Corona Membuat Paspor Tiap Negara Hampir Setara

Ilustrasi paspor COVID-19. FOTO/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 14 September 2020
Dibaca Normal 3 menit
Indonesia tidak sendirian kehilangan akses masuk tanpa visa ke puluhan negara karena COVID-19.
Mulai Senin (7/9/2020) lalu, pemerintah Malaysia menutup pintu negerinya untuk warga negara Indonesia. Penyebabnya, Malaysia menilai Indonesia gagal membendung laju penularan COVID-19. Menurut Dato' Indera Khairul Dzaimee Bin Daud, Kepala Imigrasi Negara Bagian dan Kepala Imigrasi Bandara Antar Bangsa Kuala Lumpur, Malaysia melarang masuk orang-orang yang berasal dari negara dengan lebih dari 150.000 kasus positif Corona.

Hari ini, tak sampai seminggu selepas Malaysia resmi menutup pintunya bagi WNI, jumlah kasus positif Corona di Indonesia mencapai 203.000 kasus.

Malaysia tak sendirian. Aksi blokir WNI juga dilakukan Jepang. Sebagaimana diwartakan Antara, sejak 3 April 2020 lalu, Jepang melarang warga Indonesia, atau warga asing yang sempat singgah di Indonesia, bertandang ke negeri itu. Alasannya serupa, Tokyo khawatir jika pelarangan tidak dilakukan, WNI yang bertamu ke sana akan memperbesar kemungkinan penyebaran Corona di negeir sakura.


Penutupan gerbang negara asing untuk WNI tidak hanya diberlakukan Malaysia dan Jepang. WNI kehilangan akses untuk masuk ke 26 negara di dunia tanpa visa. Sebelum Corona, paspor Indonesia dapat digunakan WNI melenggang ke 85 negara tanpa perlu mengajukan visa, kini jumlahnya hanya 59 negara.

Namun, melorotnya kekuatan paspor dan pelarangan masuk ke suatu negara tidak hanya berlaku pada Indonesia, tetapi hampir setiap negara di dunia, termasuk Amerika Serikat.

Ketika Corona Membuat Setiap Paspor (Hampir) Setara

Vincent Rajkumar, dosen kedokteran yang tinggal di Minnesota, Amerika Serikat, pindah kewarganegaraan dari India menjadi Amerika Serikat 15 tahun silam. Sebagaimana dikisahkan Megan Specia untuk The New York Times, perubahan status kewarganegaraan itu sukses membuka pintu-pintu yang sulit diakses ketika Rajkumar menggenggam paspor India. Hingga awal 2020, paspor AS termasuk yang perkasa di dunia. Kala itu, pemegang paspor AS dapat melenggang mulus tanpa visa ke 171 dari 193 negara di dunia. Bandingkan dengan paspor negeri asal Rajkumar yang hanya dapat masuk tanpa memerlukan visa ke 71 negara.

Ketika berkunjung ke Australia Januari lalu dan melihat petugas imigrasi menginterogasi warga negara Cina, Rajkumar berkata, “Saya ingat peristiwa itu dan berpikir, ‘wow, betapa beruntungnya saya memiliki paspor AS, kejadian orang itu (yang diinterogasi bertubi-tubi) tidak akan menimpa saya.”

Dimitry Kochenov, salah seorang penggagas The Quality of Nationality Index, mengatakan kepada New York Times bahwa “kewarganegaraan adalah salah satu faktor utama di balik munculnya ketimpangan global saat ini. Jadi, tentu saja paspor AS selalu menjadi simbol privilese top ini.”

Mathias Czaika, dalam studi berjudul “The Global Evolution of Travel Visa Regimes” (2018) menyebut visa dan paspor sebagai instrumen utama negara modern untuk mengendalikan pergerakan penduduk.

Sejak abad ke-16 hingga 18, negara-negara dunia melihat populasi sebagai sumber daya ekonomi yang berharga, yakni calon rekrutan pasukan militer. Namun, penyebaran kapitalisme modern dan nasionalisme mendorong negara-negara modern mengejar homogenitas etnis dan budaya. Keinginan untuk mempercepat pertumbuhan penduduk telah menurunkan pentingnya ukuran populasi bagi negara. Ini memicu lahirnya “exit revolution” sejak abad ke-19. Negara kemudian beralih dari pengendalian emigrasi ke imigrasi.

Kini visa lebih digunakan untuk mencegah masuknya calon pencari suaka, pencari pekerjaan, atau untuk mencegah kriminal masuk ke suatu negara. Akibatnya, seperti yang disebut Czaika, visa menciptakan kesenjangan, khususnya antara negara-negara global north yang kaya dengan negara-negara global south yang miskin.

Sialnya, Corona menerjang dunia. Kesialan berikutnya: AS yang kini menjadi negeri Rajkumar dipimpin Donald Trump. Sebagaimana para pengambil kebijakan di Indonesia, ketika Corona belum terlihat berdampak pada sekitar awal tahun 2020, Trump percaya COVID-19 tidak berbeda jauh Hengan flu biasa. Ia mengatakan bahwa Corona adalah hoaks. Dengan modal firasat, ia menyatakan korban tewas akibat Corona jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang dipaparkan para ahli.

Ketika COVID-19 mulai menampakkan diri sebagai ancaman serius, Trump menunjuk Mike Pence sebagai ketua gugus tugas pembasmian Corona. Namun, belakangan Trump mengangkat Jared Kushner, seorang tuan tanah picik dan menantunya, untuk menghalau penyebaran COVID-19 AS.

Yang dilakukan Jared? Konsultasi dengan dokter keluarga Trump. Yang dilakukan sang dokter? Mengumpulkan pendapat sebanyak-banyaknya orang tentang COVID-19 dari akun Facebook miliknya.

Akibat kegoblokan Trump, hingga saat ini terdapat 6,35 juta kasus positif Corona di AS, menjadikannya salah satu negeri terparah terpapar Corona. Karena kegagalan ini banyak negara di dunia memblokir warga negara AS berkunjung.

Di awal kemunculan Corona, Uni Eropa menutup perbatasannya untuk dilintasi warga negara manapun. Ketika kasus Corona mulai menyusut di negara-negara Uni Eropa, The New York Times melaporkan Uni Eropa berencana membuka kembali perbatasannya Juni lalu. Meski demikian, warga AS tetap dilarang masuk.

Dalam analisis yang dilakukan Quartz, Youyou Zhou melaporkan kekuatan paspor AS melemah semenjak Corona menerjang. Hingga 2 September 2020, paspor AS hanya dapat digunakan berkunjung ke 86 negara tanpa memerlukan visa.

Lagi-lagi, ketidakbecusan menangani Corona bukan hanya milik pemerintah Indonesia maupun AS, sehingga banyak negara menutup wilayahnya dari orang asing. Kekuatan paspor hampir semua negara di dunia pun melempem. Portugal dan Rumania kehilangan akses tanpa visa ke 51 negara. Lalu, Jerman, Spanyol, dan Belanda kehilangan akses ke 50 negara. Berikutnya, Inggris, yang dalam sejarahnya tercatat pernah menguasai sekitar ⅔ dunia, kehilangan akses bebas ke 48 negara.

Rata-rata, paspor milik berbagai negara di dunia kehilangan kekuatannya sekitar 33 persen.



Walhasil, visa dan paspor tidak hanya berguna untuk membendung migrasi orang-orang dari negara miskin ke negara kaya. Fungsinya kini bertambah: membendung orang dari negeri yang tak gagal menangani Corona ke negeri yang beres mengurus Corona.

Masalahnya, jika melihat lebih dalam analisis yang dilakukan Quartz, negara-negara yang termasuk cukup baik menangani Corona juga terkena dampak kehilangan akses yang relatif tinggi. Singapura, misalnya. Sejak Corona mengobrak-abrik dunia, negeri “noktah merah” itu kehilangan akses bebas visa ke 84 negara, menjadikannya salah satu negara yang paling banyak kehilangan kekuatan paspor.

Namun, untuk masalah Singapura, ada satu alasan yang cukup bisa dimengerti mengapa negara yang termasuk cukup baik menangani Corona ini bisa diblokir banyak negara. Singapura, via Bandara Changi, adalah hub atau jembatan dunia. Guilherme Lohmann, dalam “From Hub To Tourist Destination: An Explorative Study of Singapore and Dubai’s Aviation-Based Transformation” (2009) menyebut bandara yang mulai beroperasi sejak 1981 ini termasuk yang tersibuk di dunia. Setiap tahunnya, Changi melayani sekitar 64 juta penumpang, dengan lebih dari 7.000 penerbangan per pekan. Bukan hanya sibuk, Changi memungkinkan setiap orang pergi ke 380 kota di 100 negara.


Changi, singkat cerita, menjadi bandara penghubung antara Barat dan Timur Tengah dengan kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara, Australia, hingga Pasifik. Bahkan, jika Anda berencana liburan ke Papua Nugini, Anda harus menerima kenyataan tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Port Moresby. Anda harus singgah dulu di Singapura. Ironisnya, Papua Nugini berbatasan langsung dengan Indonesia.

Status sebagai hub ini pun menyebabkan warga negara Uni Emirat Arab kehilangan akses bebas ke 81 negara di dunia setelah pandemi.

Corona, singkat kata, membuat kekuatan paspor setara, entah yang dimiliki global north maupun global south. Setidaknya hampir setara.

Baca juga artikel terkait PASPOR atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight