Daftar Desa Wisata di Indonesia untuk Healing Versi Kemenparekraf

Penulis: Yandri Daniel Damaledo - 14 Jun 2022 14:43 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Mengenal 7 desa wisata di Indonesia yang cocok untuk 'healing' versi Kemenparekraf.
tirto.id - Indonesia memiliki banyak sekali lokasi wisata alam yang bisa dikunjungi, mulai dari wisata gunung, pantai, hutan lindung, hingga desa.

Melansir Antara (13/6), Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Frans Teguh mengatakan, kekuatan pariwisata Indonesia kini berada di pedesaan.

"Kekuatan pariwisata saat ini berada di wilayah pedesaan, sehingga hal paling mendasar dan diperlukan dalam mewujudkan pariwisata berkualitas adalah standar pelayanan sebagai tuan rumah," katanya.

Ia mengatakan, karakteristik, keunikan, dan nilai-nilai lokal yang dimiliki oleh setiap kampung atau desa wisata harus tetap dipertahankan.

Dilansir dari laman resmi Kemenparekraf, saat ini pemerintah tengah mengembangkan desa wisata yang merujuk pada konsep sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan.

Sustainable tourism adalah pariwisata yang memerhatikan dampak terhadap lingkungan, sosial, budaya, serta ekonomi untuk masa kini dan masa depan, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.

Berikut ini daftar 7 desa wisata yang bisa menjadi percontohan keberhasilan dari konsep sustainable tourism dan bisa Anda dikunjungi.

Desa Ponggok (Klaten)

Desan Ponggok memiliki daya tarik dari dari 5 sumber mata air. Dulunya, air yang berlimpah hanya digunakan untuk irigasi sawah dan perkebunan saja. Namun kini masyarakat memanfaatkan sumber air tersebut sebagai destinasi wisata.

Destinasi unggulan Desa Ponggok adalah Umbul Ponggok, yang sempat viral beberapa tahun lalu. Di sini wisatawan bisa berenang, snorkeling, latihan menyelam, hingga berswafoto di bawah air.

Selain Umbul Ponggok, ada 4 sumber mata air lain yang juga menarik dikunjungi, yaitu Umbul Besuki, Umbul Sigedang, Umbul Kapilaler, dan Umbul Cokro.

Menariknya, dengan memanfaatkan potensi alam yang dimilikinya, Desa Ponggok menjadi salah satu desa terkaya di Indonesia dengan penghasil desa per tahun mencapai Rp14 Miliar.

Umbul Ponggok
Umbul Ponggok. foto/istockphoto


Desa Pujon Kidul (Malang)

Desa Pujon Kidul terletak di Kecamatan Pujon dan berjarak sekitar 30 km dari pusat Kota Malang. Lokasinya berada di dataran tinggi sehingga memiliki lingkungan sejuk dan masih asri.

Desa Pujon Kidul mengandalkan kelestarian alam sebagai konsep sustainable tourism yang ditawarkan kepada wisatawan, yaitu sektor pertanian dan peternakan.

Adapun beberapa atraksi wisata yang bisa dilakukan di Desa Pujon Kidul antara lain menanam sayuran, memetik sayuran, hingga memerah susu sapi.

Desa Wisata Pujon
Wisatawan berfoto di titik favorit yang ada di Desa Wisata Pujon Kidul, Kabupaten Malang, Sabtu, (16/2/2019). antara/(Vicki Febrianto)


Desa Kete Kesu (Toraja)

Kete Kesu merupakan desa adat yang mengusung konsep sustainable tourism dalam kategori pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung.

Atraksi wisata yang paling ikonik dari Desa Kete Kesu adalah upacara adat rambu solo, dan kuburan di tebing batu yang ditaksir telah berusia 500 tahun.

Selain itu, wisatawan juga bisa melihat rumah adat tongkonan yang berjajar rapi di Desa Kete Kesu. Konon, rumah-rumah adat ini telah berusia lebih dari 300 tahun.

Selain dari segi peninggalan, desa ini juga terkenal sebagai penghasil kerajinan pahat hingga lukis.

Desa Kete Susu
Desa Kete Susu. Wikimedia commons/free/Cahyo Ramadhani



Desa Pentingsari (Yogyakarta)


Desa wisata Pentingsari telah dikenal internasional sebagai salah satu desa wisata dengan segudang penghargaan. Salah satu yang cukup menarik, Desa Pentingsari masuk dalam 100 besar destinasi berkelanjutan versi Global Green Destinations Days (GGDD).

Desa wisata Pentingsari tergolong sebagai desa wisata dengan konsep sustainable tourism dari kategori pelestarian lingkungan. Keseharian masyarakat yang berdampingan dengan alam menjadi daya tarik desa wisata ini.

Kegiatan tersebut seperti membajak sawah, menanam padi, menangkap ikan, hingga belajar membuat tempe bisa kita coba lakukan di Desa Pentingsari.

Dewi Pentingsari
Dewi Pentingsari. foto/https://desawisatapentingsari.com/




Kampung Blekok (Situbondo)

Terpilih sebagai finalis Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, nama Kampung Blekok kian ramai diperbincangkan. Selain menjadi rumah bagi penduduk, desa wisata ini juga menjadi rumah bagi berbagai jenis tanaman mangrove dan ribuan burung.

Bertujuan untuk melestarikan burung blekok yang hampir punah, masyarakat setempat membuat penangkaran burung di desa wisata ini. Wisatawan yang berkunjung ke desa ini dapat ikut serta dalam kegiatan penangkaran, memberi makan burung, hingga merawat burung yang sedang sakit.

Ilustrasi kampung Blekok Situbondo
Ilustrasi kampung Blekok Situbondo. foto/istockphoto


Desa Umbulharjo (Yogyakarta)

Dalam upaya pengembangan desa wisata peran generasi muda yang kreatif adalah salah satu kunci keberhasilan. Hal ini terbukti di Desa Umbulharjo, Yogyakarta. Berangkat dari keresahan pemuda karang taruna desa atas irigasi yang terkesan kumuh tercetus ide kreatif.

Inovasi yang diberikan adalah mengubah irigasi desa menjadi tempat budidaya ikan nila. Selain bermanfaat untuk ketahanan pangan, budidaya ikan nila di saluran irigasi juga menjadi salah satu daya tarik wisata di Desa Umbulharjo hingga viral di media sosial.

Itulah tujuh desa wisata yang sukses berkembang dengan mengusung konsep sustainable tourism. Harapannya desa wisata tersebut bisa menjadi inspirasi bagi banyak desa wisata lain di Indonesia untuk terus berinovasi dalam pariwisata berkelanjutan.

Ilustrasi Desa
Ilustrasi Desa. foto/istockphoto


Desa Penglipuran (Bali)

Desa Penglipuran masuk dalam 100 besar Destinasi Berkelanjutan versi GGDD. Bahkan, desa wisata yang terletak di Bangli, Bali ini dinobatkan sebagai "Desa Terbersih di dunia".

Kesadaran menjaga kelestarian lingkungan di Desa Penglipuran lahir dari aturan adat desa. Salah satu aturan yang menarik adalah larangan menggunakan kendaraan bermotor pada area desa. Tujuannya adalah menjaga kebersihan udara di Desa Penglipuran sebagai bentuk pelestarian lingkungan.

Selain itu, aturan adat juga mengatur soal tata ruang Desa Penglipuran, yaitu konsep Tri Mandala. Tata ruang adat ini membuat Desa Penglipuran tampak lebih rapi dan tertata.

Desa Penglipuran
Desa Penglipuran. foto/istockphoto



Baca juga artikel terkait PARIWISATA atau tulisan menarik lainnya Yandri Daniel Damaledo
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Yandri Daniel Damaledo
Editor: Yantina Debora

DarkLight