Menuju konten utama

10 Contoh Cerita Pendek Pengalaman MPLS untuk Tugas Sekolah

Menulis pengalaman MPLS kerap menjadi tugas bagi siswa baru yang ikut kegiatan tersebut. Ada banyak sisi yang bisa diceritakan. Simak contohnya di sini.

10 Contoh Cerita Pendek Pengalaman MPLS untuk Tugas Sekolah
Ilustrasi menulis cerita. Menceritakan pengalaman MPLS dalam sebuah tulisan dapat menjadi tugas untuk siswa baru. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Para siswa baru biasanya diberikan tugas menulis cerita pengalaman MPLS yang sedang atau telah dijalaninya. Cerita pengalaman MPLS ini akan menunjukkan kesan yang mereka dapatkannya sepanjang mengikuti semua rangkaian kegiatan.

Kisah pengalaman saat MPLS dapat berupa perasaan mendapatkan teman baru, kesan terhadap lingkungan sekolah sampai interaksi mereka bersama keluarga besar sekolah seperti guru atau karyawan. Semua pengalaman tersebut adalah hal berarti siswa baru yang segera mengenyam pendidikan di sekolah.

Tugas ini lebih cocok untuk siswa baru di jenjang SMP dan SMA yang sudah lancar dalam menulis. Pengalaman MPLS SMP dan SMA dituliskan dalam selembar kertas, lalu sebagiannya dibacakan di sela-sela kegiatan pengenalan sekolah. Pengalaman MPLS SMA singkat atau di jenjang SMP ini dapat menjadikan kegiatan semakin bermakna.

Contoh Cerita Pendek Pengalaman MPLS

Setiap siswa memiliki pengalamannya masing-masing setelah mengikuti MPLS. Untuk membantu sudut pandang apa saja yang bisa diceritakan, berikut tersedia berbagai contoh pengalaman MPLS yang dapat dijadikan referensi.

1. Tidak Kuat Ikut Upacara Bendera

Saat itu saya dan teman-teman mengikuti upacara bendera di hari pertama MPLS. Udaranya cukup panas dan matahari juga makin meninggi. Di barisan kelas saya, tidak ada satu pun bangunan atau pohon yang menutupi pancaran sinar matahari.

Saya waktu itu juga belum sarapan pagi. Tubuh juga agak sedikit letih karena tidak bisa tidur semalam. Perasaan saya antara senang dan gugup karena akan memiliki sekolah dan teman-teman baru.

Tak disangka, dengan tubuh yang kurang fit dan terkena panasnya sinar matahari, akhirnya saya tidak kuat melanjutkan upacara. Badan terasa lemas. Untungnya di dekat saya ada ibu guru yang segera menolong.

Saya dibawa ke ruang UKS dan diberi minuman hangat beserta roti untuk mengganjal perut. Syukurlah setelah beristirahat 30 menit, tubuh ini kuat kembali. Saya pun bisa mengikuti kegiatan MPLS hari pertama sampai selesai.

2. Berangkat Sekolah Lebih Pagi

Ada hal yang berkesan bagi saya saat mengikuti MPLS, yaitu ketika kakak-kakak OSIS menerangkan tentang aturan di sekolah. Saya tidak menyangka aturan di sekolah ini cukup banyak. Saya agak kaget karena tidak seperti saat saya masih SMP dulu.

Contohnya, semua siswa harus datang sebelum pukul 7 pagi. Jika sampai telat maka harus menjalani hukuman terlebih dahulu. Saya rasa aturan ini adalah tantangan.

Alasannya, rumah saya cukup jauh dari sekolah. Jaraknya sekitar 10 kilometer dan harus saya tempuh dengan naik angkutan umum. Tahu sendiri, angkutan di kota ini kadang menunggu penumpang cukup lama di beberapa titik.

Akhirnya, mau tidak mau, kini saya mengubah kebiasaan waktu berangkat sekolah. Saya biasanya bangun sebelum azan subuh. Jika sebelumnya berangkat sekolah pukul 6 pagi, kini jam setengah enam sudah harus menunggu angkutan lewat depan rumah.

3. Kagum dengan Perpustakaan Sekolah

Salah satu kegiatan MPLS yang saya sukai yaitu tur sekolah. Dari situ, saya bisa tahu berbagai ruang yang dimiliki sekolah ini.

Dari berbagai sisi sekolah, saya tertarik mengamati ruang perpustakaan yang letaknya di sebelah musala. Ruangan di dalamnya cukup luas dan koleksi bukunya sangat banyak.

Sebagai orang yang sangat suka membaca, saya rasa nantinya akan sering mampir ke perpustakaan. Saya amati banyak buku bacaan sains yang menjadi bacaan kesukaan. Semoga saya makin kerasan berada di sekolah baru.

4. Belajar Tata Krama

Sisi menarik yang saya dapatkan selama ikut MPLS adalah belajar tata krama. Meski tampak sepele, namun hal itu bisa menjadi baik buruknya cerminan tingkah laku kita secara umum.

Saya baru menyadari belajar adab juga sama pentingnya dalam menuntut ilmu. Adab membuat kita menjadi orang yang lebih bijak dalam menyikapi keadaan. Misalnya ketika bertemu guru dan teman, kita saling menyapa atau memberi salam.

Ternyata, memberi salam dalam agama saya yang Islam merupakan bentuk doa. Saya suka dengan itu karena saya bisa turut mendoakan orang lain dengan cara mudah.

Contoh lainnya, saya juga diajari bagaimana bersikap empati saat melihat orang lain kesusahan, ringan tangan dalam menolong, dan sebagainya. Saya bersyukur bisa ikut MPLS. Banyak ilmu yang bisa didapatkan di kegiatan ini.

5. Keakraban MPLS

Awalnya saya memandang MPLS hanya buang waktu saja. Saya lebih suka jika masuk sekolah langsung belajar tanpa ada kegiatan pengenalan sekolah.

Anggapan saya ternyata salah. Banyak kenangan yang justru saya dapatkan dari MPLS meski hanya berlangsung selama empat hari. Perasaan saya yang semula dagdigdug saat melangkahkan kaki di sekolah ini, seketika cair begitu kegiatan MPLS dimulai.

Hal yang membuat saya suka dengan MPLS adalah keramahan dari bapak-ibu guru dan kakak-kakak OSIS yang menyambut kami di depan pintu masuk sekolah. Saya tidak menyangka para siswa baru sangat dinantikan kehadirannya.

Suasana MPLS juga tidak menegangkan. Semua siswa baru diajak belajar, bercanda, dan saling akrab. Terima kasih bapak-ibu guru dan kakak-kakak OSIS semua yang sudah membuka mata saya.

6. Teka-teki Makanan MPLS

Saya dan teman-teman mengikuti MPLS selama tiga hari. Ada banyak pengalaman tak terlupakan selama mengikuti kegiatan MPLS di sekolah ini. Salah satunya ketika mendapat tugas membawa makanan dan minuman tertentu berdasarkan teka-teki dari panitia.

Awalnya saya bingung sekali dengan teka-teki itu. Sepulang dari sekolah, salah satu teman baru saya yang bernama Tika mengajak saya diskusi dengan teman-teman lainnya. Kami kemudian berkumpul di lapangan belakang sekolah untuk sama-sama memecahkan teka-teki makanan. 

Kami saling menebak teka-teki, kadang sambil bergurau dan bertukar cerita tentang apa saja. Kami juga sempat berdebat tentang jenis makanan dengan petunjuk "snack terbang".

Saya menyebut merek makanan ringan, tapi salah satu teman yang suka bercanda bilang, "Beli saja makanan ringan, lalu lempar ke panitia."

Kami semua tertawa dan terus bercanda sambil menebak jenis makanan. Walau akhirnya ada beberapa teka-teki yang tidak berhasil dijawab, saya merasa senang karena diskusi kami seru sekali dan saya seolah menemukan keluarga baru yang menyenangkan.

7. Mencari Tanda Tangan OSIS

Kegiatan MPLS berlangsung sangat menyenangkan dan pasti akan menjadi kenangan berharga. Di hari kedua, saya dan teman-teman mendapat tugas untuk mengumpulkan tanda tangan anggota OSIS. Kami wajib mendapatkan tanda tangan ketua dan wakil ketua OSIS beserta minimal 10 anggota OSIS.

Menariknya, beberapa kakak anggota OSIS sengaja bersembunyi agar tidak dikejar-kejar oleh siswa baru. Kesulitan lainnya adalah kami belum benar-benar hafal nama maupun wajah anggota OSIS sehingga cukup susah mendapatkan tanda tangan.

Setelah agak lama, saya berhasil mendapatkan hampir semua tanda tangan yang dibutuhkan, kecuali ketua OSIS yang entah sembunyi di mana. Namun, akhirnya saya dan beberapa teman berhasil bertemu dengan ketua OSIS yang saat itu sedang ada di laboratorium.

Ketua OSIS kami bernama Dilan, persis tokoh fiksi yang terkenal dengan gombalannya. Kak Dilan pun bersedia memberikan tanda tangan, asalkan kami menjawab pertanyaannya. Saya disuruh menyebutkan nama kepala sekolah secara lengkap. Karena saya bisa menjawabnya dengan benar, saya akhirnya mendapat tanda tangan dan tugas pun selesai.

8. Bertemu Teman Lama

Mengikuti MPLS di SMA ini membuat saya bertemu dengan banyak teman-teman baru. Kami semua saling berkenalan, bertanya tentang hobi, asal sekolah, dan mengobrol tentang hal yang sama-sama kami sukai.

Tak hanya bertemu teman baru, tapi saya juga bertemu dengan teman lama. Namanya Anisa dan kami dulu pernah satu SD, tapi berbeda SMP. Saya sendiri terkejut karena ternyata kami bertemu lagi di SMA yang sama.

Saat materi ekstrakurikuler, saya sempat bertanya tentang mana yang ingin dia ikuti. Saat mengobrol inilah saya kembali terkejut karena kami memiliki minat yang sama, yaitu musik.

Saya lebih tertarik dengan vokal atau menyanyi, sedangkan Anisa pandai memainkan gitar. Pada akhirnya, kami pun sepakat untuk sama-sama mendaftar di ekskul musik.

9. Belajar dari Kesalahan

Kegiatan MPLS membuat saya belajar banyak hal, termasuk tanggung jawab. Hal ini saya pelajari ketika saya membuat kesalahan dan harus mendapat hukuman dari panitia.

Saat itu saya dan teman satu kelompok diberi tugas kelompok untuk membawa bekal dengan menu 4 sehat 5 sempurna. Namun, esoknya saya lupa membawa bekal tersebut ke sekolah. Sebenarnya saya masih punya waktu untuk kembali pulang dan mengambil bekal, tapi saya tidak peduli dan berpikir “tidak apa-apa kalau harus dihukum”.

Benar saja, saya mendapat hukuman berupa menulis esai, tapi yang membuat saya merasa sangat bersalah adalah teman satu kelompok saya juga mendapat hukuman serupa. Dari sinilah saya sadar bahwa saya terlalu egois dan tidak memikirkan dampak pada anggota kelompok lainnya.

Saya pun meminta maaf pada teman-teman. Tak hanya memaafkan, mereka bahkan menyemangati saya agar tidak terlalu sedih dan merasa bersalah. Saya jadi merasa senang memiliki teman-teman hebat seperti mereka.

10. Unjuk Kreasi dengan Teman Baru

Tiga hari mengikuti MPLS benar-benar memberikan banyak pengalaman baru. Di hari terakhir misalnya, panitia memberikan kesempatan kepada kami, siswa baru, untuk menunjukkan bakatnya.

Saya sendiri merasa pandai bermain gitar, tapi merasa malu kalau harus unjuk kebolehan di depan banyak orang. Saat itulah teman saya yang bernama Sinta menghampiri saya. Dia awalnya mengajak saya bernyanyi bersama, tapi saya bilang kalau suara saya tidak terlalu bagus.

Saya lalu punya ide, bagaimana kalau Sinta bernyanyi dan saya bermain gitar mengiringinya? Ternyata Sinta setuju. Karena kami sama-sama pencinta drama Korea, kami akhirnya sepakat menyanyikan salah satu soundtrack drakor terkenal yang berjudul Goblin.

Tak disangka, penampilan kami disambut meriah, bahkan saat saya baru memainkan intro musiknya, sebagian penonton langsung bertepuk tangan. Banyak siswa yang mengetahui lagu tersebut dan akhirnya ikut menyanyi. Pengalaman ini pun jadi salah satu yang tak terlupakan di MPLS.

Baca juga artikel terkait TIMELESS atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Yulaika Ramadhani
Penyelaras: Ilham Choirul Anwar