tirto.id - Contoh cerita puasa Ramadhan untuk anak SD yang berkesan menjadi salah satu referensi yang dicari guru atau orang tua. Cerita Ramadhan untuk anak SD bisa menggugah keinginan anak untuk menunaikan ibadah semampu mereka.
Hukum puasa Ramadhan bagi umat Islam yang sudah balig adalah wajib, seperti tertera juga di dalam surah Al-Baqarah ayat 183. Adapun anak-anak baru belajar mengenal dan membiasakan diri untuk berpuasa.
Berbagai sekolah akan mengadakan kegiatan yang berkaitan dengan nuansa bulan suci, seperti buku kegiatan Ramadhan, pawai Ramadhan, pesantren kilat, dan tugas seputar Ramadhan. Salah satunya adalah tugas membuat cerita pengalaman puasa ramadhan singkat.
Contoh Cerita Puasa Ramadhan Anak SD yang Menarik
Tugas membuat cerita Ramadhan secara tidak langsung bisa mengajak siswa untuk lebih menyadari pengalamannya berpuasa. Selain itu, cerita puasa Ramadhan untuk anak SD juga mengandung unsur edukasi.
Setiap siswa tentu akan membuat cerita pengalaman puasa Ramadhan singkat yang berbeda-beda. Dengan demikian, mereka dapat saling mengetahui hal yang berkesan satu sama lain.
Cerita puasa Ramadhan untuk anak SD yang berkesan juga bisa menjadi upaya dokumentasi pengalaman. Jika tidak menulis cerita tentang puasa Ramadhan, ada kemungkinan anak-anak akan lupa dengan apa yang sudah dijalankan.
Contoh cerita puasa Ramadhan untuk anak SD yang menarik dapat menjadi gambaran dalam menyusun penulisan cerita. Berikut ini 3 contoh cerita Ramadhan untuk anak SD.
1. Contoh Cerita Puasa Ramadhan untuk Anak SD 1
Halo, teman-teman. Nama saya Alesha Anindya Azka dari kelas 3A. Alhamdulillah kita bertemu lagi di kelas. Teman-teman masih semangat kan di tengah puasa Ramadhan?Nah, kali ini saya akan membagikan cerita puasa Ramadhan yang berkesan dan menarik. Teman-teman puasa kan hari ini? Wah, insya Allah semuanya berpuasa ya. Semoga kuat sampai Magrib nanti.
Teman-teman, saya mau bercerita tentang pengalaman belajar puasa saya. Jujur saja, saya pertama kali belajar berpuasa itu waktu kelas 1 SD. Saat itu rasanya berat sekali. Apalagi dua adik saya masih kecil-kecil jadi mereka tidak berpuasa. Saat melihat mereka makan atau minum, aduh rasanya ingin juga makan dan minum.
Pertama kali puasa rasanya lemas, inginnya makan dan minum. Umma saya bilang tidak apa-apa kalau mau puasa beduk, tapi saya ingin bertekad puasa sehari penuh. Jadi, saya berusaha menahan lapar dan haus.
Teman-teman ingat kan dulu waktu kelas 1, kita pulang jam berapa saat sekolah? Ya, betul sekali jam 11 siang. Wah itu panas terik sekali. Saat dijemput dari sekolah selama perjalanan itu rasanya kering dan lemas. Begitu sampai rumah, Umma tahu kalau saya sangat lemas. Umma terus mengatakan tidak apa-apa jika mau berbuka saat azan Zuhur.
Umma melihat saya sangat lemas dan saya juga merasa sangat lemas. Setelah berkali-kali dibujuk dan saya juga merasa tidak sanggup, akhirnya saya buka puasa di waktu Zuhur, teman-teman ada juga yang puasa beduk dulu saat kelas 1?
Setelah selesai berbuka Zuhur, saya melanjutkan puasa Ramadhan dengan lebih segar. Alhamdulillah saya sampai juga berbuka pada waktu Magrib. Hari-hari setelahnya, alhamdulillah saya bisa puasa Ramadhan sehari penuh.
Dan sampai saat ini kelas 3, saya sudah selalu puasa Ramadhan seharian penuh. Jadi bismillah teman-teman ayo kita insya Allah bisa berpuasa seharian. Kita semangat ya teman-teman karena puasa itu menahan diri dari lapar, haus, dan hal-hal yang Allah larang sejak Subuh hingga Magrib.
Selama Ramadhan, saya juga rajin ke masjid. Biasanya saat Subuh setelah sahur, saat salat Magrib, Isya, dan salat Tarawih. Saya ke masjid bersama Umma, Abba, dan adik-adik. Saya sangat senang bisa merasakan Ramadhan tahun ini bersama keluarga.
Tak lupa sore harinya saya berangkat TPQ di masjid dekat rumah. Jadwal TPQ selama bulan Ramadhan tiga kali seminggu. Jadi saya berangkat TPQ pada hari Selasa, Kamis, dan Jumat. Sangat menyenangkan bisa belajar bersama teman-teman di TPQ. Teman-teman baik sekali dan Ustazah juga baik-baik.
Itu dia teman-teman cerita puasa Ramadhan saya yang berkesan. Semoga teman-teman bisa berpuasa Ramadhan dengan lancar. Terima kasih semuanya.
Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
2. Contoh Cerita Puasa Ramadhan untuk Anak SD 2
Halo teman-teman, nama aku adalah Doni Ramadhan. Seperti yang kalian dengar, nama pemberian dari orang tua ini muncul karena aku lahir pada bulan suci Ramadhan beberapa tahun yang lalu.Berbicara mengenai bulan Ramadhan, aku punya pengalaman menarik dan berkesan saat pertama kali mencoba untuk berpuasa. Ketika pertama kali puasa, aku masih berumur 6 tahun.
Aku ingat bahwa pada saat itu ibadah salat Ashar baru saja usai. Ibu segera mengajak ayah dan aku untuk pergi ke suatu pasar tradisional di kawasan pinggiran kota.
Kendati umat Islam sedang berpuasa, wilayah tersebut tetap ramai oleh kerumunan orang-orang. Di antaranya bercampur-baur, ada pedagang takjil, pedagang sayur, pedagang buah, dan para orang yang berbelanja.
Suasana Ramadhan yang khusyuk ternyata masih meriah di pasar. Di sana, ibu membeli berbagai macam jenis sayur dan buah untuk kebutuhan berbuka puasa. Aku pun mengikutinya sambil membantu memegang beberapa belanjaan.
Panasnya cuaca beserta padatnya orang-orang saat itu membuatku cepat merasa dahaga. Kendati ingin menyerah dan minum, tetapi ibuku bilang untuk terus menahan rasa haus.
Dengan berat hati, aku yang sedang belajar puasa menuruti ibu. Di sisi lain, ayah yang mengikuti kami dari belakang hanya tersenyum mendengar berbagai keluhanku kala itu.
Setelah berbelanja, kami bertiga langsung pulang kembali ke rumah. Aku langsung membaringkan tubuhku di atas sofa ruang tamu sehingga ketiduran.
Ibu tiba-tiba membangunkan aku. Waktu sudah menunjukkan masanya azan Magrib sehingga ibu menyuruhku untuk berbuka. Aku pun menikmati es buah yang begitu nikmat untuk berbuka puasa.
3. Contoh Cerita Puasa Ramadhan untuk Anak SD 3
Namaku adalah Muhammad Andi Ramadhan. Pada kesempatan kali ini, aku akan menyampaikan cerita pengalaman puasa Ramadhan singkat yang pernah aku jalankan pada bulan suci kemarin.Bisa aku akui bahwa semua orang memiliki kisah yang menarik setiap hadirnya bulan Ramadhan. Kebetulan, aku juga punya pengalaman yang cukup berkesan saat menjalankan ibadah puasa.
Saat itu, aku baru saja pulang dari sekolah sekitar pukul 10.30. Ayah beserta ibuku langsung menjemput aku dari sekolah untuk menuju ke sebuah acara yang diselenggarakan di luar kota.
Aku yang masih memakai seragam tentu kaget dengan hal tersebut. Untungnya, mereka berdua sudah menyediakan pakaian pengganti agar aku bisa segera menanggalkan seragam ini.
Sesampainya di lokasi, ayah langsung disambut oleh beberapa orang tua dan murid-murid pesantren. Acara ini ternyata merupakan kegiatan yang digelar ayahku secara pribadi di sekolah agama tersebut.
Kami tiba di sana sekitar habis salat Ashar, kemudian langsung melaksanakan salat secara terlambat. Setelah itu, acara yang diadakan dalam rangka buka bersama Ramadhan ini langsung dimulai.
Agendanya adalah kajian dari pukul 16.00 sampai 17.20. Setelah itu, kami semua mendengarkan lantunan ayat suci sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Saya yang berasal dari sekolah umum sangat tidak familiar dengan suasana di sana. Kendati demikian, beberapa santri di sana cukup terbuka dan kerap mengajak aku berbicara.
Pengalaman yang tiba-tiba terjadi ini tentunya menjadi suatu hal yang cukup berkesan bagiku. Saat waktunya berbuka puasa, kami semua menikmati hidangan yang sudah dipersiapkan panitia acara.
Setelah itu, kami melaksanakan salat Magrib bersama.
Baca juga beragam artikel menarik dan terbaru lain seputar bulan Ramadhan selengkapnya di sini.
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Fitra Firdaus
Penyelaras: Yuda Prinada
Masuk tirto.id





































