Corona Gelombang Dua Korsel saat Social Distancing Dilonggarkan

Ilustrai masker bergambar bendera korea. FOTO/iStockphoto
Oleh: Ahmad Zaenudin - 20 Mei 2020
Dibaca Normal 5 menit
Negara-negara di dunia mulai memikirkan untuk melakukan reopening.
“Tesla kembali memproduksi (mobil) hari ini dengan melanggar peraturan Pemerintah Kabupaten Alameda,” ucap Elon Musk, Pemimpin Eksekutif Tesla (sekaligus SpaceX dan The Boring Company), melalui akun Twitter pribadinya, @elonmusk. “Saya akan bergabung dengan yang lain (untuk kembali bekerja). Jika ada yang ditangkap (karena Tesla membangkang pemerintah), saya minta itu adalah saya seorang.”

Elon Musk, eks-bos PayPal sekaligus sosok yang kerap dianggap sebagai “real life Tony Stark”, tak pernah bosan bikin ulah terkait pandemi COVID-19. Pada 6 Maret lalu, misalnya, Musk menyebut bahwa kepanikan atas munculnya SARS-CoV-2, virus di balik COVID-19 baik oleh pemerintah maupun masyarakat adalah kebodohan. Dua hari berselang, Musk meyakini data korban jiwa karena virus Corona “dilebih-lebihkan”.

California, negara bagian yang menaungi Kabupaten Alameda, adalah wilayah pertama di Amerika Serikat yang menerapkan kebijakan karantina wilayah (lockdown) untuk membendung penyebaran SARS-CoV-2. Lewat peraturan yang ditandatangani Kepala Biro Kesehatan Alameda Dr. Erica Pan Alameda memerintahkan warganya tinggal di rumah alias mengkarantina diri pada 16 Maret silam. Tesla, yang berkantor pusat dan memiliki pabrik di sana, terpaksa manut. Sehari berselang, karena Tesla dianggap bukan “bisnis esensial” tetapi “dapat beroperasi dalam kapasitas minimum”, Musk menyatakan jumlah karyawan Tesla yang bekerja telah dikurangi menjadi 25.000 orang.

Tapi Musk tidak sabar. Baginya, pesanan 535 ribu unit Cybertruck (belum memperhitungkan seri-seri lain) teramat sayang untuk dilewatkan. Terlebih, hampir dua bulan selepas Alameda memerintahkan lockdown, Gavin Newsom, Gubernur California, merilis pedoman bagi perusahaan yang hendak beraktivitas kembali di tengah Corona. Tak ketinggalan, Donald Trump, pemeran figuran Home Alone 2 sekaligus pemeran utama presiden AS, bahkan menyatakan pabrik Tesla “dapat beroperasi kembali dengan cepat dan aman”.

Menurut Musk, pernyataan Trump merupakan izin bagi perusahaan-perusahaan yang ada di California, termasuk Tesla, untuk kembali beroperasi. Sayangnya, Alameda berkehendak lain. Kabupaten itu menginginkan lockdown tetap diberlakukan. Musk geram. Sebagai perusahaan yang memberikan 10.000 lapangan pekerjaan bagi warga Alameda, ia kemudian menuntut Pemerintah Kabupaten Alameda atas aturan lockdown yang masih diberlakukan dan mengancam memindahkan pabriknya, entah ke Texas atau Las Vegas, yang kebetulan ditanggapi positif nan serius oleh pejabat tinggi di dua wilayah itu.

Dalam salah satu twitnya yang menentang diberlakukannya lockdown di AS, Musk menyatakan “Bebaskan Amerika sekarang!”. Di twit lain: “Apakah ini negeri orang merdeka dan rumah pemberani?”

Ingin Beraktivitas dalam Ketiadaan Vaksin

Melansir data dari Johns Hopkins University per 12 Mei 2020, sejak SARS-CoV-2 muncul, lebih dari 4,2 juta jiwa di seluruh dunia terinfeksi Corona, dengan 289.932 di antaranya menjadi korban jiwa. Amerika Serikat, tanah yang diinjak Elon Musk, menjadi salah satu negara yang terparah terpapar Corona, dengan hampir 1,4 juta warganya terinfeksi.

Laporan WHO tentang perkembangan vaksin Corona yang berjudul “Landscape of COVID-19 Candidate Vaccines” (April 2020) menyebutkan setidaknya delapan kandidat vaksin pembebas umat manusia dari serangan COVID-19. Sayangnya, sebagaimana tertuang dalam judul laporan itu, delapan vaksin masih sebatas “kandidat”. Perlu waktu yang tidak sebentar membuatnya benar-benar menjadi penawar yang dapat diandalkan. Vaksin mRNA-1273 yang digagas AS, misalnya, kemungkinan baru dapat dimanfaatkan setelah 20 September 2021. Vaksin ChAdOx1 yang dikembangkan Oxford University diperkirakan baru usai dikembangkan selepas Mei 2021.

Saat ini, cara terbaik untuk terhindar dari COVID-19 ialah memanfaatkan teknik lawas bernama “social distancing” atau “physical distancing” yang telah diterapkan banyak pemerintahan di seluruh dunia, termasuk AS dan Indonesia. Akibatnya, Tesla, dan ribuan atau bahkan jutaan perusahaan di seluruh dunia, terpaksa harus tutup (atau melakukan kerja dari rumah jika memungkinkan) untuk sementara waktu.

Di AS, Corona tak hanya menyebabkan kematian 84 ribu penduduk. Sebagaimana dilaporkan Vox dalam “Why We're Seeing Mass Layoffs in The US but not The UK” (5/5/2020) Corona juga menyebabkan 1 dari 5 orang angkatan kerja AS kehilangan pekerjaan.

Melihat dampak ekonomi Corona, ketidaksabaran Musk mengaktifkan kembali aktivitas Tesla secara menyeluruh dapat dipahami. Masalahnya, lagi-lagi, belum ada obat penangkal SARS-CoV-2. Kembali membuka tempat kerja ketika vaksin belum ditemukan (dan kuantitas herd immunity di tengah masyarakat belum tercapai) kemungkinan hanya akan berakhir dengan munculnya gelombang baru infeksi Corona, yang telah dibuktikan Korea Selatan.

Coronavirus Season 2: Tangisan Drama Korea Terbaru

Korea Selatan termasuk negara pertama di dunia yang terpapar SARS-CoV-2. Negeri di sebelah selatan semenanjung Korea ini melaporkan kasus Corona pertama pada 20 Januari, sehari dan hampir 1,5 bulan sebelum Pemerintah AS dan Pemerintah Indonesia melaporkan adanya Corona di negeri masing-masing.

Dalam laporannya untuk Vox, Alex Ward menyebut negeri Kpop ini langsung bergerak cepat ketika virus mulai masuk. “Pemerintah Korea Selatan mengadakan tes deteksi Corona secara agresif, memetakan pihak-pihak yang diduga telah terpapar, dan melakukan serangkaian isolasi wilayah,” tulis Ward.

Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chang-Beom, sebagaimana dilansir Antara, menyebut Korea Selatan sangat agresif melakukan tes deteksi Corona. Klaimnya, “kami bisa melakukan sebanyak 20.000 tes per hari.” Salah satu teknik yang dilakukan ialah dengan metode drive-through yang memungkinkan masyarakat yang hendak dites Corona tak perlu turun dari kendaraan masing-masing. Selain itu, Kim menyatakan Korea Selatan melakukan tracing yang tak kalah agresif dengan menelusuri rekam transaksi kartu kredit, rekaman kamera CCTV, rekam jejak aplikasi telepon genggam, hingga rekam jejak GPS mobil dari warga yang dikonfirmasi positif terjangkit virus Corona.

“Deteksi awal dan perawatan intensif pada fase awal sebagai kunci,” tegas Kim.

Rekam jejak pelacakan Corona menunjukkan, tanggal 1 Maret, atau 40 hari selepas deteksi pertama diketahui, Korea Selatan berada di titik tertinggi kasus baru Corona. Saat itu, 1.062 warga Korea dinyatakan positif terinfeksi Corona.

Sebagaimana dilaporkan Laura Smith-Spark untuk CNN, pemerintah Korea Selatan memang tidak melakukan lockdown, melainkan strict social distancing pada 22 Maret lalu. Mirip kebijakan lockdown, segala aktivitas non-esensial dan kumpul-kumpul dilarang dilakukan ketika strict social distancing diberlakukan. Hasilnya, selepas mencapai 104 kasus baru pada tanggal 25 Maret, Korea Selatan tidak pernah lagi memperoleh kasus baru melebihi angka 100.


Akhirnya, pada 5 Mei, infeksi Corona di tengah masyarakat Korea Selatan sukses diredam ke titik terendah: hanya dua kasus baru. Sehari berselang, pemerintah mengendurkan strict social distancing, mengubahnya menjadi distancing in daily life. Korea Selatan secara sederhana kembali membuka ekonomi selepas dihantam Corona.

Sialnya, sebagaimana dilaporkan Yonhap News, pada hari yang sama, seorang pria berusia 29 tahun yang mengunjungi beberapa tempat hiburan malam di distrik Itaewon divonis positif terinfeksi Corona tanpa menunjukkan gejala apapun. Masalahnya, di klub-klub hiburan itu diperkirakan dihadiri hampir 2.000 orang ketika sang pria masuk.

Pada 11 April, 54 orang warga Korea Selatan divonis positif Corona, dengan 43 orang di antaranya secara langsung menghadiri klub hiburan malam di Itaewon, dan 11 lainnya adalah anggota keluarga dari si pengunjung. Sebanyak 54 orang yang divonis positif Corona itu berasal dari berbagai wilayah yang berjauhan di Korea Selatan, yakni 30 dari Seoul, 14 dari Gyeonggi, enam dari Incheon, dua dari Chungcheong, dan masing-masing satu kasus dari Busan dan Jeju.

Akibatnya, selepas pelonggaran strict social distancing dilakukan, kini Korea Selatan menghadapi gelombang “coronavirus season 2.” Park Won-soon, Walikota Seoul, menyebut bahwa “kecerobohan menyebabkan ledakan infeksi.”

Kunci Sukses Jerman: Angela Merkel Seorang Ilmuwan

Melonggarkan kebijakan lockdown, strict social distancing, PSBB, atau apapun namanya tidak hanya dilakukan Korea Selatan. Jerman pun melakukannya, tetapi dengan pendekatan yang berbeda, dan tampaknya terlihat lebih sukses.

Sebagaimana diwartakan Deutsche Welle, virus Corona masuk ke Jerman pada 27 Januari, menginfeksi seseorang yang tinggal di Munich, Bavaria. Lebih dari sebulan berselang, tepatnya pada 5 Maret, kasus baru infeksi Corona di Jerman menyentuh angka 109, dan berangsur-angsur jumlah pasien baru terus meningkat. Akibatnya, pada 22 Maret, Jerman memberlakukan karantina wilayah dan memaksa segala kegiatan non-esensial dihentikan.

Senadi dengan Korea Selatan, Jerman dianggap sigap menangani Corona, karena, menurut Jen Kirby dalam laporannya untuk Vox, melakukan pendekatan “hati-hati” nan agresif. Ketika Corona mulai menghantam Jerman, pemerintah setidaknya melakukan 350.000 tes Corona setiap minggu, menjadikan Jerman sebagai salah satu negeri yang paling banyak melakukan tes. Dengan jumlah penduduk melebihi angka 80 juta jiwa, Jerman mendeteksi bahwa sekitar 163 ribu warganya terinfeksi Corona, dan 6.600 di antaranya harus kehilangan nyawa.



Jumlahnya memang terhitung besar. Tapi, coba bandingkan dengan Perancis dan Italia. Di titik bersamaan, kematian akibat Corona di Perancis dan Italia mencapai angka 167 ribu dan 223 ribu jiwa, padahal total penduduk masing-masing kalah jauh dibandingkan Jerman.

Dalam paparannya di The Atlantic, Saskia Miller menyatakan salah satu faktor kesuksesan Jerman menanggulangi Corona adalah kanselir mereka sendiri, Angela Merkel, yang selain bertindak sebagai tokoh politik juga merupakan ilmuwan kimia kuantum sebelum terjun ke politik.


Dalam tiap langkah penanggulangan Corona yang diberlakukan Jerman, Merkel selalu menerapkan kebijakan rasional yang berpijak pada data dan penelitian ilmiah. Pemerintahan di bawah kendali Merkel memberlakukan “sistem yang terkoordinasi dengan baik dengan kalangan ilmiah”. Merkel, sebut Miller, merupakan sosok “analitik, tidak emosional, dan berhati-hati”. Inilah kunci sukses melahirkan kebijakan yang tepat untuk menanggulangi Corona.

Di bawah kendali Merkel, Jerman termasuk negara pertama yang melonggarkan lockdown. Tepatnya melakukan pelonggaran karantina secara bertahap. Pada 20 April, Jerman mengizinkan toko-toko kecil yang berukuran kurang dari 800 meter persegi dibuka. Pada 4 Mei, Jerman mengizinkan taman, museum, dan tempat ibadah dikunjungi kembali oleh warganya. Akhirnya, pada 11 Mei, Jerman kembali membuka sekolah.

Namun, hingga 31 Agustus kelak, taman kanak-kanak, restoran, kafe, tempat hiburan malam, hingga acara kumpul-kumpul apapun tetap dilarang.

Jerman mengevaluasi perkembangan kebijakan dan kasus Corona setiap 2 minggu sekali.

Dengan pelonggaran perlahan, tidak ada peningkatan atau pengurangan yang sangat signifikan jika melihat kurva infeksi Corona di Jerman.

Mengapa Jerman tidak kembali membuka ekonomi secara menyeluruh? Menurut Merkel, Jerman hari ini "sedang berdiri di atas lapisan es yang tipis”. Kecerobohan sekecil apa pun, seperti yang dilakukan seorang pria yang hadir di klub Itaewon, dapat menjadi malapetaka besar.

Baca juga artikel terkait COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf
DarkLight