar Rp 1.600 - Rp 2.600 per kilogram.

Kenaikan BBM non-subsidi terjadi pada produk Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Solar.

Kenaikan harga juga terjadi untuk komoditas minyak goreng, kedelai dan daging sapi. Sementara pandemi COVID-19 masih berlangsung. Pemerintah jangan menambah beban masyarakat yang sudah berat, kata Mulyanto.

"Fraksi PKS minta Pemerintah cepat mengantisipasi berbagai kemungkinan buruk tersebut dan tidak mengambil solusi gampangnya saja dengan mengorbankan rakyat melalui cara menaikkan harga BBM, gas LPG, dan listrik domestik," tukasnya.

Dalam jangka pendek, Mulyanto mengusulkan agar Pemerintah menghidupkan kembali gerakan penghematan migas nasional. Ini penting, apalagi di tengah pandemi yang ada

"Yang sudah sangat mendesak adalah konversi pembangkit listrik tenaga diesel dengan gas atau EBT, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur. Selain itu adalah konversi gas LPG untuk keperluan rumah tangga dan industri dengan gas alam," ujarnya.

Setelah operasi militer Rusia yang digelar mulai dini hari itu, harga minyak mentah Brent diperdagangkan lebih dari 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak 2014. Setelah pasukan Rusia memulai serangan ke tetangganya tersebut, West Texas Intermediate, naik hampir 5 persen menjadi lebih dari 96 dolar AS per barel.

Harga minyak ditentukan oleh pasar global. Ketika harga minyak naik, maka berpotensi adanya kenaikan harga di pasar lokal. Dikutip dari NPR, Rusia adalah pengekspor utama minyak dan gas alam, terutama ke Eropa. Hampir 40 persen gas alam yang digunakan oleh Uni Eropa berasal dari Rusia.

"Ada premi geopolitik, atau sebut saja ketakutan, dalam harga minyak," kata Daniel Yergin wakil ketua IHS Markit kepada Morning Edition. “Ketika krisis ini semakin memburuk, maka pasokan minyak dari Rusia akan terganggu.”

Baca juga artikel terkait PERANG RUSIA UKRAINA atau tulisan lainnya dari Alfian Putra Abdi

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Maya Saputri